Dukung Wisata Pecinaan Tappanjeng, Mahasiswa KKN Unhas Gali Sejarah Tionghoa di Bantaeng
Sudirman August 08, 2026 10:22 AM

Citizen Reporter: Rezki Amalyah Putri

Mahasiswa KKN Tematik Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM, BANTAENG — Mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin (Unhas) ikut memburu jejak sejarah komunitas Tionghoa di Tappanjeng, Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Kelurahan Tappanjeng menjadi daerah tempat komunitas Tionghoa di Bantaeng.

Luas Wilayah Tappanjeng tercatat memiliki luas wilayah 27,79 Hektar.

Mahasiswa KKN Unhas juga diskusi khusus dengan mantan Ketua Yayasan Budi Mulya Bantaeng, Koko Budi.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja mahasiswa KKN Unhas dalam menggali data primer sejarah yang valid dan objektif langsung dari narasumber kunci.

Kawasan Pecinaan Tappanjeng sendiri telah dikukuhkan Bupati Bantaeng, Fathul Fauzy Nurdin, pada perayaan Imlek 2024 sebagai salah satu pusat warisan budaya dan sejarah di Bantaeng.

Lurah Tappanjeng, Abd Azis, mengapresiasi atas inisiatif mahasiswa dan menegaskan komitmen pemerintah kelurahan untuk mendukung penuh publikasi sejarah digital lokal.

“Kami dari Pemerintah Kelurahan Tappanjeng sangat mendukung penuh inisiatif mahasiswa KKN Unhas ini," ujarnya.

Dokumentasi sejarah keberadaan etnis Tionghoa di Tappanjeng akan menjadi aset yang sangat berharga di website kelurahan.

"Ini bukan hanya tentang menjaga memori kolektif dan toleransi warga, tetapi juga menjadi daya tarik wisata sejarah yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujar Abd. Azis.

Pendataan sejarah ini tidak hanya penting untuk merawat ingatan kolektif warga, tetapi juga memiliki nilai ekonomi berbasis pariwisata.

"Ini bukan hanya tentang menjaga memori kolektif dan toleransi warga, tetapi juga menjadi daya tarik wisata sejarah yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,"tegasnya.

Mahasiswa KKN Tematik Tappanjeng Unhas, Rezki Amalyah Putri, menjelaskan bahwa keterlibatan pemerintah kelurahan dan tokoh masyarakat sangat krusial untuk memastikan keabsahan narasi sejarah.

“Melalui diskusi bersama Eks Ketua Yayasan Budi Mulya, Koko Budi, dan Ketua Yayasan, serta arahan dari Lurah Tappanjeng, kami mendapatkan gambaran yang utuh dan objektif mengenai perjalanan sejarah serta kontribusi etnis Tionghoa di Tappanjeng," ujarnya.

Rezki menguraikan, jejak etnis Tionghoa di Bantaeng terbentang panjang sejak abad ke-14 yang tercatat dalam kitab Nagarakretagama, berkembang pesat pada era We Fang di abad ke-17, hingga membentuk harmoni sosial-ekonomi melalui kontribusi berbagai fam atau marga Tionghoa hingga saat ini.

Mantan Ketua Yayasan Budi Mulya, Koko Budi, mengapresiasi kolaborasi sinergis antara akademisi, pemerintah kelurahan, dan tokoh masyarakat.

Pihak yayasan menegaskan bahwa masyarakat Tionghoa di Tappanjeng selalu terbuka dan berkomitmen menjaga keharmonisan bersama warga lokal.

“Diskusi ini menjadi momentum baik untuk menyambung narasi sejarah lintas generasi. Kami di Yayasan Budi Mulya sangat mendukung ini agar nilai-nilai keharmonisan, toleransi," ujarnya.

Ia berharap potensi ekonomi Kawasan Pecinaan Tappanjeng semakin dikenal luas oleh masyarakat Bantaeng maupun wisatawan luar.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.