Salinan Peta Semarang 1695 Dibawa ke Pandansari, Warga Diajak Membaca Ulang Sejarah Kota
muh radlis August 09, 2026 10:56 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Selembar salinan peta lama dibentangkan di hadapan warga Pandansari, Kota Semarang.


Garis-garis pada peta itu menggambarkan wajah Semarang lebih dari tiga abad silam.

Nama-nama tempat yang masih bertahan hingga kini perlahan muncul dari lembar reproduksi tersebut, salah satunya Terboyo yang telah tercatat sejak 1695.


Peta itu menjadi salah satu materi yang dibawa dalam acara Pajatan Budaya Swara Kesadaran yang digelar LPMK dan Karang Taruna Pandansari, Sabtu (8/8/2026) malam.


Bukan sekadar melihat gambar kota masa lalu, warga diajak menggunakan arsip tersebut untuk membuka kembali percakapan tentang sejarah, identitas, dan bagaimana masyarakat Semarang memahami dirinya sendiri.


Bukhori Masruri, Tenaga Ahli Pemugaran Cagar Budaya, Komunitas Edukasi Museum, sekaligus penulis buku Benantara, Temu Sejarah, Kelanamasa, mengatakan akses masyarakat terhadap arsip sejarah masih menjadi persoalan.


Menurutnya, selama ini sejarah lebih sering sampai kepada masyarakat dalam bentuk cerita yang sudah ditafsirkan.

Baca juga: BREAKING NEWS: Keluarga Akhirnya Lapor Polisi Soal Kematian Sutrimo Penjaga Rumah Febrie Adriansyah


"Selama ini historiografi kita itu diceritakan. Sedangkan masyarakat sendiri belum memahami bagaimana kondisi masa lalu karena ada keterbatasan terhadap arsip," ujarnya disela kegiatan tersebut.


Karena itu, membawa salinan arsip ke tengah masyarakat menjadi penting agar warga tidak hanya mendengar sejarah, tetapi juga melihat sumber yang menjadi dasar cerita tersebut.


Peta yang diperlihatkan dalam kegiatan itu merupakan koleksi National Archives dan dibuat Meyndert de Roy 1965


Bukhori menemukan sedikitnya dua hal menarik dari peta tersebut.


Pertama, nama Terboyo ternyata sudah tercatat pada 1695.


Temuan itu menjadi menarik karena narasi mengenai Terboyo selama ini kerap dikaitkan dengan Kanjeng Terboyo Suryadi Menggolo V yang hidup sekitar 1700-an.

"Nama Terboyo itu sudah muncul di 1695," kata Bukhori.


Hal kedua adalah gambaran Semarang sebagai ruang perjumpaan berbagai kelompok etnis.


Menurut Bukhori, keberadaan berbagai kelompok masyarakat yang hidup berdampingan sejak masa lalu menunjukkan bahwa toleransi merupakan bagian dari sejarah panjang Kota Semarang.


"Masyarakat Semarang itu ada banyak sekali etnis yang hidup berdampingan, yang mana itu menjadi kesadaran bahwa toleransi itu menjadi suatu keniscayaan," ujarnya.


Ia menilai arsip seperti peta tersebut dapat menjadi bahan untuk melihat kembali bagaimana masyarakat Semarang terbentuk.


Terlebih bagi masyarakat kampung yang tidak selalu mudah mengakses arsip-arsip sejarah.


"Untuk masyarakat kelas perkampungan seperti ini kan agak kesulitan. Jadi ketika ada ajakan membawa Swara Kesadaran itu yang bisa saya upayakan ya membawa arsip," katanya.

 


Arsip Dibawa Pulang ke Ingatan Warga


Bagi Bukhori, arsip tidak seharusnya hanya tersimpan di lembaga-lembaga kearsipan atau menjadi bahan penelitian sejarawan.


Ketika dibawa ke kelurahan atau kampung, arsip justru bisa berubah menjadi bahan percakapan lintas generasi.


Anak-anak, anak muda hingga orang tua dapat sama-sama membicarakan bagaimana lingkungan mereka terbentuk dan dari mana identitas mereka berasal.


"Bagusnya sebuah arsip ketika disampaikan kepada kelurahan atau desa mereka, itu menjadi satu bahan diskusi yang penting antara semua golongan," ujarnya.


Gagasan tersebut bertemu dengan semangat Swara Kesadaran yang ingin mendorong masyarakat mengenali budayanya secara lebih organik.


Jamal, Arsiparis ISI Surakarta, mengatakan pembangunan kebudayaan selama ini terkadang terlalu mekanik dan formalistik.


Masyarakat seolah ditempatkan sebagai penerima definisi mengenai identitas dan budaya mereka sendiri.


Padahal, menurutnya, masyarakat semestinya memiliki ruang untuk mengenali, merawat, sekaligus mendefinisikan kebudayaannya sendiri.


"Ini mudah-mudahan bisa menumbuhkan satu upaya organik dari masyarakat untuk mereka mengenal budayanya sendiri, identitasnya sendiri yang kemudian bisa mendefinisikan dirinya sendiri secara organik," katanya.


Di tengah agenda tersebut, warga tidak hanya diajak melihat kembali arsip sejarah dan diskusi namun juga menikmati ekspresi budaya yang masih hidup melalui tarian Dugderan dan Gambang Semarang, sajian puisi dan bernyanyi bersama lagu Iwan Fals diantaranya Suara Buat Wakil Rakyat.


Selain salinan peta Semarang 1695, ruang kegiatan juga diisi dengan karya seni yang membawa wajah sejumlah tokoh dalam perjalanan sejarah Indonesia.


Ditengah pemukiman padat penduduk itu, tiap tiang tenda terop tergantung wajah presiden Indonesia, Soekarno hingga Prabowo. Serta sosok Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja ketiga Kesultanan Mataram. (Rad)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.