Selaku pendiri, Mohammad Ahmad Syukron Ali telah melewati lika-liku panjang untuk mempertahankan Renaisansi dan Theotraphi selama lebih dari satu dekade.
Kafe yang meleburkan toko buku, perpustakaan, dan kedai kopi ini awalnya lahir dari keisengan pemilik dan temannya pada 2015.
“Ya cuman iseng-iseng, enggak ada niatan bisnis kopi. Karena pengen mewadai teman-teman yang suka baca buku sambil menikmati kopi. Oh, ternyata ramai,” ucap Ahmad pada Rabu (5/8/2026).
Walaupun berawal dari keisengan, kecintaan Ahmad pada literasi membuatnya bersemangat untuk mengembangkan bisnis hingga merambah ke kedai kopi. Ia dan temannya menambah bisnis kopi yang dipadupadankan dengan perpustakaan dan toko buku bernama ‘Observasi’ pada 2019 lalu.
“Nah, berdirilah di sana ada kedai kopi, namanya Observasi dulu. Kita bikin toko buku indie sekaligus kedai kopi. Kedai kopi yang manual gitu ya. Ya, slowbar lah 2019. Kita kolaborasi sama teman. Cuman kita jalan 2 tahun teman saya keluar. Saya mendirikan sendiri namanya Renaisansi 2021 ada di sana,” ungkap Ahmad.
Dulu, Renaisansi tidak terletak di tempat yang sekarang. Namun, berada di daerah Muja Muju, Umbulharjo. Kafe rumahan itu terpaksa pindah karena pemilik tanah tidak mau memperpanjang sewa kepada pihak Renaisansi dan Theotraphi.
Selain harus berpindah-pindah, Ahmad juga menyampaikan lika-liku yang harus kafenya hadapi ketika pandemi Covid-19. Menurutnya, saat itu adalah masa-masa tersulitnya dalam berbisnis.
“Awal Covid itu ya sampai sebelum pindah ke sini, Itu tuh awal-awal paling sulit. Untuk kopi ya dibatasi orang untuk beli karena Covid. Terus yang kedua ya buku, kalau buku itu karena penerbit (sudah) menjual sendiri online dan apalagi tambah sekarang offline.”
Baca juga: 5 Tempat Baca Instagramable di Jogja, dari Perpustakaan hingga Toko Buku
Tidak berhenti di situ, menurut Ahmad merambahnya pembelian buku online membuat persaingan kafe buku di Jogja juga kian ketat. Apalagi sekarang banyak penerbit besar yang sudah punya toko bukunya sendiri.
Meski begitu, menurut Ahmad tantangan itu wajar di dunia bisnis. Ia juga mengaku tak henti-hentinya berusaha untuk bertahan dan mengembangkan kafe bukunya.
“Ini kan belum istilahnya masih dalam tahap perkembangan ya. Belum benar-benar gol, belum benar-benar tajam. Jadi, ya semoga aja masih bisa bertahan dan berkembang. Pengenya ya maju, bersaing sama teman-teman yang punya model branding kuat, material maupun non-material gitu. Karena kan coffeshop di Jogja kan banyak banget. Dan dikuasai pemodal-pemodal besar,” ucap Ahmad.
Ia menyebut saat ini hanya mengandalkan tempat, usaha, dan untuk mengembangkan Renaisansi dan Theotraphi. Ahmad menambahkan alasannya tetap bertahan secara melankolis adalah karena cinta.
“Secara rasa itu karena cinta. Ya, karena cinta buku, cinta kopi, cinta usaha ini kan. Ya, itu mungkin harus bertahan. Kan itu kalau melankolisnya,”
Renaisansi dan Theotraphi Tetap Bernuasa Rumahan
Setelah berpindah ke kawasan Ngabean, Kabupaten Sleman Ahmad tetap ingin mempertahankan suasana rumahan. Ia mencari rumah dengan halaman belakang yang luas. Pernyataan itu dibenarkan oleh Niska selaku kepala barista di Renaisansi dan Theotraphi.
“Kalau konsep homey kita masih membawa konsep yang sama terkait layanan, terkait hospitality. Kita di sini sistemnya juga masih homey dalam artian siapapun boleh berbaur, siapapun boleh datang ke sini tanpa memandang suku budaya dan sebagainya,” jelasnya.
Kesan rumahan yang ingin ditonjolkan Renaisansi dan Theotraphi ini juga dirasakan oleh Belda yang mengunjungi kafe buku itu untuk mengerjakan tugas dan bertemu teman.
“Tempat ini cozy banget gitu selain kita bisa baca buku, kita bisa ngobrol, kita bisa ngopi sambil ngobrol santai dan enggak terlalu crowded,”
Walau menurutnya masih kekurangan stopkontak di beberapa ruangan.
“Tapi di sini tuh stopkontaknya terbatas. Jadi kalau misalnya kita mau nugas sambil charger HP atau apapun bisanya di ruangan yang ini,” ungkap Belda.
Baca juga: Rekomendasi 3 Tempat Nugas Cozy di Jogja untuk Mahasiswa
Konsep Filsafat pada Penamaan Tempat dan Menu di Renaisansi
Renaisansi dan Theotraphi dipilih Ahmad dari istilah filsafat yang merupakan cabang ilmu yang dia sukai. Renaisansi adalah akronim dari reality, kontemplasi, dan eksistensi yang ketika digabung menurut Bahasa Prancis berarti pencerahan.
Sedangkan Theotraphi adalah kepanjangan dari teologi, sastra, dan filosofi yang menjadi bacaan kesukaan Ahmad.
“Dulu bacaanku tiga itu. Tiga kategori itu yang teologi itu memang jurusan saya, jurusan kuliah, harus baca. Yang sastra untuk apa istilahnya melembutkan pikiran kan, biar enggak kaku. Ya, biar tahu lebih. Karena kan fiksi itu di atas realitas kan. Baru nanti eksistensi,” jelas Ahmad.
Selain penamaan tempat, menu di kafe Renaisansi juga bertemakan filsafat. Istilah seperti idealisme, hedonisme, dan epistemologi digunakan dalam penamaan menu.
Baca juga: Tips Belajar Filsafat untuk Pemula Agar Tak Tersesat Menurut Dr. Fahruddin Faiz
Tidak hanya asal menamai tetapi dicocokkan dengan karakter minuman yang disajikan.
“Sebelum itu (ada kopi mahal) tuh matcha itu bagi orang-orang kan, yang benar-benar macha itu kan dia yang minum itu fashionable, lifestyle, sing suka Itulah ya. Yang enggak alkohol tapi dia macha. Itu aku nyebutnya hedonis. Suka foya-foya,”
Istilah-istilah filsafat itu menjadi daya tarik tersendiri di kafe ini. Kepala Barista mengakui banyak yang menanyakan soal nama-nama menunya bahkan mengambil gambar.
Namun, Belda selaku pelanggan memberi masukan penambahan gambar di menunya supaya lebih membantu pelanggan yang ingin memesan.
“Cuma mungkin akan lebih mudah untuk orang memilih kalau misalnya ada gambarnya. Jadi kan itu cuma kayak nama terus keterangan menu ya. Kalau misalnya ada gambar mungkin seseorang lebih gampang untuk memilih gitu. Kalau buat orang awam gitu. Kadang kan orang tuh malasnya buat misalnya keseluruhan menu gitu. Tapi tadi karyawannya sangat helping banget,” saran Belda. (MG Fuza Nihayatul Chusna)