Bayi Prematur Tak Bisa Langsung Dibandingkan dengan Bayi Cukup Bulan, Kenali Usia Koreksi
Wahyu Aji August 09, 2026 01:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Orang tua bayi prematur kerap khawatir ketika perkembangan anak terlihat berbeda dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan. 

Padahal, bayi prematur memiliki perjalanan perkembangan yang berbeda sehingga penilaiannya tidak bisa hanya berdasarkan usia sejak tanggal lahir.

Salah satu hal penting yang perlu dipahami adalah usia koreksi, yakni usia yang digunakan untuk menilai perkembangan bayi prematur dengan mempertimbangkan usia kehamilan saat lahir.

 

Pendekatan ini membantu orang tua melihat perkembangan anak secara lebih proporsional.

Dokter Anak Konsultan Neonatologi RSIA Bunda Jakarta, Dr. dr. R. Adhi Teguh Perma Iskandar, Sp.A., Subsp.Neo., mengatakan perawatan bayi prematur perlu dilakukan secara berkelanjutan, termasuk setelah bayi pulang dari rumah sakit.

“Perawatan bayi prematur tidak berhenti saat bayi diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Keterlibatan aktif seluruh anggota keluarga menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan, perkembangan, serta kesiapan bayi menghadapi berbagai tantangan di awal kehidupannya,” kata Adhi di sela-sela Bunda Parenting Convention 2026 di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).

Bunda Parenting Convention 2026 diselenggarakan PT Bundamedik Tbk (BHMS/RS Bunda Group) melalui RSIA Bunda Jakarta dengan tema From The First Heartbeat to a Bright Future, Every Step Matters. Kegiatan tersebut membahas pentingnya dukungan dan edukasi bagi keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Menurut Adhi, edukasi kepada keluarga penting agar orang tua memahami kebutuhan bayi dan mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Sebagai contoh, bayi yang lahir sekitar empat bulan lebih awal tentu memiliki tingkat kematangan perkembangan yang berbeda dengan bayi cukup bulan yang memiliki usia kalender sama.

Karena itu, kemampuan seperti mengangkat kepala, berguling, duduk, dan tahapan perkembangan lainnya perlu dinilai dengan mempertimbangkan usia koreksi.

Usia koreksi terutama digunakan pada masa awal kehidupan. Setelah anak mencapai sekitar usia dua tahun, penilaian perkembangan umumnya kembali menggunakan usia kronologis atau usia sebenarnya.

“Namun, penilaian tetap perlu dilakukan secara individual. Setiap anak memiliki kondisi, riwayat kesehatan, dan kecepatan perkembangan yang berbeda,” katanya.

Pertumbuhan bayi juga perlu dipantau

Pemantauan bayi prematur tidak hanya berkaitan dengan kemampuan motorik, tetapi juga pertumbuhan fisik.

Pemeriksaan dapat mencakup berat badan, panjang atau tinggi badan, serta lingkar kepala untuk melihat pola pertumbuhan anak dari waktu ke waktu.

Kelahiran prematur juga tidak otomatis berarti anak akan mengalami hambatan perkembangan secara permanen. Bayi prematur tetap memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, dengan dukungan dan pemantauan yang sesuai.

Kondisi bayi setelah lahir juga perlu diperhatikan. Bayi yang membutuhkan perawatan intensif, misalnya karena masalah paru-paru atau kondisi medis lainnya, tetap membutuhkan pemantauan setelah keluar dari rumah sakit.

Jika orang tua menemukan perkembangan yang menimbulkan kekhawatiran, pemeriksaan oleh dokter diperlukan agar kondisi anak dapat dievaluasi dan intervensi diberikan sedini mungkin bila diperlukan.

Dalam kesempatan yang sama,  Dokter Spesialis Anak RSIA Bunda Jakarta, dr. I Gusti Ayu Nyoman Pratiwi, Sp.A., MARS mengatakan, selain layanan kesehatan, tumbuh kembang anak juga dipengaruhi kesiapan keluarga dan lingkungan dalam mendampingi setiap tahap awal kehidupan.

“Tantangan tumbuh kembang anak di era modern tidak lagi hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga kesiapan keluarga serta komunitas dalam mendapatkan dukungan dan edukasi yang tepat bagi tumbuh kembang anak,” katanya.

Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk (BMHS), Dr. dr. Ivan Rizal Sini, mengatakan dukungan terhadap tumbuh kembang anak perlu melibatkan keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan di sekitarnya. 

Menurut dia, edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan penting agar keluarga lebih siap menghadapi berbagai tantangan pengasuhan di era modern.

Sementara itu, Komisaris Independen BMHS, Retno Marsudi mengatakan, sebagai seorang ibu, dirinya percaya bahwa ibu adalah arsitek kehidupan. 

"Nilai dan prinsip tidak pertama kali disemai di institusi pendidikan, tetapi dari rumah sejak dini, dan ibu adalah penyemai pertama,” ujar Retno.
Menurut dia, menjalankan peran sebagai perempuan yang bekerja sekaligus membangun keluarga memiliki tantangan. 

Namun, dukungan keluarga dan lingkungan dapat membantu ibu menjalankan kedua peran tersebut.

“Dengan teamwork sebagai kunci dalam keluarga serta lingkungan yang mendukung, ibu dapat menjalankan kedua perannya secara optimal. Karena itu, empowering women means investing in a brighter and better future,” katanya.

Bagi orang tua bayi prematur, memahami usia koreksi dapat membantu menilai perkembangan anak secara lebih tepat dan mengurangi kecemasan akibat perbandingan dengan bayi lain.

Baca juga: Perawatan Bayi Prematur Kini Utamakan Keterlibatan Orangtua dan ASI

Pemantauan secara berkala, dukungan keluarga, serta konsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi bagian penting untuk memastikan tumbuh kembang bayi prematur tetap terpantau sesuai kondisi dan kebutuhannya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.