TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Sayembara logo HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi pengalaman pertama bagi Auman Design Bureau.
Tak disangka, karya studio desain asal Padang, Sumatera Barat, tersebut justru terpilih menjadi logo resmi setelah mendapatkan dukungan terbanyak dalam polling publik.
Di balik keberhasilan itu terdapat sosok Fajar Novario, desainer grafis asal Padang sekaligus alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Padang (UNP) angkatan 2017.
Baca juga: Hadiri Padang Bajamba 2026, Mahyeldi Pacu Padang Jadi Kota Gastronomi Dunia
Fajar bersama tim Auman Design Bureau berhasil meraih 44,73 persen suara dari total 68.569 pemilih daring dalam polling publik yang berlangsung pada 24-28 Juni 2026.
Logo tersebut mengusung konsep "Kolektif, Sinergi, Bertumbuh" dengan tema pembangunan "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur".
Saat ditemui TribunPadang.com di kantor Auman Design Bureau, Sabtu (8/8/2026), Fajar menceritakan bagaimana studio yang selama ini mengerjakan berbagai proyek visual identity dan visual branding tersebut akhirnya mengikuti sayembara logo HUT RI.
Menariknya, Fajar mengatakan Auman Design Bureau sebelumnya belum pernah mengikuti sayembara serupa.
"Kebetulan kami belum pernah ikut sayembara sebelumnya. Ini yang pertama. Alhamdulillahnya langsung kepilih," kata Fajar.
Meski harus bersaing dengan studio dari berbagai daerah di Indonesia, Fajar mengaku ia dan tim tidak merasa kehilangan kepercayaan diri.
Menurutnya, sejak memutuskan mengikuti proses tersebut, tim harus memberikan kemampuan terbaik.
"Sebetulnya bukan lebih nggak pede sih, karena dia se-Indonesia dan kami udah terlanjur basah. Dan dengan alasan itu kami harus memaksimalkannya," ujarnya.
"Jadi kalau dibilang pede ya pede aja sih sebetulnya," sambung Fajar.
Perjalanan untuk sampai ke tahap final tidak mudah.
Fajar mengatakan, pada tahap awal terdapat 124 studio yang lolos setelah menyerahkan portofolio.
Ratusan studio tersebut kemudian mengikuti tahapan wawancara.
Setelah proses wawancara, jumlah peserta kembali disaring hingga tersisa lima studio yang mendapatkan kesempatan mengerjakan desain secara komprehensif.
"Peserta yang tergabung, yang setelah melakukan submit portfolio itu di awal kurasi ada 124 studio. Yang kemudian masuk ke tahap interview, dan setelah tahap interview itulah terjaring lima studio yang ngerjain komprehensif desainnya logo," jelasnya.
Auman Design Bureau kemudian menjalani proses kreatif dengan pengawasan dari asosiasi desainer grafis Indonesia.
Fajar mengatakan waktu yang diberikan untuk proses tersebut sekitar empat hingga lima minggu.
Setiap minggu memiliki tahapan check point yang harus dilalui, mulai dari gagasan utama, alternatif desain, penguatan identitas visual, hingga revisi.
"Tahapan check point pertama itu ada tahap konseptual dan gagasan utama yang dipresentasikan. Tahap kedua itu ada presentasi alternatif desain logo. Dan tahap ketiga itu ada proses untuk penetapan atau penguatan identitas visual. Yang keempat itu ada proses pembersihan atau revisi segala macam," katanya.
Dalam proses tersebut, tim tidak hanya menghasilkan satu desain.
Baca juga: Satu Dekade Gowes Siti Nurbaya: Magnet Wisata Olahraga dan Penguat Identitas Kota Padang
Fajar mengatakan mereka mengajukan tiga konsep utama.
Dari tiga konsep tersebut kemudian lahir berbagai alternatif visual yang jumlahnya mencapai sekitar 20 hingga 30 desain.
Namun, ia menegaskan puluhan desain tersebut bukan berarti 20 sampai 30 konsep yang berbeda.
"Secara konsep itu kami mengajukan ada tiga konsep. Tiga konsep ini masing-masing kami memberikan alternatif. Dan untuk alternatif yang saya bilang sampai 20-30 itu sebetulnya bukan alternatif secara konsep, tapi itu bentuk visualnya," jelasnya.
Menurut Fajar, beberapa desain memiliki kemiripan karena masih berada dalam satu konsep.
Tim kemudian terus melakukan penyempurnaan hingga menemukan bentuk yang dinilai paling maksimal.
"Jadi ada beberapa logo yang kemiripannya itu bisa dibilang mirip, namun kurang maksimal. Jadi kami coba untuk memaksimalkannya lagi, sehingga muncul beberapa versi logo, logo satu, logo dua, logo tiga, hingga ke 20 hingga 30 logo tadi," ujarnya.
