Gus Salam Siap Bersaing di Muktamar NU: Yang Penting Restu dan Doa Masyayikh
Wahyu Aji August 09, 2026 01:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, semakin dekat.

Gelaran lima tahunan jam'iyyah NU itu diperkirakan akan dihadiri ulama, kiai pesantren, kader, hingga nahdliyin dari berbagai daerah di Indonesia.

Muktamar juga menjadi momentum tabarrukan dan ziarah ke makam para muassis NU di Jombang, khususnya KH Abdul Wahab Chasbullah di kawasan Tambakberas.

Di tengah persiapan tersebut, sejumlah kandidat calon ketua umum PBNU mulai mendeklarasikan diri dan mengonsolidasikan dukungan untuk mendapatkan kepercayaan muktamirin.

Salah satunya KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam yang menyambut baik munculnya sejumlah kandidat, termasuk deklarasi KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dari Jawa Timur.

"Kita berlomba kecakapan secara sehat untuk mendapatkan kepercayaan peserta muktamar, baik dari PWNU, PCNU maupun PCI NU," kata Gus Salam kepada wartawan, Sabtu (8/8/2026).

Menurut Gus Salam, kontestasi dalam Muktamar ke-35 NU harus ditempatkan sebagai ruang bagi kader terbaik NU untuk menawarkan gagasan dan mendapatkan kepercayaan dari peserta muktamar.

Dia menilai proses tersebut harus berlangsung secara terbuka dan adil.

"Dan dalam muktamar nanti harus fair, terbuka dan kader-kader terbaik NU berpeluang sama untuk dipilih. Karena, start abad kedua NU harus dengan landasan mekanisme yang baik dan jauh dari intervensi pihak diluar NU yang membahayakan masa depan dan kepribadian jam'iyyah," tambahnya.

Gus Salam sendiri telah menyatakan diri sebagai kandidat calon ketua umum PBNU sejak lama. Langkah tersebut dilakukannya setelah mendapatkan permintaan sekaligus perintah dari sejumlah guru dan kiai yang merupakan sesepuh NU dan pesantren.

Menurutnya, amanah tersebut menjadi dasar bagi dirinya untuk berikhtiar mendapatkan kepercayaan dalam Muktamar ke-35 NU.

"Yang terpenting bagi saya, restu dan do'a dari sesepuh NU dan Pesantren. Karena, ruh dan penjaga jam'iyyah Nahdlatul Ulama adalah beliau-beliau; memiliki sanad ideologis dan keilmuan serta keteladan dari muassis dan pendahulu NU," kata dia.

Dukungan terhadap pencalonan Gus Salam juga disampaikan KH M. Makmun Mahfudz atau Gus Makmun, Pengasuh Pondok Pesantren Tabassam Al-Falah, Ploso, Kediri, sekaligus Ketua PCNU Kabupaten Kediri.

Menurut Gus Makmun, permintaan para masyayikh kepada Gus Salam membawa harapan agar NU ke depan dapat keluar dari konflik internal dan kembali fokus menjalankan khidmah kepada warga.

"Di balik perintah masyayikh itu kan ada harapan kepada Gus Salam, supaya NU ke depan, terutama PBNU lebih tentrem, ayem dan marem. Harapan sederhana, namun memiliki makna yang dalam dan luas," ujar Gus Makmun.

Dia mengatakan harapan tersebut juga sejalan dengan keinginan warga NU agar organisasi tidak terjebak dalam kubu-kubuan maupun konflik internal.

"Gus Salam membawa misi masyayikh agar membangun rekonsiliasi total di dalam NU, membangun budaya khidmah NU searah dengan kepribadian pesantren, dan menggerakkan kemajuan NU dengan kebijaksanaan berdasar potensi dan peluang di masing-masing daerah," sambungnya.

Gus Makmun juga menilai pengalaman Gus Salam selama berkhidmah di PWNU Jawa Timur menjadi salah satu modal dalam pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU.

Ia menyebut sejumlah program yang menurutnya lahir atau didorong selama periode kepengurusan PWNU Jawa Timur 2018-2023.

Di antaranya kaderisasi, pengembangan lembaga keuangan syariah melalui KSPPS BMT NU, revitalisasi rumah sakit dan klinik NU, serta berbagai kegiatan kebangsaan dan kepesantrenan.

Gus Makmun juga menyebut pelaksanaan Santri Culture Night Carnival (SCNS), apel kesetiaan dan kebangsaan di sejumlah daerah, pembentukan BPRS, hingga pencanangan Panca Harokah NU Jawa Timur sebagai bagian dari rekam jejak tersebut.

Panca Harokah yang dicanangkan mulai 2022 itu mencakup pendidikan berkualitas dan beasiswa santri, kemandirian ekonomi melalui lembaga keuangan syariah, revitalisasi rumah sakit dan klinik NU, literasi digital, serta kaderisasi yang lebih sistematis.

Pandangan serupa disampaikan KH Mas Cholil Nawawi, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, yang juga Wakil Katib PWNU Jawa Timur periode 2024-2029.

Ra Cholil mengakui kontribusi Gus Salam dalam sejumlah program PWNU Jawa Timur pada periode 2018-2023.

"Memang semua kebijakan dan program PWNU 2018-2023 digodog bareng-bareng, namun pelopor gagasan hingga eksekusinya tidak lepas dari Gus Salam," kata Ra Cholil.

Ia juga menilai Gus Salam memiliki pengalaman, kapasitas keilmuan dan rekam jejak khidmah yang dapat menjadi modal dalam kontestasi Muktamar NU.

"Gus Salam itu memang cerdas, berani dan tegas bersikap, tulus dalam berkhidmah dan alim kutubut turots. Hingga saat ini dia fenomenal yang belum ditemukan penerusnya yang sebanding," ujarnya.

Sementara itu, Gus Makmun memprediksi Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Jombang akan menjadi arena kompetisi sejumlah kandidat yang memiliki latar belakang keluarga pendiri NU.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat Muktamar kali ini memiliki dinamika tersendiri karena Jombang merupakan wilayah yang memiliki hubungan historis kuat dengan lahirnya NU.

"NU dikembalikan ke dzurriyah muassis-pendirinya. Itu kan slogan yang mashur di internal jam'iyyah, sekaligus perubahan yang diharap saat NU diterpa banyak konflik dan memasuki usia abad keduanya," kata Gus Makmun.

Meski demikian, kontestasi tetap akan ditentukan oleh mekanisme dan keputusan muktamirin.

Gus Salam pun menegaskan dirinya siap mengikuti proses tersebut bersama kandidat lainnya.

Ia berharap seluruh pihak mengedepankan persaingan gagasan dan kecakapan, bukan pertarungan kepentingan.

Dengan semakin dekatnya pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, dinamika pencalonan Ketua Umum PBNU diperkirakan akan terus berkembang.

Pada akhirnya, kepercayaan muktamirin akan menjadi penentu siapa yang akan mendapatkan mandat memimpin NU memasuki fase berikutnya.

Sebagai informasi, Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama dijadwalkan akan berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026 mendatang. 

Agenda besar nahdliyin ini bakal dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Beberapa nama yang dikabarkan turut meramaikan bursa Caketum PBNU antara lain petahana KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH M. Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Abdul Ghofur Maimun (Gus Ghofur), dan KH M. Zaim Chasbullah (Gus Zaim).

Baca juga: Gus Salam Ziarah dan Silaturahmi ke Kediaman Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Tengah

Selain itu, muncul pula nama ulama terkemuka lainnya seperti KH Zulfa Mustofa, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), KH M. Nafi' Abdillah (Gus Rozin), serta KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.