SURYA.CO.ID - Niat hati ingin menikmati masa tua bersama empat cucu di kampung halaman, pasangan suami istri Jadang dan Kartini justru harus melewati ujian hidup yang sangat berat.
Keduanya menjadi penyintas dalam tragedi kebakaran Kapal Motor Penumpang (KMP) Mutiara Sentosa 2 di perairan utara Sumenep, Madura, pada Minggu (2/8/2026) lalu.
Seluruh harta benda hasil merantau di Jawa Barat, mulai dari kendaraan, tabungan, hingga perhiasan, ludes ditelan api dan karam ke dasar laut. Kini, yang tersisa hanyalah syukur karena nyawa mereka masih tertolong.
Pada Jumat (7/8/2026), pasangan ini mendatangi kantor perusahaan pemilik kapal di kawasan Perak Timur, Surabaya, untuk mengambil uang kompensasi tiket sebesar Rp2 juta per orang.
Meski jumlahnya tak sebanding dengan kerugian materi yang dialami, Jadang mengaku bersyukur bisa mendapatkan ongkos untuk melanjutkan perjalanan ke Makassar.
"Saya jual barang di Jawa buat ongkos pulang, tapi kena musibah terbakar semua. Ini ambil ongkos buat pulang. Habis semua, saya lompat cuma pakai celana dalam saat itu," kenang Jadang dengan nada lirih.
Baca juga: Basarnas Cari Sisa Korban KMP Mutiara Sentosa II di Sumenep
Peristiwa memilukan itu bermula sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu, Jadang dan penumpang lainnya tengah menikmati jatah nasi kotak sarapan pagi.
Tiba-tiba, suasana tenang berubah menjadi kepanikan luar biasa ketika teriakan "kebakaran" menggema di seluruh dek kapal.
Awalnya, Jadang mengira ada keributan antar-penumpang. Namun, kepulan asap hitam yang semakin tebal dari dek bawah menyadarkannya bahwa maut tengah mengintai.
"Lalu ada ribut, saya kira berkelahi, ternyata ada kebakaran di bawah. Makin ramai, ternyata asap makin tebal. Saya melihat asap tebal, saya serobot karena saya bawa ibu (istri), akhirnya saya dapat pelampung, kebetulan sisa 2. Alhamdulillah selamat," jelasnya.
Kondisi kapal semakin kritis saat posisinya mulai miring. Karena sisi kapal lainnya terangkat, ketinggian dari permukaan air mencapai lebih dari 20 meter.
Di tengah situasi kacau, Jadang mencoba tetap tenang demi sang istri yang tidak bisa berenang.
Ia sengaja menjadi orang terakhir yang melompat karena ingin memastikan mental istrinya siap menghadapi terjangan ombak.
"Saya yang terakhir. Karena saya siapkan mental istri saya. Biar mental kuat, jangan terjun dulu, kan dia gak bisa berenang. Jadi kalau dia langsung terjun keadaan panik. Tambah bingung lagi nanti," kata Jadang.
Jadang juga sempat mengkritik instruksi kru kapal yang dinilainya kurang memberikan edukasi penyelamatan di tengah kondisi darurat.
Menurutnya, kru hanya memerintahkan penumpang untuk melompat tanpa memberi arahan cara bertahan hidup di air.
Untuk mempermudah evakuasi, Jadang bersama penumpang pria lainnya berinisiatif menyambung pakaian menjadi tali panjang.
Tali kain itulah yang digunakan Kartini untuk menuruni bodi kapal sebelum akhirnya tercebur ke laut.
"Saya bantu orang bikin tali, biar bisa dituruni gak langsung loncat. Istri saya pakai tali, tapi saat sampai setengah, dia loncat. Lebih 20 meter," tambahnya.
Setelah berada di laut, perjuangan belum usai. Menggunakan pelampung seadanya, pasangan ini harus bertahan di tengah laut lepas selama tiga jam.
Deburan ombak setinggi 3 hingga 4 meter terus menghantam tubuh mereka yang kian melemas.
Kartini (48) mengaku sudah pasrah dengan takdir. Di tengah kepungan air laut yang asin, ia tak henti-hentinya memanjatkan doa.
"Saya sudah pasrah, baca shalawat dan doa semua. Berdoa terus engga ada hentinya menyebut nama Allah, selama 3 jam," tutur Kartini.
Kondisinya saat itu sangat memprihatinkan. Ia berkali-kali terbalik diterjang ombak hingga meminum banyak air laut.
"Saya tergulung ombak terus. Walaupun saya pakai pelampung, saya enggak bisa tenang, terbalik terus. Sampai air laut keluar sendiri dari hidung, saking banyaknya minum," pungkasnya.
Beruntung, sebuah kapal yang melintas berhasil mengevakuasi mereka tepat sebelum tenaga mereka habis.
Kebakaran hebat yang menimpa kapal milik PT Atosim Lampung Pelayaran rute Surabaya-Makassar ini tercatat membawa ratusan penumpang.
Berdasarkan data Basarnas, sebanyak 238 orang berhasil dievakuasi dengan selamat.
Namun, tragedi ini memakan korban jiwa. Lima orang dinyatakan meninggal dunia dalam insiden tersebut, yakni Yedi Hendrawan, Rino Eka Putra, Siti Fatimah, Sri Indratmo Wijaya, dan Sari Sukoco.
Focus Keywords: KMP Mutiara Sentosa 2 terbakar, korban selamat kapal terbakar, kisah penyintas KMP Mutiara Sentosa, kebakaran kapal Surabaya Makassar, Basarnas Sumenep.
Meta Description: Simak kisah pilu sekaligus ajaib pasangan kakek nenek yang selamat dari kebakaran KMP Mutiara Sentosa 2. Bertahan 3 jam di tengah ombak 4 meter demi bertemu cucu.