Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Tayang dalam Format IMAX, Simak 3 Faktanya
Ratnaning Asih August 08, 2026 02:30 AM

Liputan6.com, Jakarta - Dua tahun setelah Kuasa Gelap tayang di bioskop Tanah Air, Romo Rendra (Lukman Sardi) dan Romo Thomas (Romo Thomas) kembali tampil dalam kengerian mencekam yang dibawa dalam sekuelnya. Sebagai pemanasan, Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment telah merilis poster dan teaser trailer film bertajuk Kuasa Gelap: Perjanjian Darah ini pada Jumat (7/8/2026). 

Teaser trailer yang berdurasi satu menit dibuka dengan permohonan untuk melakukan eksorsisme dari seorang suster. Kasusnya berkaitan dengan gangguan janggal yang terjadi secara rutin di sebuah rumah, dan seorang remaja laki-laki yang menampilkan gejala demonik. 

"Saya sama sekali belum pernah melihat iblis seperti itu," kata Romo Rendra dengan mimik tegang. 

Trailer ditutup dengan informasi bahwa film ini terinspirasi dari kasus nyata eksorsisme di Indonesia. Ditampilkan juga tanggal penayangan Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, pada 8 Oktober 2026 mendatang. 

Selain teaser trailer ini, Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment merilis poster film yang menampilkan satu informasi istimewa. Yakni, pergulatan Romo Rendra dan Romo Thomas kali ini akan tayang di bioskop Indonesia dalam format IMAX. 

Ada sejumlah fakta menarik terkait penayangan Kuasa Gelap: Perjanjian Darah dalam format dan teknologi bioskop premium ini. Apa saja?

 

1. Dipersiapkan Sejak Lama

Para pemain dan sineas film  Kuasa Gelap: Perjanjian Darah. (ist)
Para pemain dan sineas film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah. (ist)

Keputusan untuk menayangkan film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah dalam format IMAX tentu saja diambil dengan persiapan matang. Hal ini ditegaskan oleh produser sekaligus penulis film tersebut, Robert Ronny.

"Sejak awal, kami merancang Perjanjian Darah dengan skala yang jauh lebih besar, baik dari sisi dunia cerita, lokasi, maupun ancamannya. Format IMAX menjadi semacam stamp of approval bahwa film ini besar dari segi production value, skala, dan kualitas, karena IMAX punya standar internasional dan tidak semua film layak tayang di sana," kata Robert Ronny dalam keterangan tertulisnya. 

Ia menambahkan, "Bagi kami, ini jaminan bahwa Kuasa Gelap: Perjanjian Darah layak ditonton di bioskop.”

Diberikan pula bocoran tipis-tipis, bahwa Kuasa Gelap akan menggali lebih dalam masa lalu karakter Romo Rendra, termasuk latar belakangnya. Menariknya, kisah Romo Rendra yang ditampilkan di film kedua ini sudah ditulis oleh Robert Ronny sejak film pertamanya hadir.

Andi Boediman, produser eksekutif film ini, juga memberi sedikit petunjuk tentang cerita Kuasa Gelap: Perjanjian Darah. "Kami tidak membuat film tentang ketakutan. Kami membuat film tentang sesuatu yang lebih berat dari ketakutan, pilihan yang dibuat oleh satu generasi, dan yang harus dibayar oleh generasi berikutnya," tuturnya. 

2. Pengalaman Pertama Rizal Mantovani

Suasana syuting Kuasa Gelap: Perjanjian Darah karya sineas Rizal Mantovani. (Foto: Dok. Paragon Pictures)
Suasana syuting Kuasa Gelap: Perjanjian Darah karya sineas Rizal Mantovani. (Foto: Dok. Paragon Pictures)

Sepanjang kariernya, Rizal Mantovani telah menyutradarai puluhan fil, tapi Kuasa Gelap: Perjanjian Darah dipastikan mendapat tempat istimewa baginya. Pasalnya, ini adalah kali pertama karyanya tayang dalam format IMAX. 

"Saya juga bangga, setelah berkarier selama puluhan tahun, akhirnya untuk pertama kalinya film saya tayang dalam format IMAX,” ujar Rizal Mantovani.

Ia juga mengungkap cerita seperti yang bakal disampaikan dalam film ini. 

“Lewat Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, kami ingin membuat cerita yang dekat dengan keseharian, terutama dengan kondisi di Indonesia, dan semoga juga terasa relatable bagi penonton di seluruh dunia nanti. Cerita yang menyentuh seperti inilah yang akan membekas, dikenang dan menjadi pengalaman sinematik yang sangat menyenangkan," kata dia. 

3. Pengalaman Eksorsisme dalam Format IMAX

Teknologi IMAX menghadirkan sensasi menonton yang berbeda. Mulai dari layar yang lebih besar sampai memenuhi ruang pandang, hingga tata suaranya yang datang dari segala arah. Alhasil, pihak sineas hingga pemain meyakinkan bahwa teror hingga pergulatan dalam eksorsisme akan terasa imersif. Alias, penonton dibawa ikut terseret dan terkungkung dalam gejolak yang muncul di layar. 

 

Hal ini juga diungkap Lukman Sardi yang mengatakan, "Dengan pengalaman menonton di layar yang lebih besar dalam format IMAX, perjalanan eksorsisme yang akan dilihat penonton akan semakin imersif dan emosional,” ujar Lukman Sardi.

Ia juga menceritakan dinamika karakternya dalam sekuel yang naskahnya ditulis Robert Ronny dan Andri Cahyadi ini.

“Di film kedua ini, saya menggali lebih dalam sisi manusiawi yang ada di dalam karakter Romo Rendra. Bagaimana saat manusia berhadapan dengan iblis purba, yang dinamakan Rephaim," kata Lukman. 

Jerome Kurnia menambahkan, “Ketika Romo Rendra mulai goyah, Romo Thomas justru harus berdiri paling teguh. Tapi keyakinan yang terlalu besar pada diri sendiri bisa menjadi batu sandungannya."

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.