TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa BRIN sedang membangun jaringan fasilitas riset strategis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Di dalam jaringan tersebut terdapat reaktor nuklir, observatorium terbesar di Asia Tenggara, stasiun bumi satelit, laboratorium genomik terbaik di Asia Tenggara, hingga pusat komputasi berkinerja tinggi yang masuk jajaran Top 500 dunia.
Pemaparan tersebut disampaikan Arif saat menghadiri pertemuan bersama sekitar 150 periset BRIN di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Menurut Arif, jaringan fasilitas riset itu menjadi fondasi pengembangan teknologi dalam negeri agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan teknologinya sendiri.
"Di dalamnya terdapat reaktor nuklir, observatorium terbesar di Asia Tenggara, stasiun bumi satelit, laboratorium genomics terbaik di Asia Tenggara, pusat komputasi berperformansi tinggi yang masuk top 500 dunia, hingga fasilitas pengujian pesawat, kereta api, roket, dan teknologi kemaritiman," kata Arif.
Ia mengatakan infrastruktur riset tersebut disiapkan untuk memperkuat kemampuan riset dan penguasaan teknologi nasional sehingga Indonesia tidak bergantung pada teknologi dari negara lain.
"Infrastruktur inilah yang menjadi fondasi agar Indonesia tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi mampu mengembangkan teknologinya sendiri," ujarnya.
Baca juga: Pidato Prabowo Sejumlah Negara Ingin Punya Senjata Nuklir: Sempat Viral, Diputus di Kanal Resmi
Selain membangun jaringan fasilitas riset, Arif mengatakan BRIN terus mengembangkan teknologi nuklir dan antariksa sebagai dua bidang strategis.
Menurut dia, pengembangan kedua teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung ketahanan energi, kesehatan, pangan, serta pengawasan wilayah Indonesia.
"Ada dua teknologi yang terus kami kembangkan, yaitu nuklir dan dan antariksa sebagai pengungkit kedaulatan energi, kesehatan, pangan, hingga pengawasan wilayah," ujarnya.
Arif juga mengatakan, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo, BRIN bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) telah menyusun Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional 2026–2045 sebagai arah pembangunan ilmu pengetahuan Indonesia.
Menurut Arif, peta jalan tersebut disusun agar riset nasional selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), mendukung implementasi Asta Cita, serta berbagai program prioritas nasional.
Ia mengatakan agenda tersebut juga ditujukan agar pengembangan riset tidak lagi berjalan sendiri-sendiri di berbagai lembaga, melainkan menjadi gerakan nasional yang saling terintegrasi.
"Juga agar Indonesia tidak lagi berjalan secara sektoral dalam silo-silo kelembagaan, tetapi menjadi gerakan nasional yang terintegrasi dan saling memperkuat," pungkasnya.