Data BI: Sektor Pertanian di Banten Melambat pada Triwulan II 2026, Perikanan Tumbuh Positif
Abdul Rosid August 07, 2026 07:07 PM

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Kinerja sektor pertanian di Provinsi Banten mengalami perlambatan pada Triwulan II 2026. Ha itu berdasarkan data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Banten.

Menurut data BI Banten, perlambatan tersebut dipicu oleh menurunnya produksi tanaman pangan setelah berakhirnya musim panen raya pada awal tahun.

Meski demikian, perlambatan sektor pertanian tidak berlangsung terlalu dalam karena masih ditopang oleh pertumbuhan positif subsektor perikanan, baik perikanan tangkap maupun budidaya.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten, Rawindra Ardiansah, mengatakan perlambatan ini merupakan dampak normalisasi musim panen setelah sektor tanaman pangan mencatatkan produksi yang tinggi pada Triwulan I 2026.

Baca juga: VIRAL! Pria di Tangsel Diduga Rekam Bawah Rok Perempuan dengan HP di Sandal, Aksinya Terekam CCTV

"Kinerja sektor pertanian melambat akibat normalisasi musim panen setelah capaian tinggi pada Triwulan I 2026," ujar Rawindra saat Taklimat Media Bank Indonesia Banten di Kota Serang, Jumat (7/8/2026).

Produksi Padi dan Jagung Mengalami Penurunan

Data BI Banten menunjukkan subsektor tanaman pangan menjadi penyumbang terbesar perlambatan pertumbuhan sektor pertanian.

Produksi padi di Provinsi Banten tercatat turun 15,51 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, produksi jagung pipilan kering (JPKKA14) mengalami penurunan yang lebih tajam, yakni mencapai 39,15 persen (yoy).

Menurut Rawindra, penurunan tersebut merupakan bagian dari siklus pertanian yang normal setelah berakhirnya masa panen raya pada triwulan sebelumnya.

Ia menilai kondisi tersebut tidak mencerminkan penurunan produktivitas secara permanen, melainkan dipengaruhi pola tanam dan musim panen yang berubah.

Subsektor Perikanan Jadi Penopang

Di tengah perlambatan subsektor tanaman pangan, sektor perikanan justru menunjukkan tren pertumbuhan positif.

Berdasarkan data BI Banten, produksi perikanan tangkap meningkat sebesar 1,584 persen (yoy).

Sedangkan perikanan budidaya mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 3,364 persen (yoy).

"Meskipun (tanaman pangan melambat), produksi perikanan tetap tumbuh positif sehingga mampu menopang dan menjaga kinerja sektor pertanian secara keseluruhan," tutur Rawindra.

Efisiensi Petani dan Distribusi Pupuk Subsidi

Selain subsektor perikanan, efisiensi biaya usaha tani juga menjadi perhatian penting untuk menjaga ketahanan produksi pertanian di Banten. 

Salah satu faktor krusial yang disoroti adalah efektivitas alokasi pupuk bersubsidi bagi para petani.

BI Banten mencatat, ketersediaan pupuk bersubsidi memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi biaya operasional petani padi. 

Adanya subsidi pupuk terbukti mampu menurunkan biaya usaha tani sekitar 20 persen, yakni dari rata-rata Rp10 juta menjadi Rp8 juta per hektare.

Untuk memastikan kelancaran rantai pasok pangan, pasokan pupuk subsidi di wilayah sentra produksi seperti Kabupaten Lebak dipastikan dalam kondisi aman dan mencukupi.

Berdasarkan realisasi penyaluran pupuk subsidi pada Semester I 2026 di Kabupaten Lebak, tercatat:

• Pupuk Urea: Terealisasi sebesar 22,74 persen dari total kuota yang tersedia.

• Pupuk NPK: Terealisasi sebesar 29,04 persen dari total kuota yang tersedia.

• Pupuk Organik: Terealisasi sebesar 5,34 persen dari total kuota yang tersedia.

Bank Indonesia berharap, dengan terjaganya ketersediaan pupuk subsidi serta penguatan pada sektor perikanan dan rantai distribusi, sektor pertanian di Provinsi Banten dapat kembali mengakselerasi kinerjanya pada triwulan mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.