Dari Limbah Jadi Rupiah, Warga Seguring Rejang Lebong Sulap Tali Plastik Bekas Jadi Kerajinan
Ricky Jenihansen August 09, 2026 04:54 PM

Tali plastik bekas di Desa Seguring, Rejang Lebong, diolah menjadi kerajinan anyaman bernilai jual hingga dipasarkan ke luar daerah.

Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M Rizki Wahyudi

TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG – Tumpukan kerajinan berwarna hijau dan putih tampak memenuhi bagian depan rumah Ari Fahifmi di Desa Seguring, Kecamatan Curup Utara, Kabupaten Rejang Lebong.

Bronang dan bakul dengan pola anyaman tersusun di sejumlah sudut. Bentuknya beragam, mulai dari wadah berukuran besar hingga kerajinan yang lebih kecil.

Di antara kerajinan tersebut, terlihat pula lembaran-lembaran tali plastik berwarna hijau dan putih yang belum dianyam.

Tali-tali itu sebelumnya hanya dipandang sebagai limbah.

Namun, di tangan Ari, tali plastik bekas atau tali PET tersebut berubah menjadi bahan baku kerajinan yang menghasilkan rupiah.

Saat ditemui di rumahnya, Ari tampak duduk mengerjakan anyaman. Tangannya merangkai tali plastik satu demi satu hingga membentuk pola anyaman.

Di sekelilingnya, terdapat bahan tali plastik yang siap digunakan serta sejumlah kerajinan yang telah selesai dibuat.

Dari tempat sederhana itu, Ari mengembangkan usaha yang kini melibatkan sekitar 20 perajin warga Desa Seguring.

Menariknya, sebagian besar perajin tersebut merupakan petani.

Mereka menganyam ketika memiliki waktu luang, terutama setelah menyelesaikan aktivitas di kebun atau ladang.

Melihat Limbah di Kota Bengkulu, Ari Bawa Idenya Pulang Kampung

Ide memanfaatkan tali plastik sebagai bahan kerajinan muncul ketika Ari masih bekerja di Kota Bengkulu.

Saat itu, ia melihat tali plastik yang sudah tidak digunakan dan dibuang begitu saja.

Dari kondisi tersebut, Ari kemudian mencoba memanfaatkan tali plastik sebagai bahan untuk membuat kerajinan.

Produk pertama yang dicobanya adalah bronang, perlengkapan yang cukup dekat dengan aktivitas masyarakat, terutama para petani.

Selama ini, bronang umumnya dibuat menggunakan bahan seperti bambu atau rotan.

Namun, Ari mencoba menggunakan tali plastik sebagai bahan alternatif.

Percobaan tersebut ternyata mendapat respons cukup baik.

Peminatnya mulai bermunculan dan Ari melihat adanya peluang untuk mengembangkan kerajinan tersebut menjadi usaha.

Pada 2023, Ari kemudian memutuskan kembali ke Desa Seguring dan fokus mengembangkan usaha anyaman tersebut.

"Jadi awalnya kita iseng saja, ternyata banyak peminatnya, karena itulah usaha ini terus bertahan hingga sekarang," jelas Ari.

Dari Tali Bekas Menjadi Anyaman

Di rumah Ari, tali plastik yang sebelumnya tidak memiliki nilai guna kini memiliki bentuk baru.

Tali-tali tersebut dianyam secara manual hingga menjadi bronang, bakul, dan berbagai bentuk kerajinan lainnya.

Warna hijau dan putih mendominasi sejumlah kerajinan yang telah selesai dibuat.

Pola anyaman tampak tersusun rapat membentuk permukaan wadah.

Ari tidak mengerjakan seluruh proses produksi seorang diri.

Ia mulai melibatkan warga sekitar untuk mengembangkan usaha tersebut.

Kini Libatkan 20 Perajin, Mayoritas Petani

Ari menyebut, saat ini sudah ada sekitar 20 orang yang menjadi perajin.

