Petani Jagung di Kabupaten Gorontalo Terpaksa Panen Dini Akibat Kemarau Panjang
Fadri Kidjab August 09, 2026 01:00 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Musim kemarau mulai memberikan dampak nyata bagi para petani jagung di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

Tanah yang mengering dan cuaca panas ekstrem membuat sejumlah petani terpaksa mengambil keputusan yang berat.

Jagung yang seharusnya masih dibiarkan tumbuh hingga usia panen, terpaksa dipetik lebih cepat.

Kondisi tersebut dirasakan oleh Usman Djafar. Pria yang akrab disapa Toti (28), seorang petani jagung asal Desa Talumelito, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.

Ia mengatakan, tanaman jagung miliknya sebenarnya belum memasuki waktu panen yang ideal. Dalam kondisi normal, jagung baru bisa dipanen setelah berusia sekitar empat bulan.

Namun, musim kemarau membuat kondisi tanaman berubah drastis.

"Ini sudah hampir dua bulan, harusnya ini belum bisa dipanen," ujar Usman kepada TribunGorontalo.com, Minggu (9/8/2026) pukul 09.46 Wita.

Tanaman jagung miliknya baru berusia sekitar tiga bulan satu minggu ketika akhirnya terpaksa dipanen.

Keputusan itu diambil karena kondisi lahan yang semakin kering. Jika dibiarkan lebih lama, Usman khawatir tanaman jagung justru semakin rusak dan hasil yang didapat akan jauh lebih buruk.

Perbedaan hasil panen pun sangat terasa. Dalam kondisi cuaca dan lahan yang normal, dua pantango (satuan luas lokal lahan) jagung miliknya bisa menghasilkan lebih dari 100 karung, bahkan mencapai 120 hingga 150 karung.

Namun kali ini, hasilnya jauh dari harapan. Dari dua pantango lahan jagung tersebut, Usman memperkirakan hanya mendapatkan sekitar 32 karung.

"Kalau normal itu 100 lebih, bisa 120 bahkan 150 karung. Ini cuma 32 karung kalau tidak salah," ungkapnya.

Selisih hasil panen yang drastis ini membuat pendapatan petani ikut tertekan. Sektor pertanian jagung sangat bergantung pada ketersediaan air dan cuaca. Ketika hujan turun dengan cukup, pertumbuhan jagung bisa berlangsung optimal. Sebaliknya, saat kemarau panjang terjadi, tanaman lebih cepat mengering dan ukuran jagung yang dihasilkan menjadi tidak maksimal.

Dampaknya ternyata tidak hanya dirasakan pada hasil panen. Usman menyebutkan bahwa cuaca panas juga membuat ketersediaan pakan untuk ternak sapi ikut berkurang.

"Biasanya pakan sapi juga berkurang karena cuaca panas begini," tuturnya.

Bagi petani yang juga memelihara ternak, kondisi ini menjadi persoalan tambahan. Selain hasil jagung yang menurun, mereka harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak.

Baca juga: Saksi Kata: Ketua Takmir Beberkan Detik-Detik Wanita Mengamuk dan Lempar Batu di Masjid Al-Mourky

Buruh Harian Ikut Terdampak

Lahan jagung di wilayah Talumelito Kecamatan Telaga Biru
MUSIM KEMARAU - Lahan jagung di wilayah Talumelito Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, yang sudah mengering dan dipanen lebih cepat. (Sumber Foto: Tribungorontalo.com/Sandri Mooduto)

Dampak kekeringan ini turut dirasakan para pekerja yang menggantungkan penghasilan dari buruh panen jagung.

Di sekitar lahan, sejumlah buruh lepas harian terlihat membantu proses pemetikan. Bagi mereka, banyak atau sedikitnya hasil panen menentukan besarnya upah yang diterima.

Minarsih, salah seorang pekerja, mengatakan hasil panen bisa jauh lebih banyak ketika kondisi cuaca mendukung. "Kalau ada hujan, bisa lebih banyak dari itu," ujarnya.

Pernyataan serupa disampaikan Satria (54), pemilik lahan jagung lainnya. Ia melihat langsung kondisi tanaman jagung yang rusak akibat cuaca panas. Menurutnya, tanaman kali ini tidak tumbuh seperti biasanya; ukuran jagung terlihat lebih kecil dan sebagian besar tanaman mengalami kekeringan.

"Gagal panen kalau seperti ini, jagungnya kering dan kecil-kecil," kata Satria.

Bagi Satria, kondisi ini menjadi gambaran nyata bagaimana perubahan cuaca memengaruhi sektor pertanian. Jagung yang seharusnya memberikan hasil berlimpah, justru harus dipanen lebih awal dengan kuantitas yang sangat sedikit.

Sambil memperlihatkan proses pemisahan jagung dari kelobotnya—pekerjaan yang biasanya dilakukan setelah panen—ia menyayangkan hasil yang diperoleh kali ini. Dalam keadaan normal, Satria biasanya bisa mendapatkan sekitar 10 koli dengan upah Rp12.000 per koli. Namun, pada musim panen kali ini, jumlahnya merosot tajam menjadi hanya sekitar lima karung.

"Biasanya kalau normal itu 10 koli, satu koli upahnya Rp12 ribu. Tapi kalau panen kali ini hanya lima karung," keluhnya.

Penurunan hasil tersebut otomatis memangkas kesempatan kerja bagi para buruh panen. Semakin sedikit jagung yang dihasilkan, semakin sedikit pula pekerjaan yang tersedia dan upah yang bisa dibawa pulang.

Berdasarkan pantauan TribunGorontalo.com di lapangan, hampir sepanjang lahan jagung di wilayah Kabupaten Gorontalo—mulai dari Desa Talumelito hingga Tilihuwa—mengalami kekeringan parah. Hujan di Gorontalo dilaporkan sudah tidak turun selama lebih dari dua bulan.

Bagi Usman dan Satria, hujan bukan sekadar masalah perubahan cuaca. Hujan adalah penentu apakah tanaman jagung bisa bertahan hingga masa panen, seberapa banyak hasil yang bisa dibawa pulang, serta berapa besar penghasilan yang dapat menopang kehidupan mereka.

Saat kemarau berlangsung lebih panjang dari biasanya, pilihan petani kian terbatas: jagung yang belum cukup umur harus dipanen lebih awal, hasil yang seharusnya ratusan karung kini tersisa puluhan, dan bagi para buruh harian, panen yang minim berarti dapur mereka terancam tidak ngebul. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.