TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinda Afrillia datang ke Yogyakarta dari Bogor dengan satu bayangan sederhana tentang dunia teater.
Saat memutuskan kuliah di Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ia mengira akan banyak belajar akting dan suatu hari bisa menjadi artis.
Namun, beberapa tahun menjalani pendidikan justru membuat pandangannya berubah total.
Perjalanannya menuju dunia teater berawal dari kegemaran tampil sejak duduk di bangku sekolah.
Setiap ada pentas drama di SMP maupun SMA, ia selalu antusias terlibat. Ketika harus menentukan jurusan kuliah, Dinda memilih mengikuti hal yang paling ia nikmati.
"Saya merasa harus memilih jurusan yang saya sukai, yang saya enjoy melakukannya. Akhirnya saya merasa seni teater cocok untuk saya jadikan pendidikan di perguruan tinggi," ujarnya.
Namun, kehidupan kampus membawanya mengenal sisi lain seni pertunjukan.
Ia baru menyadari bahwa teater bukan hanya tentang aktor di atas panggung.
Ada penyutradaraan, tata artistik, tata rias panggung, kostum, manajemen produksi, hingga berbagai pekerjaan di balik layar yang sama pentingnya dalam menghadirkan sebuah pertunjukan.
"Ternyata teater itu bukan hanya di panggung, tetapi di belakang panggung atau memproduksi suatu teater itu lebih banyak lagi ilmunya," katanya.
Menurut Dinda, justru banyak pelajaran berharga yang ia dapatkan di luar ruang kuliah.
Ia aktif membantu produksi tugas akhir kakak tingkat, terlibat dalam berbagai pementasan, hingga belajar langsung di lapangan.
Dari proses itu, ia memahami bahwa teori hanyalah bekal awal, sedangkan kemampuan sesungguhnya ditempa melalui pengalaman.
Pengalaman paling menantang datang saat mengerjakan tugas akhir dengan fokus keaktoran.
Ia harus menghidupkan seorang tokoh, bukan sekadar memerankannya.
Untuk itu, Dinda melakukan observasi mendalam terhadap karakter yang dimainkan, mulai dari kebiasaan, cara berpikir, hingga latar belakang kehidupannya.
Baca juga: Banyak Pemain Diaspora, Kenapa Timnas Indonesia Tetap Gagal di Piala AFF 2026?
Bahkan, ia mencoba membawa kebiasaan tokoh tersebut ke dalam kesehariannya agar karakter itu terasa lebih hidup.
Proses itu ternyata ikut mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Jika dulu ia mudah menilai seseorang dari sikap yang terlihat, kini ia lebih memilih memahami alasan di balik perilaku orang lain.
"Kalau melihat orang lain, saya jadi berpikir lagi, mungkin ada latar belakang yang membuat mereka seperti itu. Jadi tidak langsung menilai orang saat itu juga," ujarnya.
Meski dunia seni pertunjukan masih menghadapi tantangan, mulai dari mencari dukungan hingga menghadirkan penonton, Dinda memilih bertahan.
Baginya, tantangan tersebut justru menjadi ruang belajar untuk menghadirkan pertunjukan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Dinda pun dipercaya menjadi Ketua Pelaksana Festival Teater Remaja Nusantara (FTRN) 2026, ajang yang mempertemukan kelompok teater pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.
Pengalaman memimpin FTRN menjadi salah satu cara baginya memahami bagaimana sebuah festival dapat dikemas agar menarik minat publik.
Selain aktif di dunia teater, Dinda juga bergabung sebagai pengurus inti Yayasan Rumah Pantomim Yogyakarta.
Ketertarikannya pada pantomim muncul setelah melihat perkembangan seni tersebut di Yogyakarta yang jauh lebih hidup dibandingkan daerah asalnya.
Ia ingin ikut memperkenalkan pantomim sebagai seni pertunjukan yang memiliki prospek besar, bukan sekadar hiburan.
Ke depan, ia ingin memperdalam manajemen seni pertunjukan agar mampu memproduksi lebih banyak acara yang berkualitas.
Menurutnya, keberhasilan sebuah pertunjukan tidak hanya ditentukan oleh aktor di atas panggung, tetapi juga oleh orang orang yang bekerja di balik layar.
Di balik seluruh proses itu, ada satu pelajaran yang paling membekas bagi Dinda.
Teater telah mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Dari remaja yang mengaku pemalu dan sulit berbicara di depan umum, kini ia terbiasa menyampaikan ide, memimpin tim, hingga mengelola sebuah festival nasional.
"Teater itu bukan sekadar belajar acting. Saya belajar berbicara di depan orang, menyampaikan ide, dan lebih percaya diri. Itu yang paling saya rasakan sampai sekarang," tuturnya.(nto)