TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Sebanyak 80 KK warga Lingkungan Pangkung Manggis, Kelurahan Baler Bale Agung, Kecamatan Negara, Jembrana, Bali, terdampak musim kemarau yakni krisis air bersih sejak beberapa waktu belakangan ini.
Penyebabnya adalah karena jaringan pipa pada bagian hulu sumber air mengalami kerusakan.
Selain itu, ditemukan kerusakan pada bendungan pengambilan air masyarakat yang tak bisa menampung air secara maksimal.
BPBD Jembrana, pihak kelurahan dan warga setempat sudah melakukan asesmen untuk bisa mengambil langkah lebih lanjut.
Baca juga: Hadapi El Nino, BPBD Bangli Siaga Tangani Krisis Air Bersih dan Karhutla
Penanganan jangka pendek, bakal dilakukan melalui perbaikan atau penggantian pipa yang rusak dan pemindahan titik pengambilan air ke bendungan lainnya dengan penambahan pipa sekitar 30 meter.
"Tim kami sudah melakukan asesmen kemarin dan telah menemukan penyebab utama kesulitan air bersih di wilayah sana (Pangkung Manggis)," kata Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra saat dikonfirmasi, Minggu 9 Agustus 2026.
Dia menyebutkan, krisis air bersih yang menyebabkan puluhan warga terdampak tersebut telah disisi dan pemeriksaan lapangan.
Terungkap, terganggunya distribusi air bersih ke masyarakat adalah kerusakan jaringan pipa pada bagian hulu sumber air.
Selama ini, masyarakat terutama kelompok swadaya Lingkungan Pangkung Manggis mengandalkan sumber air di Lingkungan Pengajaran, Kelurahan Baler Bale Agung, tepatnya pada aliran Sungai Pangkung Gayung.
"Jadi pada bagian hulu terdapat bendungan atau empelan air masyarakat yang juga menjadi sumber pengambilan air masyarakat selama ini," sebutnya.
Sesuai hasil cek lapangan, kata dia, kerusakan jaringan pipa terjadi akibat dampak banjir pada aliran Sungai Pangkung Gayung tanggal 9 September 2025 lalu.
Kemudian, dari hasil penyisiran mulai dari Jembatan Pangkung Gayung menuju arah hulu dengan jarak kurang lebih 3 kilometer ditemukan 7 titik kerusakan pipa, dengan rincian pipa ukuran 3 dim rusak sepanjang kurang lebih 520 meter. Kemudian pipa ukuran 4 dim rusak sepanjang kurang lebih 25 meter.
Selain kerusakan pipa, ditemukan pula kerusakan pada bendungan pengambilan air masyarakat, yaitu bagian pinggir bendungan mengalami jebol, sehingga tidak dapat menampung air secara maksimal.
"Nah kerusakan tersebut sampai saat ini belum dapat diperbaiki secara keseluruhan karena adanya keterbatasan biaya dari Sekaa Swadaya Air Masyarakat," jelasnya.
Disinggung mengenai penanganannya, Agus Artana menyebutkan sudah mempersiapkan solusi jangka pendek.
Yakni dapat dilakukan melalui perbaikan atau penggantian pipa yang rusak dan pemindahan titik pengambilan air ke bendungan subak dengan penambahan pipa sekitar 30 meter.
Namun demikian, kata dia, perlu diperhatikan bahwa jaringan pipa yang berada di sepanjang aliran sungai memiliki risiko kembali mengalami kerusakan apabila terjadi banjir atau peningkatan debit air sungai.
"Sehingga diperlukan kajian dan solusi yang lebih permanen untuk menjamin keberlanjutan pasokan air bersih bagi masyarakat Lingkungan Pangkung Manggis agar tidak terulang ke depannya," tandasnya.
Terpisah, Lurah Baler Bale Agung, Ida Bagus Gede Ananda Kusuma menyatakan, krisis air bersih saat musim kemarau yang dialami warga Lingkungan Pangkung Manggis baru pertama kalinya terjadi.
Penyebab utamanya adalah karena sumber air yang mengecil dan memang ada sedikit kerusakan pada jaringan pipa.
"Total ada 80 KK yang terdampak. Itu di Tempek 2 dan Tempek 3. Tapi kemarin sejak bersurat ke BPBD, kami sudah dibantu dua tandon air bersih kapasitas 5.000 liter," jelasnya.
Ia berharap, dengan solusi yang diberikan nantinya warga setempat tak lagi mengalami kesulitan air.
Di sisi lain, kelompok atau Sekaa Swadaya Masyarakat setempat juga sangat aktif dan selalu bergerak cepat jika menemukan kendala terkait air bersih.
"Sementara solusi jangka pendek sudah ada dan akan dikerjakan. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, kita masih mengandalkan distribusi air bersih dari berbagai pihak untuk sementara sembari menunggu proses perbaikan," tandasnya.