TRIBUNMANADO.CO.ID - North Sulawesi Investment Forum (NISF) 2026 menjadi ajang promosi potensi investasi unggulan Sulawesi Utara.
NSIF yang digagas Regional Investor Relations Unit (RIRU) Sulawesi Utara dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut berlangsung di Four Points by Sheraton Manado, Jumat 7 Agustus 2026.
Dalam forum ini diumumkan pemenang North Sulawesi Investment Challeng, tiga proyek siap investasi di Sulawesi Utara.
Ketiga proyek tersebut, juara pertama, Modernisasi dan Pengembangan Sistem Gas Medis Terintegrasi di RS Liun Kendage Tahuna (Pemkab Kepulauan Sangihe)
Lalu, juara kedua, Kawasan Pariwisata Terpadu MBH/Mokupa (Pemprov Sulawesi Utara) dan juara ketiga, Revitalisasi Taman Sitaro Masadada Area Boulevard Ulu (Kepulauan Sitaro).
NSIF 2026 menjadi forum bagi 17 pemilik proyek untuk mempromosikan proyek unggulan yang telah terkurasi dan berstatus 'ready to offer and invest' kepada calon investor.
NSIF juga mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Beberapa investor luar negeri di antaranya berasal dari Selandia Baru, Hong Kong dan Filipina.
Kepala Perwakilan BI Sulawesi Utara, Joko Supratikto memaparkan RIRU yang merupakan bagian dari NSIF bertujuan mendorong investasi yang memberi nilai tambah ekonomi bagi daerah.
"Di sini, kita mempertemukan pemerintah, investor dan calon investor dengan konsep one on one, bahkan nantinya ada peninjauan lokasi proyek," kata Joko Supratikto.
Katanya, NSIF bertujuan memastikan proyek yang tepat, dapat ditawarkan dan direalisasikan investor dan dapat memberikan keuntungan kepada semua pihak.
Ia menjelaskan, potensi investasi Sulawesi Utara sangat beragam.
Sulut memiliki portofolio project investasi di sektor perikanan, pariwisata, kawasan industri, transportasi publik, penyediaan air minum hingga layanan kesehatan.
Artinya, potensi investasi daerah tidak hanya bergantung pada pemanfaatan SDA
Dijelaskannya, ekonomi Sulawesi Utara tetap berada di momentum yang tepat.
Di mana pada triwulan II 2026, Pertumbuhan Ekonomi Sulut tercatat 5,42 persen.
Meskipun melambat dibanding triwulan I tapi Pertumbuhan Ekonomi Sulut kembali berada di atas angka nasional.
Jika di simak, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 7,12 persen dan konstruksi juga tumbuh 7 persen sekian.
Ini menandakanpeningkatan aktivitas pembangunan dan pembentukan kapasitas ekonomi baru di Sulut.
Sementara dari sisi realisasi investasi, penanaman modal memberikan kontribusi pada perekonomian daerah.
Meskipun, realisasi investasi masih terkonsentrasi pada sektor tertentu.
"Pembangunan investasi di Sulut telah terbentuk. Tantangannya, memastikan momentum itu menghasilkan investasi yang makin diversifikasi, bernilai tambah dan berdampak ekonomi lebih luas," jelasnya.
Sementara itu, bagi investor, potensi dan momentum ekonomi saja tidak cukup.
Mereka membutuhkan komitmen proyek yang jelas, informasi memadai, proyek yang siap dan dukungan koordinasi berkelanjutan.
"Di sinilah RIRU punya peran strategis. Sinergi bersama mewujudkan investasi," katanya.
Lebih jauh ia menjelaskan, RIRU 2026 mengawal dan menghasilkan proyek yang siap dikerja samakan dengan investor.
BI sebagai fasilitator tidak sekadar menghimpun daftar proyek tapi melakukan kurasi, penguatan kapasitas pemilik proyek, penilaian substansi serta penajaman proposal sehingga memiliki informasi yang jelas dan kredibel sesuai kebutuhan investor.
Agar sesuai standar International Best Practices, RIRU menggandeng PT Sarana Multi Infrastructure sebagai penyedia capacity building utama dan brand internasional sebagai konsultan investasi.
Pengembangan proyek baru dimulai dengan Dedicated Team Meeting RIRU untuk menyaring proyek stategis dari tiap kabupaten kota.
Dilanjutkan dengan North Sulawesi Investment Challenge yang diikuti 17 proyek potensial.
Selanjutnya ada tiga proyek utama yang berstatus proyek yang siap menerima investasi.
Kemudian, pendampingan RIRU tidak hanya menyiapkan proyek tapi melakukan investment after care.
Wujudnya pada NSIF, 17 proyek potensial unggulan ini melakukan one to one meeting dengan para investor.
Dengan demikian, proyek yang ditawarkan tidak disiapkan secara instan dan tidak sekadar dipromosikan.
Proyek dikembangkan melalui pendampingan yang terstruktur agar semakin layak dan siap dipresentasikan dan memiliki peluang besar direalisasikan.
"Paling akhir, paling penting kalah protek yang memiliki potensi besar harus direalisasikan. Proyek sebagus apapun tidak ada artinya jika tidak direalisasikan, hanya berhenti di proposal dan pameran-pameran," ujarnya.
Direktur Wilayah III Kementerian Investasi Hilirisasi/BKPM, Abdul Qodir menitipkan pesan agar proyek yang sudah ada peminat harus dikawal.
"Fasilitasi, pastikan informasinya jelas, insentif dan jaminan lainnya," kata Qodir yang menyampaikan arah kebijakan investasi nasional yang menitik beratkan pada hilirisasi, investasu hijau dan berkelanjutan.
Hadir dalam forum ini, Wagub Sulut, J. Victor Mailangkay; Deputi Head of Mission Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Hamzah Haidon;
Konjen Filipina di Manado, Marry Jennifer Domingo Dingal; Waketum Kadin Pusat, Sarman Simanjorang; Kepala OJK Sulutgo, Robert Sianipar dan Kepala BPS Sulut, Watekhi.
Selain itu, para bupati wali kota di Sulut; pimpinan perbankan, pengurus badan usaha milik daerah Sulut dan pelaku usaha dan asosiasi pengusaha.
(TribunManado.co.id/Ndo)