BRIN Kembangkan ANG, Teknologi Pengganti LPG Impor yang Berpotensi Hemat Rp26 Triliun
Wahyu Aji August 07, 2026 05:17 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan Riset dan Teknologi (BRIN) Arif Satria mengatakan bahwa pihaknya membuat beragam inovasi untuk mengurangi ketergantungan impor LPG.

Salahsatunya dengan mengembangkan biofuel.

Hal itu disampaikan oleh Arif kepada Presiden di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, (6/8/2026).

“Dalam bidang energi, BRIN berusaha membangun kemampuan untuk mengurangi impor LPG melalui biofuel, energi dari biomassa dan limbah, energi terbarukan, baterai dan infrastruktur energi,” kata Arif.

Pihaknya kata Arif mengembangkan ANG atau Adsorbed Natural Gas yang memungkinkan gas alam domestik disimpan dalam tekanan sekitar 30 bar.

Tekanan tersebut lebih rendah dari CNG konvensional melalui teknologi Metal Organic Framework atau MOF yang ditemukan peraih Nobel 2021 yaitu Susumu Kitagawa.

“BRIN telah membangun sister-lab bersama peraih Nobel dari Jepang itu,” katanya.

Ia mengatakan berdasarkan hitungan awal, teknologi yang dikembangkan tersebut bisa menghemat Rp26 triliun per tahun yang selama ini digunakan untuk subsidi LPG.

“Berdasarkan perhitungan awal, teknologi ini mampu berpotensi menghemat hingga sekitar 26 triliun rupiah per tahun terhadap beban subsidi LPG,” katanya.

Menurutnya kelebihan ANG ini adalah daya tampung yang lebih besar. Apabila LPG 3 Kg bisa digunakan dalam 10 hari, ANG dengan pemakaian yang sama bisa digunakan dalam 15 hari.

“Satu setengah kali. Nah sekarang riset terus kita lakukan agar bisa dua kali lipat. Kalau ini diterapkan maka bisa menghemat 26 triliun per tahun terkait dengan energi ini. Nah ini riset terus kita lakukan ini sedang masih uji coba,” katanya.

Menurut Arif, Presiden sangat tertarik dengan temuan ANG ini, karena berkaitan dengan kedaulatan energi.

Presiden ingin Indonesia tidak tergantung dengan energi yang berasal dari impor di tengah kondisi geopolitik yang terus memanas.

Baca juga: BRIN Lapor ke Prabowo: Sedang Bangun Jaringan Riset, Ada Reaktor Nuklir di Dalamnya

“Jadi menghadapi dinamika geopolitik global, maka resiliensi sebuah bangsa sangat penting, dan resiliensi itu hanya bisa kita lakukan melalui terobosan teknologi untuk meningkatkan kemandirian energi,” katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.