Liputan6.com, Jakarta - Burnout dan stres kerap dianggap sebagai dua kondisi yang sama karena dapat membuat seseorang merasa lelah, kewalahan, dan sulit berkonsentrasi. Padahal, keduanya memiliki perbedaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan istilah burnout kerap digunakan kurang tepat terutama di kalangan anak muda seperti diungkap pakar psikologi industri dan organisasi dari Fakultas Psikologi UGM, Sumaryono.
“Yang sering terjadi itu sebenarnya stres, bukan burnout. Karena burnout itu cenderung lebih parah,” katanya Sumaryono.
Burnout adalah kondisi yang lebih berat karena mencakup kelelahan fisik, emosional, dan mental secara bersamaan. Secara psikologis, kata Maryono, burnout ditandai oleh rasa tidak berdaya yang dalam.
“Kalau sakit kepala atau pusing, itu tergolong stres. Burnout itu betul-betul merasa tidak mampu dan kelelahan berat untuk melakukan suatu aktivitas dan aktivitas-aktivitas lainnya,” ujar Maryono mengutip laman UGM.
Dalam burnout ada tiga komponen utama seperti disampaikan psikolog Rizka Ramadhani Savira Tatyagita yakni:
Rizka mengatakan efek dari burnout ada banyak. Diantaranya cenderung sulit berkonsentrasi, mudah lupa, serta merasa cemas dan khawatir terutama terkait pekerjaan pekerjaan. Lalu, bisa juga mengalami masalah tidur akibat stres seperti mengutip laman Universitas Airlangga.
Sumaryono mengatakan ada beberapa cara untuk mencegah burnout yakni dengan CHANGE.
Metode ini mencakup: