Mesin Ekonomi Baru Banjarmasin
Hari Widodo August 08, 2026 08:47 AM

Oleh: Muhamad Ikhsan Alhak, Pegiat Literasi di Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID- DI atas wilayah yang luasnya hanya sekitar 98 kilometer persegi, Banjarmasin menampung hampir 700 ribu penduduk.

Ruang daratnya terbatas, diapit sungai dan rawa yang sejak awal membentuk watak kota ini. Secara fisik, Banjarmasin nyaris tidak lagi memiliki kemewahan untuk terus memperluas wilayahnya. Namun, justru dari kota yang relatif kecil inilah denyut ekonomi kawasan terus berputar.

Fenomena itu tampak setiap akhir pekan. Tanpa festival besar, tanpa konser berskala nasional, dan tanpa perhelatan yang mengundang keramaian sesaat, pusat-pusat aktivitas di Banjarmasin tetap dipenuhi masyarakat.

Sebagian datang untuk berbelanja, mengantar anak kuliah atau sekolah, berobat, bertemu keluarga, menikmati kuliner, membangun relasi bisnis, atau sekadar melepaskan penat setelah rutinitas panjang.

Banyak pula yang menjadikan Banjarmasin sebagai basis aktivitas ketika berkunjung ke Banjarbaru, Kabupaten Banjar, maupun wilayah lain di Kalimantan Selatan. Keramaian itu bukanlah sebuah peristiwa, melainkan sebuah pola yang terus berulang.

Di sinilah letak cara pandang baru yang perlu kita bangun. Mesin ekonomi baru Banjarmasin bukanlah lahirnya sektor ekonomi baru, melainkan paradigma baru dalam memahami kota.

Nilai tambah ekonomi tidak lagi terutama ditentukan oleh apa yang diproduksi di dalam wilayahnya, tetapi oleh kemampuan kota menjalankan fungsi-fungsi strategis yang menghubungkan manusia, barang, jasa, pengetahuan, dan berbagai aktivitas ekonomi, sehingga pengaruhnya melampaui batas-batas administratifnya sendiri.

Paradoks Kota Kecil

Selama ini, ukuran kekuatan ekonomi sebuah kota sering dikaitkan dengan besarnya kawasan industri, luas wilayah, atau melimpahnya sumber daya alam.

Cara pandang seperti itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi tidak lagi cukup untuk menjelaskan fenomena Banjarmasin. Kota ini justru memperlihatkan gejala yang berbeda.

Di tengah keterbatasan ruang, aktivitas ekonomi terus bergerak karena kota ini mampu menjadi tempat bertemunya beragam kepentingan masyarakat dari berbagai daerah.

Orang datang ke Banjarmasin dengan beragam tujuan. Ada yang berbelanja, menempuh pendidikan, memperoleh layanan kesehatan, mengurus administrasi, menghadiri pertemuan bisnis, menikmati kuliner, membangun jejaring usaha, hingga sekadar menghabiskan akhir pekan bersama keluarga.

Sebagian masyarakat dari Kalimantan Tengah maupun kabupaten-kabupaten di Kalimantan Selatan bahkan menjadikan Banjarmasin sebagai basis aktivitas ketika melakukan berbagai urusan di kawasan Banjarbakula.

Kota ini bukan hanya menjadi tujuan perjalanan, tetapi juga menjadi simpul yang menghubungkan berbagai aktivitas ekonomi dan sosial di kawasan sekitarnya.

Karena itulah, keramaian Banjarmasin tidak bergantung pada penyelenggaraan acara-acara besar. Festival, konser, atau kegiatan berskala nasional memang dapat meningkatkan kunjungan, tetapi bukan itulah yang menghidupkan denyut kota sepanjang tahun.

Daya tarik Banjarmasin justru bersifat fungsional. Masyarakat terus datang karena kota ini menyediakan layanan, kemudahan, dan berbagai kebutuhan yang mereka cari. Ketika arus manusia terus mengalir, transaksi ekonomi pun ikut bergerak. Hotel, rumah makan, pusat perdagangan, transportasi, UMKM, hingga sektor jasa memperoleh manfaat dari aktivitas yang berlangsung setiap hari.

