Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan investasi Berkshire Hathaway milik miliarder Warren Buffett melakukan pembelian kembali saham atau buyback saham sekitar US$ 4,5 miliar atau Rp 80,10 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.800) pada kuartal II 2026.
Pembelian pada kuartal kedua ini menunjukkan percepatan tajam dibandingkan nilai buyback sebesar US$ 235 juta atau Rp 4,18 triliun pada tiga bulan pertama 2026, meski angka itu lebih rendah dari perkiraan sebagian pihak menjelang rilis laporan ini. Demikian mengutip CNBC, Minggu, (9/8/2026).
Memanfaatkan Dana
Selain itu, cadangan kas Berkshire Hathaway turun menjadi US$ 365,5 miliar atau Rp 6.497 triliun pada akhir Juni dari rekor US$ 397,4 atau Rp 7.074 triliun tiga bulan sebelumnya. Hal ini seiring langkah Berkshire Hathaway menyalurkan modal melalui investasi lain serta kegiatan pembelian saham. Kuartal ini juga mencakup penyelesaian akuisisi Taylor Morrison oleh Berkshire Hathaway.
Berkshire membalikkan tren penjualan saham dengan menjadi pembeli bersih (net buyer) ekuitas pada kuartal kedua, mencatatkan pembelian bersih senilai hampir US$ 20 miliar atau Rp 356,02 triliun. Sebelumnya, konglomerat ini tercatat sebagai penjual bersih saham selama 14 kuartal berturut-turut.
Buffett, yang kini menjabat sebagai chairman mewariskan tumpukan kas yang sangat besar, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di dunia korporasi Amerika kepada Abel. Langkah ini sejalan dengan pendekatan investor legendaris berusia 95 tahun tersebut yang mengutamakan kesabaran dan menghindari risiko.
Buffett sebelumnya telah mengisyaratkan kesulitan dalam menemukan nilai investasi yang menarik di pasar ekuitas. Para pemegang saham terus mendesak CEO Berkshire Hathaway Greg Abel untuk mengalokasikan sebagian dana tunai tersebut ke instrumen investasi selain obligasi pemerintah AS (treasuries).
Sementara itu, terkait kinerja keuangan, laba operasional Berkshire Hathaway naik 16% pada kuartal kedua, didorong kinerja kuat di sektor energi, kereta api, dan manufaktur yang mampu mengimbangi hasil yang lebih lemah di sektor asuransi.

Laba operasional naik menjadi US$ 12,98 miliar atau Rp 231,05 triliun dari US$ 11,16 miliar atau Rp 198,65 triliun pada tahun sebelumnya. Laba dari sektor manufaktur, jasa dan ritel naik 24% menjadi US$ 4,47 miliar atau Rp 79,57 triliun. Di sisi lain, laba Berkshire Hathaway Energy naik 27% menjadi US$ 891 juta atau Rp 15,86 triliun. BNSF, anak perusahaan kereta api milik Berkshire mencatat kenaikan 6% menjadi US$ 1,56 miliar atau Rp 27,76 triliun.
Sedangkan laba penjaminan atau underwriting turun 13% menjadi US$ 1,73 miliar atau Rp 30,79 triliun dari US$ 1,99 miliar atau Rp 35,42 triliun pada tahun sebelumnya. Sedangkan pendapatan investasi asuransi susut 9% menjadi US$ 3,06 miliar atau Rp 54,47 triliun.
Saham Berkshire hanya naik 3% sepanjang tahun ini, tertinggal dibandingkan kenaikan 13% pada indeks S&P 500. Meski demikian, saham ini belakangan menunjukkan pergerakan positif dengan kenaikan 9% dalam tiga bulan terakhir.
Dokumen laporan menunjukkan Alphabet kini termasuk dalam lima kepemilikan saham terbesar Berkshire berdasarkan nilai pasar per akhir Juni, bersanding dengan investasi jangka panjang perusahaan lainnya seperti American Express, Apple, Bank of America, dan Coca-Cola.
Berkshire sebelumnya mengungkapkan investasi senilai US$10 miliar atau Rp 178,01 triliun pada perusahaan induk Google tersebut pada awal tahun ini untuk membantu mendanai pengembangan kecerdasan buatan (AI). Buffett mengatakan kepada CNBC bahwa ia memulai investasi di Alphabet setelah berkonsultasi dengan Abel.