TRIBUN-SULBAR.COM, MAMASA - Seorang perempuan lanjut usia (lansia), Sitti (73), di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar), terpaksa ditandu sejauh sekitar 10 kilometer untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Warga Desa Peu’, Kecamatan Tabulahan, itu harus ditandu karena akses jalan dari kampungnya sulit dilalui kendaraan.
Tak hanya berjalan kaki, warga juga harus menyeberangi dua anak sungai yang belum memiliki jembatan.
Dalam potongan video yang beredar, sejumlah warga terlihat bergotong royong memikul tandu sederhana yang dibuat dari kain sarung dan bambu.
Baca juga: Kasus 4 Bocah SD Diduga Aniaya Gadis 12 Tahun di Mamasa Berakhir Damai
Baca juga: Warga di Mamasa Jangan Coba-Coba Bakar Lahan! Polisi Siapkan Sanksi Hukum Jelang Puncak Kemarau
Sitti tampak berbaring di atas tandu saat dibawa melewati jalan yang terjal dan berbatu.
Terdengar suara seorang pria yang meminta pemerintah memperhatikan kondisi masyarakat di pelosok.
Pria tersebut juga menyinggung momentum peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang akan datang.
Menurutnya, masih ada masyarakat di daerah terpencil yang belum merasakan kemerdekaan dalam arti sesungguhnya karena keterbatasan akses dasar, termasuk infrastruktur jalan dan pelayanan kesehatan.
“Kemarin itu kami bersama warga menandu pasien dengan menempuh jarak kurang lebih 10 kilometer sampai ke ujung aspal,” kata salah satu warga, Join Lius, kepada wartawan, Sabtu (8/8/2026).
Perjuangan warga menandu pasien yang terekam kamera dan viral di media sosial itu berlangsung di Desa Peu’, Kecamatan Tabulahan, pada Jumat (7/8/2026).
Pasien ditandu selama kurang lebih satu setengah jam dari rumahnya menuju ujung jalan beraspal.
Setibanya di ujung jalan, ambulans telah menunggu untuk kemudian membawa Sitti ke Puskesmas Tabulahan.
Menurut Lius, pasien terpaksa ditandu karena akses jalan dari kampungnya sangat sulit dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua.
Kondisi tersebut diperparah dengan adanya dua anak sungai yang harus diseberangi warga karena belum memiliki jembatan.
Lius menyebut aksi warga menandu orang sakit bukan kali pertama terjadi di wilayah tersebut.
Setiap kali ada warga yang membutuhkan penanganan medis, masyarakat terpaksa bergotong royong menandu pasien menuju lokasi yang dapat dijangkau kendaraan.
Warga berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kondisi akses jalan menuju Desa Peu’.
Perbaikan infrastruktur dinilai sangat dibutuhkan agar aktivitas masyarakat dapat berjalan lancar, termasuk ketika warga membutuhkan pelayanan kesehatan.
“Jadi harapan kami kepada bapak-bapak pemerintah hanya akses jalan untuk diperhatikan, agar kami bisa menjalani kehidupan dengan lebih layak,” pungkas Lius.(*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli