SURYA.CO.ID - Ini lah sosok Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia yang menilai Destry Damayanti adalah salah satu figur yang tepat untuk memimpin Bank Indonesia (BI).
Saat ini, Destry Damayanti adalah Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia sekaligus menjabat Gubernur BI sementara setelah Perry Warjiyo mundur.
Fakhrul menilai Destry memiliki pengalaman yang lengkap, mulai dari dunia akademik, pasar keuangan, perbankan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), hingga menjadi bagian dari jajaran Dewan Gubernur BI sejak 2019.
"Menurut saya, apabila Ibu Destry nantinya dicalonkan, beliau merupakan figur yang tepat untuk memimpin Bank Indonesia. Pengalamannya sangat lengkap, mulai dari ekonom pasar, perbankan, LPS, hingga lebih dari tujuh tahun berada di jajaran pimpinan BI," ujar Fakhrul dalam keterangan tertulis, Jumat (7/8/2026).
Menurut Fakhrul kombinasi pengalaman di pasar keuangan dan institusi tersebut menjadi modal penting bagi Gubernur BI berikutnya, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global yang semakin kompleks.
Baca juga: Besaran Gaji Gubernur BI 2026, Disorot Imbas Perry Warjiyo Mundur dan Belum Ada Penggantinya
Menurut dia, tantangan bank sentral saat ini tidak lagi hanya berkutat pada inflasi dan suku bunga.
Bank sentral juga harus menghadapi fragmentasi perdagangan global, perubahan rantai pasok, meningkatnya peran kebijakan industri, ketidakseimbangan likuiditas global, volatilitas arus modal, hingga perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.
"Dunia yang akan dihadapi Gubernur BI berikutnya bukan dunia yang sama dengan ketika kerangka inflation targeting pertama kali dibangun," kata Fakhrul.
Fakhrul mengatakan perubahan struktur ekonomi global membuat bank sentral perlu memiliki kemampuan membaca berbagai sumber tekanan ekonomi, termasuk yang berasal dari sisi penawaran dan perkembangan geopolitik.
Karena itu, menurut dia, Gubernur BI berikutnya perlu mampu menerjemahkan perubahan global tersebut ke dalam kebijakan domestik, tanpa mengorbankan independensi bank sentral.
Fakhrul menegaskan independensi BI tetap menjadi fondasi utama kredibilitas kebijakan moneter.
Namun, independensi tersebut bukan berarti BI harus bekerja sendiri.
"Koordinasi dan independensi bukan dua hal yang bertentangan. BI harus tetap independen dalam mengambil keputusan sesuai mandatnya, tetapi pada dunia yang semakin kompleks, bank sentral juga harus memahami konsekuensi kebijakannya terhadap fiskal, perbankan, pasar keuangan, dunia usaha, dan neraca pembayaran secara keseluruhan," jelasnya.
Selain bauran kebijakan, Fakhrul menilai komunikasi akan menjadi salah satu pekerjaan penting Gubernur BI berikutnya.
Menurut dia, pasar saat ini sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan sehingga komunikasi bank sentral bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian dari instrumen kebijakan.
Pasar, lanjut Fakhrul, membutuhkan kejelasan mengenai arah dan urutan kebijakan BI, termasuk kapan kebijakan diarahkan untuk stabilisasi, kapan memasuki fase normalisasi, serta bagaimana bank sentral menggunakan instrumen selain suku bunga.
Fakhrul menilai komunikasi BI juga perlu bergeser dari sekadar menjelaskan naik-turunnya BI Rate menjadi penjelasan yang lebih luas mengenai pergerakan likuiditas dan transmisi kebijakan moneter.
"Kita harus mulai bergerak dari komunikasi yang terlalu berpusat pada price of money menuju komunikasi yang juga menjelaskan flow of money," kata dia.
Ia menambahkan, BI perlu menjelaskan bagaimana likuiditas bergerak, transmisi moneter bekerja, kurva imbal hasil dinormalisasi, serta bagaimana stabilitas rupiah dijaga tanpa membuat pembiayaan sektor produktif terlalu lama berada dalam kondisi ketat.
