TRIBUNWOW.COM – Parlemen Iran dikabarkan tengah meninjau proposal yang akan membatasi kapal-kapal yang terkait dengan Amerika Serikat, Israel, dan negara yang dianggap sebagai pihak yang bermusuhan untuk melintasi Selat Hormuz.
Menurut laporan tersebut, pembatasan akan diberlakukan hingga Iran menerima kompensasi atas kerusakan yang disebut terjadi selama perang.
Proposal itu juga disebut mengatur biaya bagi kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Kapal yang melintas disebut dapat dikenai biaya hingga 7 persen dari nilai kargo, sementara pelanggaran ketentuan dapat dikenai denda hingga 20 persen dari nilai kargo.
Namun, rincian tersebut belum mendapatkan konfirmasi dari Oman.
Baca juga: Sebelum Ditangkap, Rumah Terduga Pelaku Perampokan Bos Konter HP di Ambarawa Digeruduk Puluhan Warga
Usulan tersebut muncul ketika Iran menyatakan tengah menyelesaikan kesepakatan dengan Oman terkait pengaturan rute pelayaran di Selat Hormuz.
Menurut media pemerintah Iran, kapal pada tahap awal akan masuk melalui koridor utara di dekat pantai Iran dan keluar melalui koridor selatan di dekat pantai Oman.
Oman sendiri belum memberikan pernyataan publik terkait kesepakatan yang dilaporkan tersebut.
Sementara itu, Amerika Serikat membantah karakterisasi Iran mengenai perjanjian tersebut.
Seorang pejabat AS kepada NPR mengatakan bahwa rute sementara apa pun harus tetap bebas hambatan dan tidak memerlukan persetujuan, izin, maupun pembayaran bea berdasarkan nilai kargo.
Washington juga menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur air internasional dan tidak berada di bawah kendali satu pihak.
Di tengah perbedaan pandangan tersebut, pembahasan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz terus berlangsung.
Pada Kamis (6/8/2026), Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi untuk membuka kembali jalur tersebut masih berjalan.
Trump mengaku terlibat langsung dalam negosiasi dan meyakini konflik dengan Iran dapat segera berakhir.
Baca juga: Prabowo Puji Kehebatan Bahlil yang Mampu Buat Jokowi Tertawa: Orang Solo Itu Kalem
Namun, ketika ditanya apakah kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz telah tercapai, Trump mengatakan prosesnya masih berlangsung.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak mentah, gas alam cair, dan berbagai komoditas global.
Gangguan pelayaran di kawasan tersebut telah memengaruhi pasokan energi dan komoditas serta menimbulkan kekhawatiran terhadap perekonomian global.
Sementara itu, Iran dan Oman dilaporkan telah menyepakati garis besar pembukaan kembali Selat Hormuz.
Kesepakatan tersebut diperkirakan berlaku selama 60 hari dan bertujuan memulihkan lalu lintas maritim serta membuka pembicaraan teknis lanjutan.
Namun, kerangka tersebut masih memerlukan persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Dalam skema yang diusulkan, kapal akan menggunakan koridor utara di dekat pantai Iran dan koridor selatan di dekat Oman pada tahap awal.
Setelah masa transisi berakhir, rute pelayaran akan diatur kembali dengan penggunaan koridor yang melibatkan Iran dan Oman.
Sumber yang dikutip dalam laporan tersebut juga membantah informasi mengenai tarif tetap sebesar 3 atau 7 persen dari nilai kargo.
Baca juga: Tak Ikut Membunuh, Polisi Ungkap Peran Pacar Sesama Jenis Pelaku Mutilasi di Depok
Menurut sumber itu, biaya yang dikenakan nantinya berkaitan dengan layanan seperti asuransi, pengisian bahan bakar, dan perlindungan lingkungan.
Pihak regional juga disebut dapat terlibat dalam proses pembersihan ranjau dan prosedur teknis lain yang diperlukan untuk memulihkan pelayaran di Selat Hormuz.