Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Alivio Mubarak Junior
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penanganan penyakit diabetes pada kelompok usia anak ternyata tidak bisa disamaratakan.
Metode pengobatan yang diberikan sangat bergantung pada jenis gangguan metabolik yang dialami oleh sang anak.
Baca juga: Diabetes Bikin Badan Makin Kurus, Benarkah Tanda Sehat? Dokter Ungkap Kaitannya dengan Insulin
Ketua Perkumpulan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dr. Ida Ayu Made Kshanti, Sp.PD-KEMD, menjelaskan secara umum diabetes pada anak dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2.
Kedua jenis penyakit ini memiliki pemicu dasar yang berbeda, sehingga pendekatan medis untuk merawat pasien pun tidak sama.
Kasus diabetes tipe 1 pada anak biasanya berakar dari masalah organ tubuh yang tidak mampu menghasilkan hormon pengatur gula darah secara mandiri.
"Kalau tipe 1 itu adalah diabetes yang memang sejak bayi mungkin ya, karena satu dan lain hal tubuhnya tidak bisa memproduksi insulin," kata dr. Ida Ayu dalam diskusi kesehatan di Jakarta, baru-baru ini.
Karena kegagalan produksi alami tersebut, penggunaan insulin luar menjadi modal utama pengobatan yang harus dipenuhi tanpa pengecualian.
"Kalau tipe satu, pasti insulin sudah harga mati. Jadi, insulin harus diberikan setiap ada asupan makan," jelas dr. Ida.
Penggunaan insulin ini dilakukan terus-menerus melalui suntikan rutin setiap jam makan atau memanfaatkan teknologi pompa insulin.
Di samping itu, pendampingan dari keluarga sangat vital untuk mempelajari kalkulasi nutrisi serta pengaturan dosis harian.
Berbeda dengan tipe 1, anak yang mengalami diabetes tipe 2 sebenarnya masih dapat menghasilkan insulin, tetapi respons organ tubuh terhadap hormon tersebut mengalami penurunan mendasar.
"Hal (faktor) yang paling sering adalah karena kelebihan berat badan atau obesitas dan itu sekarang mulai banyak pada pasien anak-anak," ujar dr. Ida.
Dalam penanganan tipe 2, intervensi medis memprioritaskan perombakan pola hidup harian anak secara menyeluruh, mulai dari penurunan bobot tubuh, pengaturan asupan gizi, hingga peningkatan kebiasaan berolahraga.
Intervensi obat-obatan medis baru akan ditambahkan sesuai pertimbangan usia dan keparahan.
Dokter Ida menegaskan kunci keberhasilan terapi tipe 2 terletak pada konsistensi keluarga dalam menerapkan kebiasaan baru tersebut.
"Harus sustainable, jadi enggak sekali-dua kali aja, atau sebulan-dua bulan," pungkasnya.