Menariknya, sebagian besar perajin tersebut merupakan petani.

Mereka tetap bekerja di kebun atau ladang sebagai pekerjaan utama.

Sementara aktivitas menganyam dilakukan ketika memiliki waktu luang, terutama pada sore hari atau setelah menyelesaikan pekerjaan di ladang.

Para perajin mengerjakan anyaman di rumah masing-masing.

Dengan pola tersebut, mereka tetap bisa bertani sekaligus mendapatkan penghasilan tambahan dari kerajinan.

"Untuk sekarang, kita bisa memproduksi 20-an kerajinan setiap harinya. Pekerjanya sekarang sudah ada 20 orang, rata-rata mereka petani," ungkap Ari.

Produksi Capai 500 Anyaman dalam Sebulan

Dari sekitar 20 perajin tersebut, produksi kerajinan kini mencapai sekitar 500 anyaman dalam satu bulan.

Produk yang dibuat tidak hanya bronang, tetapi juga bakul dan berbagai jenis kerajinan lainnya.

Harga jualnya beragam, berada di kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu per satu kerajinan.

Besaran harga bergantung pada ukuran serta tingkat kesulitan dalam proses pembuatannya.

Bagi warga yang mengerjakannya sebagai pekerjaan tambahan, hasil tersebut dapat menjadi sumber pemasukan di sela-sela aktivitas bertani.

Ari menyebut, seorang perajin dapat memperoleh sekitar Rp 50 ribu dalam sehari, dengan biaya pembuatan sekitar Rp 15 ribu.

Namun, penghasilan tersebut tetap bergantung pada jumlah dan jenis anyaman yang mampu diselesaikan.

"Beragam, tergantung hasilnya dari mereka, jika banyak ya banyak juga mereka dapatnya," papar Ari.

Pasarnya Mulai Menjangkau Luar Rejang Lebong

Kerajinan berbahan tali plastik tersebut kini tidak hanya dipasarkan di wilayah Rejang Lebong.

Ari mulai memperluas pemasaran ke sejumlah daerah lain.

Produk buatannya telah dipasarkan ke Lebong, Kepahiang, Lubuklinggau hingga Jambi.

Bahkan, sudah terdapat permintaan dari Lampung.

Saat ini pemasaran masih lebih banyak dilakukan secara offline.

Namun, Ari berencana mencoba pemasaran secara online untuk memperluas jangkauan konsumen.

Menurutnya, produk berbahan tali plastik memiliki keunggulan dari sisi harga.

Selain lebih murah dibandingkan sejumlah produk anyaman berbahan rotan, produk tersebut juga dinilai memiliki daya tahan yang cukup lama.

"Alhamdulillah sekarang sudah banyak peminatnya bahkan sampai luar daerah, mungkin ke depan kita bakal coba pasarkan secara luas lewat online," tuturnya.

Tak Berhenti di Bronang dan Bakul

Ari masih ingin mengembangkan usaha yang dimulainya dari pemanfaatan limbah tersebut.

Ke depan, ia berencana membuat produk anyaman dengan bentuk yang lebih beragam.

Tidak hanya bronang dan bakul, Ari ingin mengembangkan anyaman tali plastik menjadi produk seperti meja dan kursi.

Pengembangan produk tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang bagi warga untuk terlibat.

Bagi Ari, semakin banyak masyarakat yang ikut mengembangkan kerajinan, semakin besar pula peluang usaha tersebut memberikan tambahan penghasilan.

Di sisi lain, pemanfaatan tali plastik juga memberikan nilai baru terhadap limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai guna.

Apa yang terlihat di rumah Ari menjadi gambaran sederhana bagaimana sesuatu yang sebelumnya dibuang dapat kembali digunakan.

Dari tali plastik bekas, tangan para perajin Desa Seguring membentuk anyaman satu demi satu.

Limbah yang semula tidak bernilai itu kini menjadi bronang, bakul, dan kerajinan lain yang memiliki nilai jual.

Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.