Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) bersiap menggelar Simposium Nasional Guru Besar Humaniora 2026 pada 11-13 Agustus 2026 di Kampus UI Depok guna merumuskan arah baru pengembangan ilmu humaniora yang adaptif di era kecerdasan buatan (AI).
Forum akademis berskala nasional ini rencananya dihadiri sekaligus diresmikan secara langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Brian Yuliarto.
Selain itu, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon dijadwalkan hadir sebagai pembicara utama untuk memaparkan pandangan strategisnya dalam sesi diskusi utama.
Baca juga: UI Jalin Kerja Sama Universitas Agung Podomoro, Siapkan Program Fast Track hingga Double Degree
Sejalan dengan visi UI sebagai Impactful University, simposium ini dirancang agar tidak sekadar menjadi ajang wacana akademik, melainkan menghasilkan kontribusi nyata bagi pemangku kepentingan.
Mengusung tema "Trajektori dan Urgensi Humaniora Masa Depan", perhelatan ini menempatkan disiplin humaniora sebagai fondasi utama dalam membangun ekosistem ilmu pengetahuan, inovasi, dan kebudayaan nasional.
Di tengah pesatnya penetrasi big data dan ekonomi digital, peran humaniora dinilai kian vital untuk memastikan bahwa lompatan teknologi tetap berjangkar pada etika, nilai kemanusiaan, serta identitas kebangsaan.
Tantangan terbesar bangsa saat ini bukan lagi sekadar merawat kekayaan tradisi, melainkan bertransformasi mentransformasikan modal budaya tersebut menjadi sumber inovasi dan daya saing global.
Dalam ranah ini, humaniora bertindak sebagai jembatan strategis yang menghubungkan riset pendidikan tinggi, pelestarian budaya, perkembangan teknologi, serta penyusunan kebijakan publik.
Ketua Dewan Guru Besar FIB UI, Agus Aris Munandar, menegaskan bahwa perhelatan ini beranjak dari urgensi mendesak untuk menyatukan visi para pakar mengenai masa depan humaniora tanah air.
"Simposium Nasional Guru Besar Humaniora ini diselenggarakan untuk menghimpun pemikiran para Guru Besar Humaniora mengenai arah perkembangan ilmu humaniora di Indonesia agar dapat menjadi rujukan yang relevan dengan tantangan zaman," tegas Agus, Jumat (7/8/2026).
Pelaksanaan simposium ini dipilah ke dalam enam sesi diskusi strategis yang merangkum isu Humaniora Digital dan Ekologi, Mitigasi Budaya, Kolaborasi Multihelix, hingga Hilirisasi Humaniora.
Sebagai luaran konkrit, forum nasional ini menyusun dua Policy Brief utama yang menyasar rekomendasi kebijakan untuk Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Kementerian Kebudayaan.
Kedua dokumen rekomendasi tersebut dirancang khusus untuk memperkuat posisi humaniora dalam sistem riset nasional sekaligus mentransformasi tata kelola kebudayaan di era digital.
Guna mewadahi keberlanjutan ide serta gagasan para pakar secara jangka panjang, simposium ini juga menginisiasi pembentukan Perhimpunan Guru Besar Humaniora di tingkat nasional.
Para peserta yang hadir merupakan gabungan pakar undangan dari pelbagai disiplin ilmu, mulai dari sejarah, filsafat, linguistik, arkeologi, hingga antropologi budaya yang memiliki rekam jejak inovatif.
Perhelatan ini menegaskan pentingnya perumusan kebijakan nasional yang berakar kuat pada nilai-nilai Pancasila dan kebinekaan Nusantara ketimbang sekadar mengadopsi mentah-mentah praktik asing.
Melalui komitmen Impactful for the Nation, FIB UI optimistis mampu menghadirkan humaniora sebagai bagian utama dari solusi strategis menuju terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Guru Besar FIB UI, Agus Aris Munandar menginisiasi pembentukan forum komunikasi perguruan tinggi se-Indonesia guna menyatukan ragam kajian ilmu humaniora yang tersebar di berbagai daerah.
Menurut Agus, setiap universitas di Indonesia memiliki fokus dan keunikan tersendiri dalam merespons konteks lokal masing-masing.
Universitas Gadjah Mada (UGM) misalnya, cenderung menekankan pada pelestarian dan daya tahan budaya tradisi. Sementara Universitas Udayana (Unud) fokus pada keterkaitan antara humaniora dan sektor pariwisata.
"Di UI, kajian kita berada di wilayah perkotaan dan ibu kota, sehingga berorientasi pada nilai-nilai nasionalisme,” kata Agus.
“Hal serupa tentu memiliki kekhasan tersendiri di universitas lain seperti Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Tadulako, Universitas Cenderawasih, hingga Universitas Pattimura," sambungnya.
Ia menilai, luasnya bentang geografis Indonesia membuat kajian humaniora saat ini masih berjalan secara terpisah.
Oleh karena itu, melalui Simposium Humaniora yang berlangsung selama tiga hari, para perwakilan dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi diharapkan dapat menyepakati pembentukan sebuah forum bersama.
Forum ini dirancang sebagai wadah diskusi periodik dan silaturahmi akademik untuk memetakan serta merumuskan arah pengembangan ilmu humaniora yang kaya dan beragam di Indonesia secara terstruktur. (m38)