Menang Sayembara Logo HUT Ke-81 RI, Fajar Novario Berharap Industri Desain Grafis Sumbar Bertumbuh
Arif Ramanda Kurnia August 09, 2026 10:27 AM

 

TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Terpilihnya karya desainer asal Padang, Fajar Novario, sebagai logo HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan bagi dirinya dan tim Auman Design Bureau.

Fajar berharap pencapaian tersebut dapat menjadi momentum untuk perkembangkan ekosistem desain grafis di Sumatera Barat.

Baca juga: Semarak Hari Ke-4 HJK Padang ke-357: Ada BOM RUN hingga Xploria Padang

Fajar merupakan desainer grafis asal Agam yang saat ini berdomisili
di Padang, Sumatera Barat, sekaligus alumni Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Padang (UNP) angkatan 2017.

Karyanya terpilih setelah meraih 44,73 persen suara dalam polling publik yang digelar pada 24-28 Juni 2026.

Total terdapat 68.569 pemilih daring yang memberikan suara dalam proses tersebut.

Saat ditemui di kantor Auman Design Bureau, Sabtu (8/8/2026), Fajar mengatakan kemenangan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi.

Menurutnya, terpilihnya karya dari studio yang berada di Kota Padang membuktikan bahwa desainer dari daerah juga memiliki kesempatan untuk menghasilkan karya yang digunakan secara nasional.

"Semoga dengan terpilihnya logo 81 kami ini bisa jadi batu loncatan atau trigger buat teman-teman yang lainnya juga, kalau ekosistem desain di Indonesia itu udah mulai merata," kata Fajar.

Ia berharap desainer di berbagai daerah tidak ragu untuk ikut mengambil bagian dalam proyek-proyek berskala nasional.

"Teman-teman desainer di kota-kota lain juga harusnya lebih proaktif dalam ngedesain atau merancang," ujarnya.

Ingin Jadi Pemicu bagi Desainer Sumbar

Bagi Fajar, keberhasilan tersebut juga memiliki arti khusus bagi perkembangan industri kreatif di Sumatera Barat.

Ia berharap pemerintah daerah maupun berbagai pihak dapat melihat potensi desainer lokal dan memberikan ruang yang lebih luas untuk berkembang.

"Dan ini juga jadi batu loncatan buat di Pemprov Sumbar atau daerah di Sumatera Barat itu untuk menaikkan ekosistem grafiknya juga, desain grafisnya juga," jelasnya.

Menurut Fajar, perkembangan ekosistem desain membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, bukan hanya desainer.

Semakin banyak ruang untuk berkarya, semakin besar pula peluang desainer daerah menghasilkan karya yang dapat dikenal di tingkat nasional.

Fajar sendiri tidak tiba-tiba masuk dalam sayembara logo HUT RI.

Ia bersama tim telah membangun Auman Design Bureau selama hampir enam tahun.

Studio tersebut fokus mengerjakan visual identity dan visual branding.

"Kebetulan studio kami udah mau enam tahun, dan kerjaan kami itu emang di visual identity atau visual branding," katanya.

Selama menjalankan studio, sejumlah proyek telah dikerjakan untuk berbagai daerah.

Beberapa di antaranya berada di Bandung dan Jakarta, meskipun sebagian besar pekerjaan Auman Design Bureau berada di Sumatera Barat.

Fajar juga aktif mengikuti kegiatan seni rupa dan desain di Padang.

Baginya, aktivitas tersebut menjadi salah satu cara untuk ikut mendorong perkembangan ekosistem desain.

"Untuk kegiatan sendiri ekosistem desain di Padang, saya juga sempat beberapa kali mengikuti acara seni rupa dan desain beserta umumnya juga. Dan itu menjadi bentuk kontribusi kami dalam pengembangan atau pemerataan ekosistem desain di Indonesia," ujarnya.

Menariknya, sayembara logo HUT ke-81 RI merupakan pengalaman pertama Fajar dan Auman Design Bureau mengikuti sayembara.

Pada tahap awal, terdapat 124 studio yang lolos setelah menyerahkan portofolio.

Setelah melalui tahap wawancara, jumlah tersebut kemudian mengerucut menjadi lima studio yang mendapatkan kesempatan mengerjakan desain secara komprehensif.

"Kebetulan kami belum pernah ikut sayembara sebelumnya. Ini yang pertama. Alhamdulillahnya langsung kepilih," katanya.

Fajar mengaku tidak terlalu memikirkan banyaknya peserta yang harus dihadapi.

Ia justru memilih fokus memaksimalkan kemampuan tim.

"Sebetulnya bukan lebih nggak pede sih, karena dia se-Indonesia dan kami udah terlanjur basah. Dan dengan alasan itu kami harus memaksimalkannya," ujarnya.

Dukungan Masyarakat Jadi Hal Berharga

Karya Fajar dan tim akhirnya memperoleh 44,73 persen suara dari 68.569 pemilih daring.

Bagi Fajar, dukungan masyarakat tersebut menjadi bagian paling berharga dari pencapaian mereka.

"Yang pasti bersyukur banget. Yang pasti pengen mengapresiasi juga atau pengen bilang terima kasih juga buat teman-teman atau masyarakat yang sudah mengapresiasi yang telah memberi dukungan apalagi ketika voting public kemarin. Itu sangat-sangat berharga," katanya.

Ia juga mengaku senang ketika melihat logo hasil karyanya mulai digunakan di berbagai tempat.

"Senang sih, pasti senang kalau untuk logonya tersebar di mana itu, sehingga pasti senang. Dan turut bangga gitu loh," ujarnya.

Fajar mengatakan, salah satu hal yang membuatnya ingin masyarakat merasa dekat dengan logo tersebut adalah konsep yang dibangun sejak awal.

Logo HUT ke-81 RI mengusung konsep "Kolektif, Sinergi, Bertumbuh" dengan tema pembangunan "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur".

Dalam proses kreatif, Fajar bersama tim melakukan riset terhadap berbagai motif dari Sabang hingga Merauke.

Mereka menemukan karakter motif yang memiliki kesamaan, seperti bentuk yang saling menyilang, tumpang tindih, dan saling terhubung.

Karakter tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam identitas visual logo.

Fajar juga sengaja menghadirkan pemaknaan ganda agar masyarakat dapat menemukan kedekatan dengan budaya daerah masing-masing.

"Jadi kami mengambil ambiguitas dari logo, kami mengambil pemaknaan ganda dari logo tadi, sehingga masyarakat bisa melakukan self-claim terhadap logonya," jelasnya.

Ia mencontohkan bentuk angka delapan dalam logo dapat mengingatkan masyarakat terhadap motif tertentu di Kalimantan maupun motif itiak pulang petang di Sumatera Barat.

"Di daerah lain punya motif yang mirip juga. Jadi masyarakat bisa nge-embrace motif atau budaya yang dimiliki di daerahnya masing-masing," katanya.

Menurut Fajar, logo pada akhirnya bukan hanya simbol perayaan.

"Logo juga selain simbol perayaan itu juga sebagai simbol harapan dan doa atas tema yang telah diangkat, atas harapan-harapan masyarakat yang dibuat dalam bentuk logo, dengan filosofi-filosofi tertentu," ujarnya.

Ia mengatakan masyarakat bebas memberikan interpretasi, pendapat, maupun reaksi terhadap logo tersebut.

"Karena pada dasarnya konsep yang kami sertakan itu adalah untuk rakyat atas kedaulatan rakyat," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.