Mengenal Dua Pijakan Sejarah Agama di Papua: Islam di Fakfak 1360, Injil di Mansinam 1855
Marius Frisson Yewun August 07, 2026 10:29 AM

 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA – Tanah Papua tidak hanya kaya akan pesona alam dan keanekaragaman suku, tetapi juga menyimpan jejak panjang peradaban agama yang saling melengkapi. 

Berdasarkan kesepakatan sejarah terbaru, Islam telah hadir di bumi Cenderawasih sejak abad ke-14, jauh sebelum hadirnya misi pekabaran Injil di pertengahan abad ke-19.

Peringatan 666 tahun Islam Masuk Tanah Papua (IMTP) khususnya di Fakfak pada Agustus 2026 menjadi momentum penting yang menegaskan kembali fakta sejarah tersebut. 

Baca juga: Umat Katolik Fakfak Sumbang Air Mineral untuk Peringatan Islam Masuk Papua

Hasil Seminar Nasional Sejarah yang digelar di Fakfak mengonfirmasi bahwa syiar Islam pertama kali mendarat di Kampung Fatagar, Distrik Furwagi, Kabupaten Fakfak pada 8 Agustus 1360 Masehi.

Penyebaran Islam kala itu dipelopori oleh seorang ulama bernama Syekh Abdul Gaffar. Masuknya Islam di wilayah pesisir barat daya Papua ini terjalin erat melalui jaringan perdagangan rempah maritim serta interaksi politik dan budaya antara kerajaan-kerajaan di Maluku seperti Kesultanan Tidore, Ternate dengan para pemimpin adat lokal. 

Bukti keberadaan Islam sejak abad pertengahan ini diperkuat oleh keberadaan artefak tua, naskah Al-Qur’an kuno berbahan kulit kayu, hingga masjid-masjid bersejarah yang masih berdiri hingga kini.

Baca juga: Sepakati Sejarah Islam Masuk Papua Sejak 1360, MUI Imbau Warga Rawat Keharmonisan

Sementara itu, lembaran sejarah keagamaan Papua kembali terukir indah hampir lima abad kemudian melalui misi Pekabaran Injil (PI). Momen bersejarah ini ditandai dengan mendaratnya dua misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gotthold Geissler, di Pulau Mansinam, Teluk Doreri, Manokwari pada 5 Februari 1855 Masehi.

Kedatangan Ottow dan Geissler dengan ucapan masuknya yang terkenal, "Dengan nama Allah kami memijakkan kaki di tanah ini," menjadi titik mula bertumbuhnya agama Kristen Protestan sekaligus pembuka era pendidikan dan peradaban modern di wilayah utara Tanah Papua.

Terdapat rentang waktu sekitar 495 tahun di antara dua peristiwa monumental tersebut. Meski hadir dalam kurun zaman dan jalur yang berbeda, kedatangan Islam di Fakfak dan Injil di Mansinam tidak pernah saling meniadakan.

Sebaliknya, keduanya menjadi pilar utama yang membentuk identitas kebudayaan, sosial, dan semangat toleransi masyarakat Papua hingga hari ini.

Baca juga: Kunci Jawaban Pendidikan Pancasila Kelas 12 Kurikulum Merdeka Halaman 105: Uji Kompetensi Soal 14

Di Kabupaten Fakfak misalnya, titik awal masuknya Islam melahirkan filosofi adat, "Satu Tungku Tiga Batu". Falsafah ini menggambarkan kehidupan satu keluarga besar yang di dalamnya dapat terdiri dari pemeluk agama Islam, Protestan dan Katolik, namun tetap hidup berdampingan secara damai, saling menghormati, dan bahu-membahu dalam setiap kegiatan sosial maupun keagamaan.

Peringatan sejarah seperti IMTP di Fakfak dan HUT Pekabaran Injil di Mansinam pada akhirnya bukan sekadar agenda tahunan untuk mengenang masa lalu melainkan pengingat abadi bahwa Tanah Papua telah menjadi rumah yang ramah, damai, dan penuh kedewasaan dalam merawat keberagaman sejak berabad-abad lalu.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.