TRIBUNJAKARTA.COM, JAKARTA - Kasus temuan ratusan senjata api (senpi) di sekolah swasta di Jakarta Selatan membuat Yan Sofyan Syafe'i kecewa, yayasan tempat sekolah tersebut bernaung memiliki sejarah panjang dan cita-cita mulia untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pak Yan sapaan akrabnya, merupakan satu-satunya pendiri Yayasan Harapan Ibu (YHI) yang kemudian berubah nama menjadi Yayasan Harapan Ibu Pondok Pinang (YHI-PP) yang hingga kini masih hidup.
Dijumpai saat memberikan keterangan pers di kawasan Jalan Barito, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026), Pak Yan menceritan, pendiri yayasan berjumlah lima orang serta ada keterlibatan Wakil Presiden Adam Malik.
"Dulu pada tahun '79 (1979, yayasan berdiri), kami berlima," kata pak Yan.
Pendiri awal yayasan selain dirinya yakni, almarhum Letjen TNI (Purn) H. KPH Soerjo Wirjohadipoetro (dikenal sebagai Pak Soerjo), KH Mawardi Labay el-sulthani, serta almarhum Otto Malik, putra dari Wakil Presiden Adam Malik.
Awal mula ide mendirikan yayasan dari kegiatan pengajian rutin, para pendiri ingin memiliki yayasan yang menaungi sekolah untuk tujuan mulia.
"Visi dan misi yaitu untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Dan kemudian berjalan waktu, sedikit demi sedikit kami mulai membangun," ucapnya.
Sebelum membagun, para pendiri yayasan juga sempat berkonsultasi sengaja Wapres Adam Malik terkait lahan untuk sekolah.
Lokasi sekolah yang saat ini berdiri juga merupakan gagasan Wapres Adam Malik, dia menyarankan agar lahan di Pondok Pinang dapat dimanfaatkan untuk sekolah.
"Kemudian kita sama-sama ke Pak Adam. Sampai di sana diarahkan oleh beliau bahwa beliau sebab selaku Wakil Presiden pada waktu itu, dan diarahkan bahwa ada tanah kami di sana di Kebayoran, khususnya di Pondok Pinang. Nah, itu bisa dimanfaatkan," paparnya.
Setelah rampung, sekolah bisa dapat beroperasi dan terus berkembang. Bahkan saat masa jayanya, sekolah tersebut memiliki lebih dari 2000 peserta didik.
"Kita berkeinginan agar anak-anak bangsa itu dapat betul-betul menjadi manusia yang seutuhnya, yaitu yang beragama, yang berpendidikan, dan juga mudah-mudahan dapat menjadi pemimpin-pemimpin bangsa di kemudian hari," kata pak Yan.
Mendengar kabar ditemukannya ratusan senpi dan barang haram di dalam sekolah, Pak Yan merasa sedih dan kecewa.
Kejadian tersebut seharusnya tidak terjadi di sekolah, apalagi niat awal pendirian sekolah murni untuk mendirik anak-anak bangsa agar memiliki intelektual dan mencetak generasi bertakwa.
"Saya dengar juga adanya hal-hal yang kurang menarik di situ, di samping adanya ada senjata api juga, kemudian ada senjata airsoft gun, ada beberapa hal yang kurang menarik yang tidak baik untuk sekolah kita sebagai sekolah Islam, mudah-mudahan itu semua bisa diselesaikan dengan cara yang sebaik mungkin," tegas dia.
Yan sudah sejak lama tidak terlibat langsung dalam kepengurusan yayasan, termasuk ahli waris dari para pendiri awal.
Yayasan selam 15 tahun terakhir dikelola oleh pria berinisial IWD, sosok yang diduga bertanggung jawab atas temuan ratusan senjata api, airsoft gun dan narkoba di dalam sekolah.
"Karena harapan kami, ya mudah-mudahan sekolah kita ini dapat kembali sesuai dengan tujuan daripada kami pada waktu itu untuk mendirikannya, yaitu ingin mencetak anak-anak daripada sekolah kita ini menjadi anak-anak murid yang saleh dan salehah dan juga bisa menjadi pemimpin-pemimpin bangsa di negara yang kita cintai ini," pungkasnya.
Ratusan senjata api, airsoft gun, dan amunisi ditemukan di sebuah ruangan di sekolah swasta di kawasan Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Kuasa hukum pihak sekolah, Hermawanto, mengatakan terdapat 995 pucuk senjata di ruangan tersebut pada 10 dan 11 Juli 2026.
"Jadi pada tanggal 10 dan tanggal 11 bulan Juli, hampir satu bulan yang lalu, kami menemukan ada 995 pucuk senjata. Di dalamnya ada senjata api, termasuk ada amunisi dan juga beberapa aksesoris senjata yang lain," kata Hermawanto di Polres Metro Jakarta Selatan, Kamis (6/8/2026).
Hermawanto mengungkapkan, ratusan senjata tersebut ditemukan di ruangan yang sebelumnya ditempati oleh mantan Ketua Pengurus Yayasan berinisial IWD.
"Kami laporkan itu karena ini semua ditemukan di dalam ruangan Ketua Yayasan yang sudah kami pecat," ungkap dia.
Sementara itu, Staf Ahli Ketua Pembina Yayasan Untung Sangaji menuturkan, penemuan ratusan senjata itu terungkap saat ia hendak membuka ruangan untuk mengambil kebutuhan siswa.
Saat ruangan tersebut dibuka, Untung terkejut saat mendapati ratusan senjata dan amunisi yang terbungkus rapi.
"Namun tiba-tiba ketika kita membuka kepentingan untuk sekolah ini, kita temukan peralatan yang disebut senjata. Air gun yang bisa membunuh karena larasnya itu polos tidak ada alur," tutur Untung.
Sebelumnya, Kasi Humas Polres Metro Jakarta Selatan AKP Joko Adi Wibowo mengatakan, temuan itu terungkap setelah polisi menerima aduan dari masyarakat pada 15 Juli 2026.
"Benar Polres Metro Jakarta Selatan telah menerima laporan dari masyarakat terkait temuan senjata yang terdiri dari air gun dan senjata api yang tersimpan di salah satu ruangan di yayasan sekolah di Pondok Pinang, Kebayoran Lama," kata Joko, Kamis (6/8/2026).