Dinsos Lebak Respons Rumah Reyot Nengsih di Cileles, Siap Dorong Bantuan RST ke Kemensos
Ahmad Tajudin August 07, 2026 05:02 PM

TRIBUNBANTEN.COM, LEBAK – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Lebak, Banten, merespons kondisi rumah tidak layak huni (RTLH) milik Nengsih Mulya Ningsih (45), warga Kampung Cimurutu, Desa Margamulya, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak.

Nengsih diketahui tinggal di rumah berukuran sekitar 4x4 meter bersama suami dan dua anaknya. Kondisi bangunan yang ditempati keluarga tersebut sangat memprihatinkan dan dinilai sudah tidak layak huni.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Kabupaten Lebak, Lela Gifty Cleria, mengatakan pihaknya akan berupaya mengusulkan rumah Nengsih ke Kementerian Sosial melalui program Rumah Sejahtera Terpadu (RST).

"Jadi kalau Dinsos kami arahkan RST ke Kemensos. Kami berupaya yah ke sana. Tapi kalau Perkim mungkin melalui desa yah," ujarnya kepada TribunBanten.com, Jumat (7/8/2026).

Meski demikian, Lela mengaku akan terlebih dahulu mengecek hasil laporan dari pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang telah melakukan pendataan di lapangan.

"Saya cek dulu grup, laporan temen-temen belum saya buka semua terkait dengan itu. Tapi sudah dikoordinasikan terkait logistiknya melalui pendamping," ujarnya.

Baca juga: Camat Cileles Dikritik Usai Disebut Menggerutu saat Tinjau RTLH Warga Lebak, Kumala Minta Evaluasi

Ia menjelaskan, proses pengajuan bantuan RST saat ini masih dikoordinasikan dengan pemerintah desa, terutama terkait status kepemilikan lahan yang menjadi salah satu syarat dalam pengajuan bantuan.

"Untuk bantuannya sedang dikoordinasikan dengan desa terkait tanahnya," ujarnya.

Pantauan jurnalis TribunBanten.com di lokasi, kondisi rumah yang dihuni empat orang tersebut sangat memprihatinkan. Sebagian dinding rumah sudah bolong dan lapuk, sehingga tidak lagi menyerupai rumah yang layak ditempati.

Rumah tersebut menggunakan atap genteng. Namun, kayu penyangga di bagian dalam rumah tampak rapuh dan dikhawatirkan sewaktu-waktu dapat ambruk.

Saat memasuki bagian dalam rumah, terlihat sebuah tempat tidur yang berada tepat di samping dinding berlubang. Kondisi itu membuat angin bebas masuk ke dalam rumah.

Nengsih mengaku sudah lima tahun tinggal di rumah tersebut bersama keluarganya.

"Sudah lima tahun kami menempati rumah ini. Saya, suami, sama dua anak. Iya, dindingnya bolong," kata Nengsih saat ditemui di kediamannya, Minggu (2/8/2026). 

Ia mengatakan, saat musim hujan tiba, atap rumah kerap bocor sehingga air masuk ke dalam rumah.

"Iya, kalau hujan suka bocor. Terus angin juga masuk karena dindingnya bolong," ujarnya.

Nengsih mengaku bukan tidak ingin memperbaiki rumahnya. Namun, keterbatasan ekonomi membuat keluarganya belum mampu membangun rumah yang lebih layak.

"Bukan tidak mau, cuma mau bagaimana lagi. Penghasilan suami pas-pasan, hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari," katanya.

Suami Nengsih bekerja sebagai penyadap karet milik orang lain. Dalam sepekan, penghasilannya sekitar Rp100 ribu. Sesekali ia juga bekerja sebagai buruh angkut kayu untuk menambah penghasilan.

"Nyadap karet, kadang jadi kuli angkut kayu. Ya Alhamdulillah kami syukuri saja," ucapnya.

Terkait bantuan pemerintah, Nengsih mengaku masih menerima bantuan dari pemerintah desa. Namun, ia tidak terdaftar sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH).

"Ada bantuan dari desa, cuma kalau PKH tidak dapat," katanya.

Nengsih berharap Pemerintah Kabupaten Lebak dapat membantu memperbaiki rumahnya agar keluarganya memiliki tempat tinggal yang lebih layak.

"Semoga pemerintah bisa membantu kami dan peduli kepada warga yang tidak mampu. Mau mengadu ke siapa lagi kalau bukan kepada pemerintah," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.