Fenomena Nakes Berkomentar Nirempati, Dosen UMY: Minim Literasi dan Medsos Jadi Ruang Pelampiasan
Yoseph Hary W August 07, 2026 08:02 PM

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Fajar Junaedi menyebut fenomena tenaga kesehatan berkomentar nirempati kepada pasien lantaran minimnya literasi media. 

Ia mengatakan literasi media bukan sekadar bisa menggunakan gawai atau membuat konten. Literasi media berkaitan kemampuan berpikir kritis.

"Intinya adalah kemampuan berpikir kritis, memahami bagaimana pesan media dibentuk, menyadari dampaknya terhadap cara kita memandang orang lain, dan mengelola apa yang kita konsumsi maupun produksi agar tidak mengikis rasa kemanusiaan," katanya, Jumat (7/8/2026). 

Fajar melanjutkan masyarakat, termasuk nakes masih memperlakukan media sosial seperti ruang curhat pribadi tanpa menyadari setiap unggahan adalah konstruksi yang membentuk persepsi publik. 

Kondisi yang disebut sebagai paparan media tanpa literasi media itu menyebabkan orang aktif memproduksi konten, tapi minim  kesadaran bahwa unggahan media sosial dapat  memperbesar jarak emosional antara pemberi dan penerima pesan. 

"Padahal keterampilan analis dan evaluasi penting. Kalau keterampilan ini lemah, seseorang sulit menilai dampak emosional dari pesan yang ia buat sendiri," lanjutnya. 

Ia pun menyoroti dinamika di tanah profesi pelayanan publik, khususnya kesehatan. Tekanan kerja yang tinggi, kelelahan, dan rasa frustasi sering membuat media sosial menjadi tempat pelampiasan. 

"Tanpa kemampuan memproses secara sadar, pelampiasan itu berubah menjadi nirempati yang terlihat publik. Mereka lupa bahwa pasien dan keluarga pasien sedang dalam posisi rentan, dan setiap kalimat di media sosial bisa terasa seperti penghakiman," ujarnya. 

Memaknai kerja kemanusiaan, membentuk pola komunikasi empatik 

Sebagai tenaga kesehatan yang bertumpu pada rasa kemanusiaan, nakes perlu menarik makna yang lebih luas dari pengalaman kerja mereka. Pengalaman kerja tersebut mestinya dapat mengubah menjadi pola komunikasi yang empatik. 

"Lemahnya literasi digital di masyarakat memang menyediakan ruang, tapi dinamika khusus profesi nakes, mulai dari ketimpangan kuasa sampai beban kerja, yang membuat nirempati itu lebih mudah muncul dan terasa menyakitkan," sambungnya. 

Ia menambahkan pelatihan literasi media saat ini harus menyentuh di semua level institusi, termasuk nakes. Tenaga kesehatan perlu dilatih untuk menguasai tujuh keterampilan, terutama analisis, evaluasi, dan sintesis. Dengan begitu, nakes mampu melihat efek pesan mereka sendiri, menjaga kesadaran bahwa ruang digital bukan tempat melampiaskan, dan menempatkan empati sebagai bagian dari kompetensi profesional.

"Tanpa itu, media sosial akan terus memperlebar jarak antara yang melayani dan yang dilayani," pungkasnya. (maw) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.