Fajar juga mengungkapkan bahwa logo HUT ke-81 RI tersebut bukan hasil pekerjaan satu orang.
Ada enam orang yang terlibat dalam proses kreatif.
Mereka terdiri dari graphic designer, principal, story director, tim riset, copywriter, dan project manager.
Menurut Fajar, proses kolaborasi tersebut penting karena perancangan identitas visual tidak hanya berkaitan dengan bentuk, tetapi juga membutuhkan riset, cerita, konsep, hingga pengelolaan proyek.
Tantangan terbesar dalam proses pembuatan logo tersebut adalah waktu.
Fajar mengatakan tim harus bekerja dengan tenggat yang ketat karena logo tersebut akan digunakan dalam perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
"Kesulitan itu pasti ada, terutama di kendala waktu ya. Karena tidak bisa dipungkiri kalau beberapa projek desain itu emang banyak kendalanya, kalau tidak waktu, ya kendala lain," katanya.
"Karena kita punya deadline untuk 17 Agustusan. Sehingga semakin cepat desain ini dirancang, semakin cepat masyarakat bisa menggunakannya," lanjutnya.
Namun, menurut Fajar, persoalan waktu bukan satu-satunya tantangan.
Sistem voting publik yang diterapkan tahun ini juga membuat tim harus bergerak cepat setelah hasil pemungutan suara diumumkan.
Logo yang memperoleh suara terbanyak harus langsung diumumkan dan diluncurkan kepada masyarakat.
Sementara itu, buku panduan penggunaan logo belum sepenuhnya selesai.
"Karena sistem voting publik itu diharapkan transparansinya jelas, voting publik setelah diselesaikan harus diumumkan langsung dan logo harus di-launching. Sedangkan buku panduan yang kami rancang, buku panduan yang kami bikin itu belum rampung sepenuhnya," jelas Fajar.
Setelah logo diluncurkan, tim kemudian menyelesaikan buku panduan serta berbagai aset pendukung yang dibutuhkan.
"Namun setelah seminggu launching logo, kami menyusun buku panduan, kami menyusun aset-aset yang mau di-delivery, barulah itu resmi launching dan disosialisasi," katanya.
Tak Hanya Bangga, Ingin Ekosistem Desain Sumbar Berkembang
Terpilihnya karya Auman Design Bureau tidak hanya menjadi pencapaian bagi Fajar dan tim.
Ia berharap keberhasilan tersebut dapat membuka peluang lebih besar bagi desainer dari daerah untuk ikut berkontribusi dalam proyek berskala nasional.
"Semoga dengan terpilihnya logo 81 kami ini bisa jadi batu loncatan atau trigger buat teman-teman yang lainnya juga, kalau ekosistem desain di Indonesia itu udah mulai mencoba untuk merata," ujarnya.
Menurut Fajar, desainer dari berbagai kota juga harus lebih proaktif dalam menghasilkan karya.
"Teman-teman desainer di kota-kota lain juga harusnya lebih proaktif dalam ngedesain atau merancang," katanya.
Ia juga berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk mendorong perkembangan industri desain grafis di Sumatera Barat.
"Dan ini juga jadi batu loncatan buat di Pemprov Sumbar atau daerah di Sumatera Barat itu untuk menaikkan ekosistem grafiknya juga, desain grafisnya juga," ungkapnya.
Fajar mengaku bersyukur melihat logo hasil karyanya digunakan di berbagai tempat menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
"Yang pasti bersyukur banget. Yang pasti pengen mengapresiasi juga atau pengen bilang terima kasih juga buat teman-teman atau masyarakat yang sudah mengapresiasi, yang telah memberi dukungan apalagi ketika voting public kemarin. Itu sangat-sangat berharga," katanya.
Ketika ditanya mengenai perasaannya melihat logo tersebut tersebar dan digunakan masyarakat, Fajar mengaku senang sekaligus bangga.
"Senang sih, pasti senang kalau untuk logonya tersebar di mana itu, sehingga pasti senang. Dan turut bangga gitu loh," ujarnya.
Bagi Fajar, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa karya dari daerah juga dapat tampil di panggung nasional.
Terlebih, Auman Design Bureau memang telah hampir enam tahun bergerak di bidang visual identity dan visual branding.
Studio tersebut telah mengerjakan sejumlah proyek untuk berbagai daerah, termasuk Bandung dan Jakarta, meski sebagian besar proyeknya berada di Sumatera Barat.
Fajar juga aktif mengikuti berbagai kegiatan seni rupa dan desain di Padang.
Ia menyebut aktivitas tersebut sebagai bagian dari kontribusi untuk mendorong perkembangan dan pemerataan ekosistem desain di Indonesia.
"Dan itu menjadi bentuk kontribusi kami dalam pengembangan atau pemerataan ekosistem desain di Indonesia," pungkasnya.