Ikut Program Pertukaran Pelajar, Mahasiswa FK Unair Belajar Langsung di RS Slovakia
GH News August 07, 2026 07:09 PM
Jakarta -

Pengalaman unik dilalui mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Hanifa Lathfi Amali. Lathfi panggilan akrabnya berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Slovakia.

Sesuai dengan program studinya, Lathfi berkesempatan ikuti stase (belajar langsung menangani pasien di bawah bimbingan dokter spesialis) bedah saraf di Kramáre Hospital, Bratislava, Slovakia, lewat wadah SCOPE IFMSA. Tak sendiri, program ini diketahui diikuti lima delegasi dari Indonesia.

Pengalaman Stase di RS Slovakia

Lathfi membagikan berbagai kegiatannya saat menjalani stase di Kramáre Hospital. Ia menjelaskan setiap pagi, kegiatan akan dimulai dengan morning round.

Morning round merupakan sesi diskusi bersama dokter spesialis bedah saraf sebelum bersiap masuk ke ruang operasi. Setiap kegiatan di ruang operasi dilakukan berdasarkan protolol sterilisasi terstandar World Health Organization (WHO).

"Di morning round, kami berdiskusi mengenai hasil operasi sebelumnya dan merencanakan tindakan yang akan dilakukan hari itu, termasuk teknik pembedahan yang akan digunakan," jelas Lathfi dikutip dari laman resmi Unair, Jumat (7/8/2026).

Di ruang operasi, Lathfi bisa melihat langsung wujud anatomis yang selama ini hanya dilihatnya di buku saja. Kesempatan ini juga membuatnya belajar terkait penerapan teknologi medis yang mutakhir.

Adapun teknologi yang dimaksud, seperti mikroskop bedah dengan fitur fluoresensi hingga pemetaan lokasi tumor menggunakan USG berbasis Artificial Intelligence (AI). Setiap pengalaman di ruang operasi sangat menarik minatnya.

Salah satu yang paling berkesan adalah pengalaman operasi pengambilan tumor di otak tanpa bedah kepala. Ia menyaksikan prosedurnya secara langsung.

"Ada satu momen yang sangat berkesan, yaitu tindakan Dokter mengambil tumor di otak itu lewat tulang sphenoid di dalam hidung, jadi tidak perlu membuka kepala pasien. Selain itu, ada juga teknik menjahit selaput otak menggunakan lapisan tulang tengkorak. Itu sangat keren!" ungkapnya.

Proses Ikut Program Pertukaran Pelajar

Ada beberapa tahapan yang dilalui Lathfi hingga akhirnya terpilih dan berangkat ke Slovakia. Tahapan yang dimaksud dari English tes hingga wawancara.

"Pihak kampus dan organisasi sangat mendukung program ini, sekaligus mewajibkan kami melakukan persiapan matang seperti wajib memiliki asuransi dan menyimpan kontak darurat internasional untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," paparnya.

Tantangan Bahasa

Belajar di negara dengan bahasa yang berbeda tentu menjadi tantangan dan kendala yang dihadapi Lathfi. Memang, ia mudah berkomunikasi dengan dokter spesialis lantaran fasih berbahasa Inggris.

Namun, untuk perawat senior, ketentuan tersebut tidak berlaku. Negara tersebut memiliki bahasa resmi yakni bahasa Slovak dan kurang dipahami Lathfi.

Untuk itu, ia kerap menggunakan gestur tubuh agar bisa berkomunikasi dengan para perawat. Salah satu momen yang paling diingatnya saat meminta baju scrub sekali pakai berlengan panjang.

"Pernah suatu kali kami meminta baju scrub sekali pakai yang berlengan panjang karena berhijab. Perawatnya mengangguk, tapi yang dibawa ternyata malah kapas-kapas steril. Akhirnya kami tertawa dan tetap memakai baju scrub seadanya," kenang Lathfi.

Pertukaran Budaya

Tak hanya di rumah sakit, program ini juga mempertemukan mahasiswa kedokteran dari berbagai negara. Diketahui ada 25 mahasiswa yang ikuti program ini, mereka berasal dari Spanyol, Brasil, Meksiko, Tunisia, Kanada, hingga Mesir.

Punya banyak teman baru, Lathfi mengaku komite lokal kerap mengadakan banyak acara. Berbagai acara ini juga menjadi ajang pertukaran budaya lintas benua.

"Mulai dari jalan-jalan keliling kota Bratislava dan Trnava, berenang bersama di Danau Danube, sampai memasak dan saling mencicipi masakan khas negara masing-masing di acara kata dia lagi.

Bagi Lathfi masa perkuliahan sangatlah singkat. Dengan demikian, ia berpesan agar mahasiswa tak ragu mengambil setiap kesempatan yang datang.

"Siapkan bahasa Inggris, cari tahu informasi negaranya, dan aktiflah berorganisasi. Ini adalah investasi relasi sejawat dokter di masa depan yang sangat berharga," pesannya.

Devita Savitri
Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom sejak 2023 lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Tertarik dan aktif meliput isu terkait pendidikan dasar dan menengah. Wartawan Terproduktif Kemendikdasmen 2025.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.