143 Siswa dan Guru SMPN 5 Rembang Diduga Keracunan MBG 
M Syofri Kurniawan August 07, 2026 06:10 AM

TRIBUNJATENG.COM, REMBANG  – Ratusan siswa dan beberapa guru di SMPN 5 Rembang diduga mengalami keracunan massal seusai mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (5/8/2026).

Gejala penurunan kesehatan dilaporkan muncul berselang sehari setelah pendistribusian makanan di lingkungan sekolah.  

Sebelum insiden terjadi, pada Selasa (4/8/2026), pihak sekolah membagikan paket menu berisi telur balado, oseng tempe, lalapan, buah semangka, dan susu kepada total 764 penerima manfaat yang terdiri atas siswa dan guru.

Namun, keesokan harinya, gelombang absen massal terjadi akibat banyaknya warga sekolah yang mengeluhkan sakit perut dan diare akut.

Tercatat sebanyak 94 siswa terkonfirmasi izin tidak masuk sekolah, pada Rabu.  

Selain itu, terdapat 42 siswa yang sempat hadir namun terpaksa izin pulang lebih awal karena kondisi kesehatannya mendadak memburuk saat jam pelajaran berlangsung.

Total siswa yang diduga keracunan MBG mencapai 136 anak.

Dampak dugaan keracunan komunal ini juga menimpa jajaran tenaga pengajar.  

Sebanyak 7 guru dilaporkan bertumbangan dengan gejala serupa.

Pada Rabu, 2 guru izin tidak masuk sejak pagi dan 5 guru lainnya menyusul izin pulang darurat.

Kepala SMPN 5 Rembang, Menik Mustikatun, mengonfirmasi adanya kedaruratan medis yang menimpa warga sekolahnya tersebut.  

Kendati demikian, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan resmi.

"Mohon maaf, menunggu hasil cek DKK (Dinas Kesehatan Kabupaten) dari SPPG. Fakta jumlah betul, tetapi penyebab masih menunggu hasil cek dari DKK," ujar Menik, Rabu (5/8/2026).

Tinjau sekolah

Person in Charge (PIC) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) jenjang SMP yang juga Kepala Bidang SMP Dindikpora Rembang, Ngadiyono mengungkapkan, dari total 709 siswa di SMPN 5 tersebut, sebanyak 136 anak terdampak diare.

"Berarti yang 573 aman," kata Ngadiyono.

Ia menjelaskan, laporan awal mulai diterima Dindikpora, pada pukul 09.00, seusai dihubungi langsung oleh kepala SMPN 5 Rembang.

Tim Dindikpora kemudian meninjau lokasi sekolah, pada pukul 12.00, untuk mengumpulkan data riil di lapangan.

Berdasarkan pendataan sekolah, gelombang absensi siswa akibat diare tercatat 94 anak yang tidak masuk sekolah, terdiri atas 31 siswa kelas VII, 25 siswa kelas VIII, dan 38 siswa kelas IX.

Selain siswa yang absen sejak pagi, sebanyak 42 siswa yang hadir di sekolah juga mendadak mengeluhkan diare saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Tidak hanya murid, dampak diare ini juga menimpa jajaran guru dan staf sekolah.

Ngadiyono menyebutkan, ada 7 guru serta 4 tenaga administrasi sekolah (TU) yang mengalami gejala serupa.

Menanggapi situasi darurat medis tersebut, pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan Puskesmas dan DKK Rembang untuk melakukan penanganan di lokasi.

"Dari Puskesmas dan tim DKK turun. Dari 42 siswa yang mengeluh sakit di sekolah, setelah dicek di UKS tensinya normal, dan ada 6 murid yang suhunya tinggi," papar Ngadiyono.

“Siswa yang mengalami sakit di sekolah langsung dipulangkan setelah orang tua mereka dihubungi untuk melakukan penjemputan,” sambungnya. 

Ngadiyono menegaskan, hingga saat ini tidak ada laporan siswa yang dirawat inap di Puskesmas maupun rumah sakit.

Mengenai paket makanan yang dikonsumsi warga sekolah, makanan tersebut disuplai dari dapur Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Mondoteko 3.  

Kendati demikian, Dindikpora meminta semua pihak untuk tidak berspekulasi dan tidak berburuk sangka sebelum keluar hasil resmi penelusuran laboratorium dari DKK yang saat ini sedang melakukan sidak di dapur SPPG.

"Kami belum tahu penyebabnya seperti apa, apakah dari MBG atau apa kami belum tahu, belum berani menyimpulkan. Kami masih menunggu hasil dari Dinas Kesehatan yang ngecek di dapur," tegas Ngadiyono.

Sidak SPPG

Menanggapi insiden tersebut, Rabu lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang bergerak cepat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SPPG Mondoteko 3 Rembang.

Tim Dinkes Rembang memeriksa secara menyeluruh proses pengolahan di dapur SPPG Mondoteko 3, mulai dari ketersediaan bahan baku hingga proses memasak.

"Hari ini tugas kami melihat secara keseluruhan, mulai dari bahan sampai proses, kemudian bagaimana itu kita lihat semua," kata Subkoordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Kesehatan Olahraga Dinkes Rembang, Al Furqon.

Dalam sidak tersebut, petugas mengamankan sejumlah sampel makanan dan air minum untuk diuji laboratorium di Semarang.  

Hasil pengujian laboratorium diperkirakan baru keluar dalam kurun waktu satu hingga dua pekan ke depan.

Meski belum bisa menyimpulkan pemicu pasti keracunan, Dinkes Rembang mengantongi sejumlah catatan merah dari hasil inspeksi.  

Salah satunya terkait tingkat kedisiplinan relawan dapur serta tata cara penyimpanan bahan makanan yang dinilai masih kurang aman.

Atas temuan tersebut, Dinkes meminta pengelola SPPG untuk memperketat Standar Operasional Prosedur (SOP), mulai dari kewajiban mencuci tangan, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker dan penutup kepala, hingga pembatasan akses bagi pihak luar.

"Saya sudah memberikan saran ke SPPG-nya untuk selalu mengingatkan para relawan melakukan SOP yang diharapkan. Jadi tamu luar dilarang masuk tanpa baju pelindung khusus demi menjaga higienitas makanan," tegas Al Furqon.

Dindikpora Kabupaten Rembang menyatakan saat ini masih menunggu hasil investigasi dari Dinkes Rembang terkait pemicu pasti dari insiden tersebut. (Mazka Hauzan Naufal)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.