Menurut Fakhrul, pengalaman Destry di pasar keuangan sekaligus di dalam institusi BI menjadi relevan untuk menghadapi tantangan tersebut.
"Gubernur BI berikutnya harus mampu berbicara dalam tiga bahasa sekaligus: bahasa stabilitas kepada publik, bahasa kredibilitas kepada pasar, dan bahasa koordinasi kepada pemerintah," ujarnya.
Pada akhirnya, Fakhrul menilai pergantian kepemimpinan BI harus menjadi momentum untuk memperkuat institusi, bukan sekadar mengganti figur.
Ia berharap BI tetap memiliki arah kebijakan yang konsisten dan independen meskipun terjadi pergantian kepemimpinan.
Fakhrul Fulvian saat ini menjabat sebagai Chief Economist di Trimegah Sekuritas Indonesia.
Fakhrul sering menjadi narasumber atau menulis analisis ekonomi makro dan pasar modal di berbagai media nasional.
Fakhrul meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 2010.
Keahliannya berfokus pada analisis kuantitatif, ekonometrika keuangan, dan kebijakan makroekonomi.
Fakhrul juga aktif menganalisis pergerakan saham, obligasi, nilai tukar rupiah, serta arah kebijakan suku bunga.
Dia juga dipercaya menjabat sebagai Direktur Insight di Kadin Indonesia Institute.
SElain itu, dia juga berperan sebagai Chairman dari Indonesia Roundtable of Young Economist.
Dia pernah meraih peringkat 1 sebagai Best Individual in Research in Local Currency Government Bond dari The Asset Benchmark Research Award pada tahun 2021 dan 2022.
Dikutip dari bi.go.id, Desty Damayanti lahir di Jakarta pada tahun 1963.
Gelar Sarjana Ekonomi diraih dari Universitas Indonesia, sementara gelar Master of Science dari Field of Regional Science Cornell University, New York, USA.
Destry Damayanti mengawali karier sebagai Senior Economic Adviser Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada tahun 2000-2003.
Dia juga tercatat sebagai peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 2005-2006.
Selain itu, Destry juga menjadi Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas pada tahun 2005-2011.
Kariernya berlanjut menjadi Kepala Ekonom Bank Mandiri pada tahun 2011-2015.
Dia kemudian menjadi Ketua Satuan Tugas Ekonomi Kementerian BUMN pada tahun 2014-2015 serta sebagai Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk periode 2015-2019.
Pada 2019, Destry Damayanti diajukan Presiden Joko Widodo sebagai calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI).
Dalam uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI DPR RI, ia memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi bank sentral, mulai dari menjaga stabilitas nilai tukar hingga mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.
Menurut Destry, perubahan lanskap ekonomi akibat digitalisasi menuntut Bank Indonesia untuk menjadi institusi yang lebih proaktif, adaptif, dan inovatif dalam merumuskan kebijakan.
"Dengan landscape perekonomian yang berubah dengan digitalisasi BI harus proaktif, adaptif, dan inovatif dalam bentuk respons kebijakan," ujarnya saat itu.
Ia juga menekankan bahwa digitalisasi sistem pembayaran harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok berpendapatan rendah dan pelaku UMKM, agar dapat meningkatkan kesejahteraan.
"Sistem pembayaran, digitalisasi harus bisa dimanfaatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama yang berpendapatan rendah dan UMKM untuk meningkatkan kesejahteraan," papar Destry.
Selain itu, Destry menilai pendekatan yang adaptif akan membantu Bank Indonesia meminimalkan dampak volatilitas ekonomi global terhadap perekonomian nasional.
Ia juga menegaskan pentingnya optimalisasi bauran kebijakan BI yang meliputi kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, koordinasi antarlembaga, serta pendalaman pasar keuangan sebagai upaya menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Destry Damayanti akhirnya resmi menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden RI No.74/P Tahun 2019 tanggal 29 Juli 2019 untuk periode 2019-2024, dan mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 7 Agustus 2019.
Pada Keputusan Presiden RI Nomor 74/P Tahun 2024 tanggal 10 Juli 2024 Destry Damayanti kembali ditetapkan menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia untuk periode 2024-2029, dan mengucapkan sumpah jabatan pada tanggal 7 Agustus 2024. (kompas.com)