TRIBUNGORONTALO.COM -- Musim kemarau mulai memberikan dampak terhadap tanaman petani di sejumlah wilayah Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.
Tanaman jagung di beberapa lahan mulai menguning dan mengering. Petani pun harus menyiram tanaman secara manual untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah hujan yang belum kunjung turun.
Kondisi tersebut terlihat saat Tribun Gorontalo melakukan pemantauan di sejumlah lahan pertanian di Kecamatan Tilongkabila, Sabtu (8/8/2026).
Pemantauan pertama dilakukan sekitar pukul 10.10 Wita di Desa Iloheluma.
Dari jalan utama, hamparan persawahan di wilayah tersebut masih terlihat menghijau.
Tanaman padi tampak tumbuh cukup baik dan belum menunjukkan tanda-tanda kekeringan parah.
Baca juga: BGN Tegaskan SLHS Jadi Syarat Mutlak Dapur MBG, 950 SPPG Terancam Tutup
Kondisi tanah di sekitar persawahan juga masih cukup mendukung pertumbuhan tanaman karena ketersediaan air masih memadai untuk mengairi lahan.
Sejumlah petani terlihat beraktivitas di bagian tengah lahan, membersihkan area persawahan dan kebun mereka.
Namun, kondisi berbeda terlihat ketika pemantauan dilanjutkan ke Desa Moutong.
Di wilayah ini, lahan pertanian didominasi tanaman jagung.
Selain jagung, warga juga menanam tomat, kacang panjang, pepaya serta sejumlah tanaman lainnya.
Hamparan tanaman jagung menunjukkan kondisi yang beragam.
Sebagian tanaman masih terlihat hijau, sementara lainnya mulai menguning dan mengering.
Ada tanaman jagung yang sudah cukup tinggi, tetapi bagian daunnya mulai terlihat kering.
Beberapa tanaman yang masih berukuran kecil juga menunjukkan tanda-tanda kekurangan air.
Di tengah lahan yang mulai mengering, terlihat selang air membentang dari belakang rumah warga menuju area perkebunan.
Selang tersebut digunakan untuk membantu menyiram tanaman, terutama ketika cuaca panas dan hujan belum turun.
Kondisi tanah di sejumlah bagian lahan juga terlihat kering dan berdebu.
Tak hanya jagung, beberapa tanaman pepaya dan tanaman lainnya juga terlihat tumbuh di tengah lahan yang mulai kehilangan kelembapan.
Petani Mulai Khawatir Hasil Panen
Salah seorang warga, Idris, ditemui Tribun Gorontalo saat sedang memindahkan sapinya.
Ia mengatakan petani kini harus lebih intens menyiram tanaman untuk menjaga agar tanaman tidak semakin rusak.
"Kalau mendekati siang memang sudah pulang petani, biasanya mereka siram tanaman pagi dan sore hari," ungkapnya.
Menurut Idris, kondisi tanaman petani berbeda-beda karena waktu tanam dan masa panen tidak berlangsung bersamaan.
Sebagian petani telah memanen hasil tanaman mereka, sementara lainnya masih menunggu tanaman memasuki masa panen.
"Berbeda-beda, ada yang sudah panen tapi ada yang masih menanam. Tapi rata-rata tanaman masih dalam proses pertumbuhan," ujarnya.
Ia mengatakan tanaman jagung menjadi salah satu komoditas yang mulai terdampak kondisi kering.
Keadaan tersebut mulai membuat sebagian petani khawatir terhadap hasil panen mereka.
"Sudah mulai kelihatan gagal panen, tidak tahu kapan hujan turun," ucapnya.
Kekhawatiran tersebut terlihat dari sejumlah tanaman jagung yang mulai mengering sebelum memasuki masa panen.
Bagi petani, hujan menjadi salah satu sumber air penting untuk menjaga tanaman tetap tumbuh, terutama ketika musim kemarau berlangsung.
Idris mengatakan sebagian petani masih mengandalkan kondisi alam, khususnya hujan, untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
Kondisi tersebut menjadi persoalan ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang dan sumber air mulai terbatas.
Apalagi, kata dia, tidak sedikit petani yang mengeluarkan modal bercocok tanam dengan cara berutang terlebih dahulu.
"Jadi kalau ini gagal bisa-bisa banyak petani yang hanya bisa tutup lubang, gali lubang," katanya.
Kondisi Berbeda di Sejumlah Desa
Pemantauan kemudian dilanjutkan ke Desa Butu, Kecamatan Tilongkabila.
Pemandangan serupa kembali terlihat.
Baca juga: Kemensos Tahan Bansos 1,49 Juta KPM yang Terindikasi Judi Online
Sejumlah lahan pertanian tampak kering dengan tanaman yang mulai kehilangan kesegarannya.
Meski demikian, masih terdapat tanaman yang mampu bertahan dan tumbuh di antara lahan yang mulai mengering.
Kondisi tersebut berbeda dengan persawahan di Desa Iloheluma yang masih memperlihatkan hamparan tanaman padi hijau.
Perbedaan kondisi di sejumlah lokasi tersebut menunjukkan bahwa dampak musim kemarau terhadap lahan pertanian belum sepenuhnya sama.
Ketersediaan sumber air dan jenis tanaman menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi lahan.
Di sejumlah lokasi, petani masih berupaya mempertahankan tanaman dengan melakukan penyiraman secara manual pada pagi dan sore hari.
Namun, apabila hujan belum juga turun dan sumber air semakin terbatas, tanaman berisiko mengalami kekeringan lebih parah yang dapat memengaruhi hasil panen.
Bagi petani, hujan kini bukan sekadar penanda pergantian musim, tetapi juga menjadi harapan untuk mempertahankan tanaman yang masih berada di lahan hingga masa panen. (*/Jefri)