Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) belum menemukan investor yang mau mengembangkan energi baru terbarukan (EBT) dari sampah, meski sudah ada beberapa yang datang untuk melakukan penjajakan.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, Irnadi Kusuma mengatakan, semua investor yang datang untuk melakukan penjajakan tersebut terkendala volume sampah yang dihasilkan setiap harinya.
"Banyak sekali yang datang (Investor). Cuman kan kita belum bisa memenuhi standar yang mereka memang sudah tetapkan," kata Irnadi, Kamis (6/8/2026).
Ia mengatakan sudah ada empat investor yang datang untuk mencoba mengembangkan EBT dari sampah, syarat volume sampah yang dibutuhkan juga berbeda-beda. Namun dari semua itu belum ada persyaratan volume sampah yang mendekati produksi di NTB.
"Kalau yang menjajah itu banyak sekali, ada lebih dari 4 investor. Betul, kapasitas kita yang masih belum memenuhi," ujarnya.
Salah satu tempat pembuangan akhir (TPA) yang disiapkan untuk pengembangan EBT ini yaitu TPA Kebon Kongok, meskipun produksi sampah setiap harinya hanya 300-400 ton. Sementara syarat untuk bisa mengembangkan teknologi tersebut minimal 1.000 ton perhari.
Baca juga: TGB Soroti Meninggalnya Pasien BPJS, Ajak Semua Pihak Berbenah dan Tingkatkan Empati
Kendati demikian Pemerintah Provinsi NTB, terus mengupayakan agar pengembangan EBT dari sampah ini bisa dilakukan. Sebagai solusi dari permasalahan sampah yang dihadapi Kota Mataram dan Lombok Barat.
Untuk saat ini skema pengolahan sampah yang dilakukan di TPA Kebon Kongok menggunakan model buang-timbun, akibatnya landfill yang ada disana cepat penuh dan memerlukan perluasan lagi.
(*)