Jangan Asal Percaya Tulisan 'Probioti' dan 'Prebiotik' di Kemasan, Pakar: Cek Bukti Klinisnya
Wahyu Aji August 09, 2026 04:38 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Orangtua kini semakin mudah menemukan produk anak yang mencantumkan berbagai istilah kesehatan pada kemasannya.

Mulai dari probiotik, prebiotik hingga sinbiotik.

Probiotik adalah bakteri atau kuman baik yang hidup di dalam usus. 

Sedangkan prebiotik adalah jenis serat makanan yang tidak bisa dicerna tubuh, yang berfungsi sebagai makanan atau nutrisi bagi bakteri baik tersebut agar bisa tumbuh subur. 

Sinbiotik sendiri adalah kombinasi atau campuran antara probiotik (bakteri baik) dan prebiotik (makanan bakteri) di dalam satu produk yang sama.

Bagi sebagian orangtua, istilah tersebut mungkin langsung dianggap sebagai tanda bahwa produk tersebut baik untuk kesehatan anak.

Apalagi jika klaim yang disampaikan berkaitan dengan pencernaan atau daya tahan tubuh.

Namun, pakar mengingatkan orangtua agar tidak sekadar melihat tulisan yang tercantum pada kemasan.

Pakar Gastroenterologi dan Nutrisi Anak dari University Hospital Brussels (UZ Brussel), Belgia, Prof. Yvan Vandenplas, MD, Ph.D., mengatakan orangtua perlu membedakan antara klaim pemasaran dan manfaat yang benar-benar telah dibuktikan secara ilmiah.

Hal tersebut disampaikan dalam diskusi media “Global Advances and Insight on Biotics for Child Health” yang diselenggarakan Danone.

Ada Istilah Ilmiah, Belum Tentu Buktinya Sama

Menurut Prof. Yvan, persoalan tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia.

Banyak produk di berbagai negara menggunakan istilah yang berkaitan dengan probiotik, prebiotik, maupun sinbiotik.

Masalahnya, tidak semua produk memiliki bukti ilmiah yang sama kuat.

“Ya, saya pikir ini adalah pertanyaan yang sangat relevan di seluruh dunia karena ada sains dan ada pemasaran. Salah satu kesulitannya adalah istilah-istilah ini tidak dilindungi secara ilmiah. Jadi, perusahaan dapat dengan mudah menyalahgunakan istilah tersebut,"ungkapnya di Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026). 

Kondisi tersebut membuat orangtua perlu lebih berhati-hati.

Sebab, istilah yang terdengar ilmiah belum otomatis berarti manfaat yang diklaim sudah terbukti melalui penelitian klinis.

Apa yang Harus Dicek Orangtua?

Prof. Yvan menyarankan agar orangtua memilih produk yang manfaatnya telah memiliki bukti klinis.

Bukti klinis menjadi penting karena menunjukkan bahwa manfaat yang diklaim telah diuji melalui penelitian pada manusia.

Hal ini berbeda dengan sekadar menunjukkan bahwa suatu bahan memiliki potensi manfaat berdasarkan penelitian dasar.

Bagi orangtua awam, persoalannya adalah tidak mudah membaca penelitian klinis dan menentukan apakah suatu klaim memang benar-benar didukung bukti.

Karena itu, Prof. Yvan menyebut tenaga kesehatan memiliki peran penting.

“Dan para ibu seharusnya hanya menggunakan produk yang memiliki bukti klinis mengenai manfaatnya. Sayangnya, perusahaan menghadirkan produk ke pasar dan membuat klaim serupa tanpa bukti klinis mengenai manfaatnya,"imbuhnya. 

Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat orangtua membeli produk dengan harapan mendapatkan manfaat tertentu.

Jika manfaat tersebut tidak terbukti, orangtua bisa merasa kecewa.

Padahal, menurut Prof. Yvan, terdapat produk lain yang memang memiliki manfaat yang telah dibuktikan.

Jangan Hanya Terpengaruh Iklan

Bagi masyarakat, iklan sering menjadi sumber informasi pertama mengenai sebuah produk.

Tulisan mengenai kandungan tertentu dapat membuat orangtua tertarik mencoba.

Namun, Prof. Yvan mengingatkan bahwa orangtua tidak seharusnya menjadikan klaim pemasaran sebagai satu-satunya dasar memilih produk untuk anak.

Terlebih ketika produk tersebut ditujukan untuk mendukung kesehatan anak.

Orangtua perlu melihat apakah manfaat yang dikomunikasikan memang didukung bukti klinis.

Jika sulit menilainya sendiri, pilihan yang lebih aman adalah mendiskusikannya dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Kenapa Dokter Penting dalam Memilih Produk?

Menurut Prof. Yvan, orangtua tidak selalu memiliki kemampuan untuk memastikan apakah sebuah produk memiliki bukti klinis yang cukup.

Tenaga kesehatan dapat membantu menjelaskan apakah manfaat suatu produk memang sudah didukung penelitian.

“Karena bagi ibu, sangat sulit untuk mengetahui produk mana yang memiliki bukti klinis dan produk mana yang tidak memiliki bukti klinis tersebut. Jadi, tenaga kesehatan memiliki peran untuk merekomendasikan produk yang manfaatnya telah terbukti,"lanjutnya. 

Dengan demikian, keputusan orangtua tidak hanya berdasarkan rekomendasi teman, iklan, atau tulisan pada kemasan.

Dalam kegiatan tersebut, pihak Danone juga menyampaikan komitmen untuk mengedepankan komunikasi mengenai manfaat produk yang memiliki dasar bukti ilmiah.

Edukasi tidak hanya ditujukan kepada orangtua, tetapi juga tenaga kesehatan.

Hal ini dilakukan agar informasi mengenai mikrobiota, prebiotik, probiotik, dan sinbiotik dapat disampaikan dengan dasar ilmiah yang sama.

Bagi orangtua, pendekatan tersebut penting karena istilah mengenai mikrobiota memang tidak selalu mudah dipahami.

Jangan sampai istilah ilmiah justru membuat orangtua menganggap semua produk dengan kandungan serupa memiliki manfaat yang sama.

Jadi, Apa Pegangan Orangtua?

Ketika menemukan produk yang mencantumkan probiotik, prebiotik, atau sinbiotik, orangtua tidak perlu langsung percaya, tetapi juga tidak perlu langsung menolaknya.

Yang perlu dilakukan adalah mencari tahu apakah manfaat yang diklaim memang memiliki bukti klinis.

Jika informasi tersebut sulit dipahami, orangtua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Dengan cara ini, keputusan dalam memilih produk untuk anak tidak hanya didasarkan pada seberapa menarik iklannya, tetapi pada seberapa kuat bukti yang mendukung manfaatnya.

Baca juga: Penjualan Minuman Probiotik Jepang di China Anjlok Tajam, Tren Hidup Sehat Justru Bikin Sulit Jualan

Pada akhirnya, yang dibutuhkan orangtua bukan sekadar produk dengan istilah yang terdengar ilmiah, melainkan informasi yang benar agar pilihan untuk anak dapat dibuat dengan lebih bijak.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.