BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Tingginya temperatur udara kemarau saat ini membuat material alam kian kering dan mudah terbakar. Kebakaran lahan dan hutan (karhutla) pun hingga saat ini masih terus bermunculan di sejumlah tempat.
Belum hilang kekhawatiran warga akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di perbatasan Desa Pandahan, Kecamatan Bati-Bati dengan kawasan Pengayuan, Kota Banjarbaru, kobaran api kembali muncul di di tempat lain yakni di pinggiran Pelaihari.
Kali ini, titik api terpantau di dua lokasi yang berjarak tidak terlalu jauh, yakni di sekitar Pondok Pesantren Sirsjul Huda, kawasan Bukit Sabat, Kelurahan Karang Taruna, Matah, serta di dekat Taman Permana, Desa Telaga, Kecamatan Pelaihari.
Kobaran api melalap hamparan semak belukar di kawasan Bukit Sabat yang berada di sekitar pondok pesantren. Api juga berkobar di semak belukar di wilayah Desa Telaga, Kecamatan Pelaihari, tak jauh dari kawasan taman di wilayah setempat.
Baca juga: Update Penemuan Bayi di Bawah Jembatan Besi Tanahlaut, Orangtua Ditunggu hingga 15 Agustus
Baca juga: Gempa M 4,3 Baru Saja Guncang Sulawesi Utara Jumat 7 Agustus 2026, Pusat Getaran di Sini
Kebakaran lahan tersebut terjadi malam tadi pada rentang waktu yang hampir sama yakni sekitar setelah waktu isya. Api membumbung tinggi dan memerah di tengah gelapnya malam.
Pemandangan itu sempat mengundang perhatian warga sekitar maupun pengguna jalan yang melintas dan langsung merebak di ruang dunia maya.
Mendapat laporan dari masyarakat, petugas pemadam kebakaran gabungan bersama para relawan segera bergerak menuju lokasi.
Mereka berjibaku memadamkan api agar tidak meluas ke kawasan lain yang berpotensi membahayakan permukiman maupun fasilitas umum.
Berulangnya karhutla dalam dua malam berturut-turut semakin mempertegas tingginya potensi kebakaran saat musim kemarau.
Sebelumnya lagi, kebakaran lahan juga berulang kali terjadi di sejumlah wilayah Tanah Laut. Di antaranya kawasan bondong, Desa Gunung Raja, Kecamatan Tambang Ulang, yang beberapa kali terbakar sepanjang Juli hingga awal Agustus 2026.
Selain itu, titik-titik api juga sempat muncul di kawasan perbatasan Desa Pandahan serta sejumlah lahan semak lainnya yang mengering akibat kemarau.
Warga Pelaihari Burhani berharap seluruh pihak makin meningkatkan patroli dan penanganan dini agar kebakaran tidak terus berulang.
"Mudhaan patroli diperbanyak dan kalau ada titik api langsung ditangani sebelum membesar," harapnya, Jumat (7/8/2026).
Rihana, warga Pelaihari lainnya, mengaku risau dengan musim kemarau yang saat ini tampak cukup panas sehingga risiko kebakaran lahan makin sering terjadi akhir-akhir ini.
"Lahan bondong yang luas di Gunungraja hingga Batibati itu tiap kemarau selalu terbakar. Ini juga sudah terbakar. Untungnya ini asap belum begitu ada, mudahan jangan sampai parah kayak empat tahun lalu," ucapnya.
Kepala Pelaksana BPBD Tala Aspi Setia Rahman kembali mengimbau masyarakat untuk menghindarkan diri melakukan aktivitas yang berpotensi munculnya api.
Pihaknya juga terus bersiaga dan memantau perkembangan di lapangan. Begitu terjadi laporan munculnya api, tim reaksi cepat langsung menuju lokasi.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)