Laporan Wartawan Tribun-Papua.com, Putri Nurjannah Kurita
TRIBUN-PAPUA.COM, SENTANI - Keluhan keras dan kritik disampaikan oleh orang tua siswa kepada Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Mayjen TNI Trenggono, serta Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Ribka Haluk. Momen tersebut terjadi saat kedua pejabat meninjau korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di RSUD Yowari, Kamis (6/8/2026).
Kedua pejabat tersebut didampingi Bupati Jayapura Yunus Wonda, Direktur RSUD Yowari, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura Anton Mote.
Adapun protes tersebut dilayangkan oleh Yeremias Demetouw, orang tua dari Mathias Demetouw, siswa kelas VI SD YPK Wambena, Distrik Depapre. Mathias harus menjalani perawatan medis di RSUD Yowari selama tiga hari setelah mengonsumsi menu MBG di sekolahnya.
Baca juga: Mengenal Dua Pijakan Sejarah Agama di Papua: Islam di Fakfak 1360, Injil di Mansinam 1855
Atas insiden yang menimpa 527 orang hingga mengalami muntah, mual dan diare tersebut, Yeremias mendesak pemerintah menghentikan program MBG, khususnya di wilayah Tanah Merah, Kabupaten Jayapura.
"Jujur saya sampaikan, setelah memakan tempe, telur, dan buah semangka, anak-anak kita menderita. Kami orang tua harus menjaga mereka hampir tiga hari di sini. Saya minta program MBG di Tanah Merah ditutup, jangan ada lagi yang menjalankan," ujar Yeremias dengan nada emosional.
Yeremias menilai anggaran besar yang dialokasikan untuk program MBG sebaiknya dialihkan untuk mendanai program sekolah gratis dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi.
"Kekayaan alam di tanah Papua ini sangat melimpah, Freeport menjadi saksinya. Mengapa pemerintah tidak bisa membuat sekolah gratis saja? Kami minta anggaran MBG ini dialihkan ke biaya pendidikan gratis ketimbang program yang justru membuat anak-anak kami menderita," tegasnya.
Baca juga: Umat Katolik Fakfak Sumbang Air Mineral untuk Peringatan Islam Masuk Papua
Penolakan lain juga diutarakan oleh Yokbeth Suwae warga dari Kampung Kendate, saat menemani cucunya Sarah Wally, balita berusia 1 tahun 2 bulan, pada malam pertama di rawat di rumah sakit.
Yokbeth bercerita, akibat kejadian ini keluarganya harus menyeberangi laut menggunakan perahu motor (Jhonson) malam hari menuju Puskesmas Depapre. Karena jumlah pasien yang membludak, penanganan rujukan ke RSUD Yowari dilakukan secara bergelombang menggunakan kendaraan operasional.
Gejala tidak hanya dialami anak-anak. Sejumlah kader Posyandu yang mengonsumsi makanan tersebut turut menjadi korban, bahkan Ketua Kader Posyandu dilaporkan langsung terjatuh sesaat setelah memakan sajian tersebut.
Yokbeth pun mengutarakan kekhawstirannya. "Kami takut makan lagi, lebih baik tidak usah lagi [hentikan] MBG ini," katanya.
Perwakilan orang tua korban juga secara tegas meminta kepada Bupati Jayapura agar program Makan Bergizi Gratis di wilayah tersebut segera dihentikan total guna mengantisipasi jatuhnya korban lanjutan.
Baca juga: Sepakati Sejarah Islam Masuk Papua Sejak 1360, MUI Imbau Warga Rawat Keharmonisan
"Sekarang ada bukti [keracunan] kami ingin ini [MBG] berhenti saja," kata seorang Ayah saat mendampingi anaknya kepada Bupati Jayapura.
Menanggapi desakan tersebut, Wamendagri Ribka Haluk meminta para orang tua siswa untuk bersabar dan memprioritaskan pemulihan kesehatan anak-anak mereka terlebih dahulu.
"Saat ini fokus utama kita adalah penanganan medis langsung agar kondisi anak-anak dapat berangsur pulih," ujar Ribka saat menenangkan Yeremias di RSUD Yowari.
Sementara itu, Wakil Kepala BGN Mayjen TNI Trenggono menjelaskan bahwa program MBG pada dasarnya memiliki dampak multidimensi. Selain pemenuhan gizi anak, program ini dirancang untuk menyerap tenaga kerja lokal, memberdayakan UMKM desa, serta menggerakkan roda perekonomian daerah melalui penyerapan hasil tani dan ternak lokal.
Baca juga: Update Keracunan MBG di Jayapura: Korban Capai 527 Orang, Dapur Yayasan Kasih Iman Samuel Ditutup
Meski demikian, menyikapi trauma dan kekhawatiran masyarakat, BGN berjanji akan melakukan evaluasi mendalam serta perbaikan strategi penyaluran.
"Ke depan program ini akan kita pertajam (refocusing) agar lebih tepat sasaran. Sekolah yang dinilai sudah mampu secara ekonomi mungkin tidak lagi menjadi prioritas utama. Saat ini jumlah korban yang dirawat sudah jauh berkurang dan membaik, tetapi observasi medis akan terus kita lakukan," kata Trenggono.
Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua menyatakan jumlah korban dugaan keracunan makanan di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua sekira 527 orang. Ratusan anak dan orang dewasa itu diduga keracunan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Berry I.S. Wopari mengatakan jumlah korban ini berdasarkan data pos pelayanan kesehatan di Depapre. Mereka menjalani rawat jalan maupun rawat inap, dan berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari balita hingga orang dewasa.
Baca juga: Jadwal Kapal Pelni KM Sangiang Terbaru 8-18 Agustus 2026, Cek Kapan Tiba di Ambon
"Secara kumulatif dari hari pertama hingga masih dalam perawatan 527 mulai yang rawat jalan mulai dari balita, anak-anak, sampai lansia," ujarnya.(*)