TRIBUNJAKARTA.COM - Jakarta kembali menegaskan posisinya sebagai pusat investasi nasional. Sepanjang Semester I 2026, ibu kota mencatat realisasi investasi sebesar Rp173,6 triliun, tertinggi di Indonesia, sekaligus menguasai 17,2 persen dari total investasi nasional.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), capaian tersebut berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp106,5 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) senilai Rp67,1 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) DKI Jakarta, Heru Hermawanto, mengatakan tingginya realisasi investasi menunjukkan bahwa Jakarta masih menjadi destinasi utama para investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Menurutnya, kepercayaan investor terhadap Jakarta terus meningkat berkat iklim usaha yang semakin kondusif dan berbagai kemudahan layanan yang terus dikembangkan pemerintah daerah.
"Kepercayaan investor yang terus meningkat merupakan hasil dari sinergi berbagai pihak dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif, didukung arah kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono yang menempatkan kemudahan investasi dan pelayanan publik sebagai prioritas pembangunan," ujar Heru, Jumat (7/8/2026), dikutip dari laman Pemprov Jakarta.
Ia menjelaskan, keberhasilan Jakarta mempertahankan posisi sebagai daerah dengan investasi terbesar di Indonesia tidak lepas dari berbagai inovasi pelayanan yang terus diperkuat.
Mulai dari optimalisasi Mal Pelayanan Publik (MPP), percepatan digitalisasi layanan perizinan dan nonperizinan, pelayanan jemput bola kepada pelaku usaha, hingga pendampingan investasi yang dilakukan secara terintegrasi.
Tak hanya itu, Pemprov DKI Jakarta juga terus memperkuat promosi investasi berbasis data melalui penyusunan peta potensi investasi dan pengembangan proyek Investment Project Ready to Offer (IPRO), yakni proyek investasi yang telah disiapkan secara matang sehingga siap ditawarkan kepada calon investor.
"Kami memastikan bahwa peluang investasi yang ditawarkan memiliki kesiapan dari sisi teknis, finansial, maupun pasar sehingga investor memiliki kepastian yang lebih baik saat menanamkan modal di Jakarta," jelasnya.
Berdasarkan wilayah administrasi, Jakarta Selatan masih menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai mencapai Rp62,7 triliun.
Posisi berikutnya ditempati Jakarta Pusat sebesar Rp49,9 triliun, disusul Jakarta Utara Rp23,1 triliun, Jakarta Barat Rp20,6 triliun, dan Jakarta Timur Rp17,1 triliun. Sementara Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu membukukan investasi sebesar Rp289 miliar.
Heru menilai, tingginya investasi di Jakarta ditopang berbagai keunggulan yang dimiliki ibu kota, mulai dari infrastruktur yang semakin terintegrasi, besarnya pasar, kualitas sumber daya manusia yang kompetitif, hingga ekosistem bisnis yang terus berkembang.
"Tingginya capaian investasi di Jakarta didukung oleh berbagai keunggulan, mulai dari infrastruktur yang terintegrasi, pasar yang besar, sumber daya manusia yang kompetitif, hingga ekosistem bisnis yang semakin matang," tandasnya.