Di sinilah paradoks Banjarmasin menemukan penjelasannya. Kota yang wilayahnya relatif kecil ternyata mampu menghasilkan pengaruh ekonomi yang jauh melampaui ukuran fisiknya.

Kekuatan itu bukan terutama berasal dari luas wilayah, melainkan dari kemampuannya menjalankan fungsi sebagai pusat layanan regional yang mempertemukan manusia, barang, jasa, pengetahuan, dan berbagai aktivitas ekonomi dalam satu ekosistem perkotaan yang saling terhubung.

Membaca Ulang Mesin Ekonomi Kota

Pengamatan tersebut sejalan dengan pemikiran Jane Jacobs dalam The Death and Life of Great American Cities (1961). Jacobs menjelaskan bahwa kehidupan sebuah kota tidak terutama ditentukan oleh kemegahan bangunan atau besarnya proyek pembangunan, melainkan oleh keragaman fungsi dan intensitas interaksi manusia yang berlangsung setiap hari.

Kota yang hidup adalah kota yang mampu mempertemukan berbagai aktivitas dalam ruang yang sama sehingga saling menghidupkan.

Dalam konteks itulah, Banjarmasin sesungguhnya sedang memperlihatkan cara kerja sebuah mesin ekonomi perkotaan. Mesin itu bukanlah hotel, pusat perbelanjaan, rumah sakit, kampus, pelabuhan, ataupun pasar secara terpisah.

Semuanya hanyalah komponen. Mesin yang sesungguhnya adalah keterhubungan antarfungsi kota yang secara bersama-sama menarik arus manusia, menciptakan transaksi, menghasilkan nilai tambah ekonomi, kemudian kembali memperkuat fungsi kota itu sendiri.

Karena itu, mesin ekonomi baru Banjarmasin tidak dapat dipahami melalui pendekatan sektoral semata. Yang menggerakkan ekonomi kota ini bukan satu sektor yang paling dominan, melainkan kemampuan seluruh fungsi perkotaan bekerja sebagai satu ekosistem yang saling memperkuat.

Cara pandang tersebut sekaligus mengubah orientasi pembangunan kota. Selama ini, keberhasilan ekonomi daerah sering diukur dari lahirnya sektor-sektor unggulan baru atau bertambahnya kawasan terbangun.

Bagi Banjarmasin, ukuran seperti itu tidak lagi memadai. Dengan ruang yang semakin terbatas, tantangan terbesar kota ini bukan memperluas wilayah, melainkan meningkatkan kualitas fungsi-fungsi perkotaannya.

Jika selama lima abad pertama Banjarmasin membangun pengaruhnya melalui peran historisnya sebagai simpul perdagangan, jasa, dan pergerakan manusia, maka pada masa pascalima abad, daya saingnya akan ditentukan oleh kemampuannya meningkatkan kualitas layanan, memperkuat fungsi-fungsi perkotaan, serta menciptakan nilai tambah ekonomi yang melampaui batas wilayah administratifnya.

Pada akhirnya, aset strategis terbesar Banjarmasin pada masa pascalima abad bukan lagi semata-mata ruang yang dimilikinya, melainkan kepercayaan masyarakat yang terus memilih kota ini sebagai tempat untuk belajar, berdagang, berobat, bekerja, bertransaksi, membangun relasi, mengembangkan usaha, hingga sekadar menikmati suasana kota untuk melepaskan penat kehidupan.

Memasuki usia lima abad, barangkali itulah pelajaran terpenting yang dapat dipetik Banjarmasin. Masa depannya tidak lagi ditentukan oleh bertambahnya luas wilayah, melainkan oleh kemampuannya menjaga kepercayaan, meningkatkan kualitas fungsi-fungsi perkotaan, serta terus menghadirkan alasan bagi masyarakat untuk datang, beraktivitas, dan kembali memilih kota ini. Sebab, di sanalah sesungguhnya mesin ekonomi Banjarmasin bekerja. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.