TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemanfaatan teknologi digital kini mulai digunakan dalam upaya pelestarian budaya lokal.
Salah satunya dilakukan oleh tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul yang memasuki tahap implementasi penggunaan aplikasi Jawalens secara langsung di kelas-kelas sekolah dasar.
Prof Dr Ir Anastasia Rita Widiarti, Dosen Prodi Informatika USD sekaligus founder dari Jawalens mengatakan program lintas disiplin yang melibatkan dosen dan mahasiswa Prodi Informatika, Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), dan Prodi Sastra Indonesia USD ini mendorong pemanfaatan aplikasi Augmented Reality (AR) berbasis marker untuk pengenalan aksara Jawa.
"Jawalens adalah nama aplikasi Augmented Reality berbasis marker untuk pengenalan aksara Jawa, yang dapat didownload aplikasinya dengan mudah di link https://s.id/jawalens, " terang Prof Rita yang menggagas aplikasi ini, Jumat (7/8/2026).
Menurut dia, tahap implementasi di lapangan menjadi bukti bahwa inovasi hasil riset perguruan tinggi mampu menjawab kebutuhan nyata di dunia pendidikan.
"Para guru tidak sekadar memahami teknis penggunaan aplikasi, tetapi juga mampu mengintegrasikannya ke dalam aktivitas belajar yang sesuai dengan karakteristik siswa SD," tutur Prof Rita.
Rita menjelaskan sebelum memasuki tahap kelas, sebanyak 36 guru SD perwakilan dari 18 kapanewon (kecamatan) di Kabupaten Gunungkidul telah dibekali pelatihan intensif.
Materi mencakup pengenalan teknologi AR, penyusunan skenario pembelajaran, simulasi mengajar, hingga refleksi bersama.
"Hasil evaluasi mencatat adanya peningkatan antusiasme guru dalam memanfaatkan media digital untuk pembelajaran muatan lokal," papar dia.
Di salah satu sekolah mitra, yakni SD Muhammadiyah Bogor Gunungkidul, lanjut dia, suasana kelas tampak ceria dan interaktif.
Siti Dwi Cahyani, Guru SD Muhammadiyah Bogor Gunungkidul yang ikut bimtek dan mempraktikkan di kelas bekerja dalam kelompok, memasangkan aksara Jawa, berdiskusi, serta memanfaatkan Jawalens melalui ponsel pintar (smartphone) untuk mengenali huruf-huruf Jawa.
Pembelajaran aksara Jawa yang sebelumnya identik dengan hafalan konvensional, kini bergeser menjadi aktivitas eksploratif yang melatih kerja sama dan daya kritis anak.
"Pendekatan ini membuktikan bahwa keberadaan teknologi tidak menggantikan peran guru, melainkan hadir sebagai alat bantu (tool) untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna," kata Prof Rita.
Baca juga: Hampir Separuh Mahasiswa Baru FEB UGM Dapat Subsidi UKT, 14,02 Persen Kuliah Gratis
Inisiatif ini juga mendapat apresiasi penuh dari Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul.
Pihak dinas, seperti disampaikan oleh Asbani, selaku Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan, menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara sekolah, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi agar inovasi pendidikan benar-benar berdampak nyata bagi peserta didik.
Melalui pendampingan yang berkesinambungan bersama Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Gunungkidul, Jawalens diharapkan dapat terus berkembang dan direplikasi oleh lebih banyak sekolah sebagai wujud nyata transformasi pembelajaran berbasis budaya dan teknologi. (*)