WARTAKOTALIVE.COM, CIRACAS - Harapan Prisca Indriyawati untuk memiliki hunian yang terintegrasi dengan transportasi publik harus pupus setelah pembangunan Apartemen LRT City Ciracas, Jakarta Timur, tak kunjung rampung meski telah menunggu hampir lima tahun.
Perempuan yang bekerja di salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov DKI Jakarta itu membeli unit apartemen pada 2021 karena tertarik dengan konsep transit oriented development (TOD) yang terhubung langsung dengan Stasiun LRT Jabodebek Ciracas.
Menurut Prisca, lokasi apartemen tersebut sangat strategis untuk menunjang mobilitasnya sehari-hari menuju kantor di kawasan Halim, Jakarta Timur.
Selama ini, ia harus mengeluarkan biaya transportasi sekitar Rp 30.000 hingga Rp 35.000 per hari untuk berangkat dan pulang kerja menggunakan angkutan umum.
Dari kontrakannya di Jakarta Selatan, Prisca biasanya berangkat sekitar pukul 06.00 WIB menggunakan TransJakarta menuju Stasiun Pasar Minggu, kemudian melanjutkan perjalanan dengan KRL Commuter Line menuju Stasiun Cawang.
Dari sana, ia berpindah ke LRT Jabodebek melalui Stasiun Cikoko sebelum turun di Stasiun Halim dan berjalan kaki menuju kantornya.
Baca juga: Kebakaran Gedung Bapenda DKI Jakarta Dinyatakan Padam, Petugas Gulkarmat Siagakan 2 Mobil Damkar
Ketertarikan Prisca terhadap Apartemen LRT City Ciracas bermula saat melihat promosi proyek tersebut di media sosial pada akhir 2020.
Saat itu, pembangunan fisik gedung sudah berjalan sehingga membuatnya yakin proyek tersebut akan selesai sesuai jadwal.
"Setelah survei, akhirnya saya membeli unit pada tahun 2021. Saat itu fisiknya sudah ada dan sedang dibangun. Saya melihat proyeknya cukup meyakinkan sehingga tertarik," kata Prisca kepada Warta Kota, Sabtu (8/8/2026).
Selain lokasi yang hanya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari Stasiun LRT Ciracas, ia juga mendapat informasi bahwa kawasan tersebut akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung seperti pusat kebugaran dan ruang terbuka hijau.
Bagi Prisca, apartemen menjadi pilihan yang realistis untuk memiliki hunian di Jakarta dengan harga yang masih dapat dijangkau kalangan menengah.
Ia kemudian membeli unit studio seluas 24 meter persegi di lantai 18 dengan harga sekitar Rp 582 juta.
Untuk mendapatkan unit tersebut, Prisca membayar uang muka sekitar Rp 40 juta hingga Rp 50 juta dan melanjutkan pembayaran melalui fasilitas Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) dengan tenor 15 tahun.
Cicilan mulai berjalan pada November 2021 dengan skema bunga mengambang (floating rate).
Pada tahun pertama, cicilan yang harus dibayar sekitar Rp 4,3 juta per bulan.
Saat itu, ia dijanjikan dapat menempati unit pada pertengahan 2022.
Namun, memasuki pertengahan 2022, pembangunan proyek dinilai tidak menunjukkan perkembangan signifikan.
Menurut Prisca, kondisi bangunan masih sama seperti saat pertama kali ia membeli unit.
Kerangka bangunan setinggi 18 lantai memang sudah berdiri, tetapi belum menunjukkan progres penyelesaian yang berarti.
"Ketika saya datang ke lokasi, pekerjanya hanya terlihat dua atau tiga orang. Belum ada perkembangan yang signifikan," ujarnya.
Janji serah terima kemudian bergeser ke akhir 2022, lalu kembali mundur ke pertengahan 2023.
Setelah itu, target penyelesaian kembali diundur ke 2024 hingga akhirnya tidak pernah terealisasi.
"Terus mundur. Akhirnya saya capek bertanya dan memilih tetap membayar cicilan sambil menunggu kepastian," katanya.
Sementara itu, nilai cicilan terus meningkat mengikuti penyesuaian suku bunga.
Pada tahun kedua, cicilan naik menjadi sekitar Rp 4,5 juta per bulan, kemudian Rp 4,8 juta pada tahun ketiga.
Memasuki tahun keempat, cicilan menembus Rp 5 juta per bulan dan pada tahun kelima mencapai sekitar Rp 5,8 juta.
Ajukan Pembatalan dan Pengembalian Dana
Setelah menunggu selama hampir lima tahun tanpa kepastian, Prisca akhirnya memutuskan membatalkan pembelian unit pada akhir 2025.
Sebelumnya, ia terus meminta kejelasan kepada pihak pengembang mengenai progres pembangunan.
Namun menurutnya, jawaban yang diterima tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yakni janji bahwa unit akan segera selesai dan dapat dihuni.
"Pihak pengembang sempat meminta saya bertahan dengan janji unit bisa ditempati pertengahan 2026. Tapi saya sudah terlalu kecewa," ujarnya.
Berdasarkan catatan rekening koran yang dimilikinya, total dana yang telah dibayarkan mencapai sekitar Rp 250 juta.
Namun setelah proses pembatalan, dana yang dikembalikan hanya sekitar Rp 90 juta karena sebagian besar pembayaran sebelumnya dialokasikan untuk bunga kredit.
Selama proyek belum selesai, Prisca mengaku sempat ditawari kompensasi berupa tempat tinggal sementara di apartemen milik pengembang yang berada di kawasan Jatibening, Bekasi, maupun Sentul, Bogor.
Ia sempat memilih opsi Jatibening karena aksesnya dinilai lebih dekat dengan tempat kerja.
Namun, karena unit di lokasi tersebut disebut sudah penuh, ia hanya ditawari unit di Sentul.
Menurut Prisca, ia kemudian meminta kompensasi dalam bentuk uang tunai. Namun nominal yang ditawarkan disebut terbatas.
"Saya akhirnya meminta kompensasi uang, tetapi jumlahnya dibatasi maksimal sekitar Rp 15 juta," katanya.
Kini, Prisca mengaku tidak lagi berharap proyek tersebut segera selesai.
Fokus utamanya adalah mendapatkan kembali dana yang masih menjadi haknya.
Apalagi, kebutuhan hidup keluarga terus meningkat seiring bertambahnya tanggung jawab setelah menikah dan memiliki anak.
Ia mengaku sempat harus menanggung beban ganda, yakni membayar sewa rumah sekitar Rp 3,5 juta per bulan dan cicilan apartemen yang mencapai Rp 5,8 juta.
"Anak saya sudah mau satu tahun. Sekarang harus mulai memikirkan biaya pendidikan dan kebutuhan keluarga. Saya sudah tidak berharap apartemen itu selesai," ujarnya.
Warta Kota meninjau langsung lokasi Apartemen LRT City Ciracas pada Sabtu (8/8/2026).
Dari pengamatan di lapangan, tidak terlihat aktivitas pekerja konstruksi di area gedung.
Di pintu masuk proyek tampak hanya terdapat pos keamanan dengan dua petugas yang berjaga.
Sementara dari sisi belakang yang menghadap Stasiun LRT Jabodebek Ciracas, struktur bangunan parkir terlihat telah rampung.
Sebagian besar jendela kaca pada unit apartemen juga sudah terpasang dan beberapa sisi bangunan telah dicat.
Meski demikian, sejumlah bagian gedung masih tampak belum selesai dan belum menunjukkan aktivitas konstruksi yang signifikan.