TRIBUNMANADO.CO.ID - Ratusan warga memadati Kawasan Pantai Desa Sapa Timur, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Sulawesi Utara, Minggu (9/8/2026), untuk mengikuti tradisi Mandi Safar.
Mandi Safar adalah tradisi turun-temurun sebagian masyarakat Muslim di Nusantara. Tradisi ini umumnya diniatkan untuk membersihkan diri, memohon berkah, dan menolak bala atau musibah.
Kegiatan yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat tersebut berlangsung meriah dan diikuti warga dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Sejak Minggu pagi, kawasan pantai Desa Sapa Timur tampak dipadati masyarakat. Warga datang bersama keluarga untuk mengikuti Mandi Safar sekaligus menikmati suasana pesisir.
Selain mandi bersama, kegiatan juga diisi dengan berbagai aktivitas masyarakat dan hiburan.
Sejumlah warga memanfaatkan momentum tersebut untuk berkumpul bersama keluarga serta mengabadikan suasana melalui foto dan video.
Bagi masyarakat Desa Sapa Timur, Mandi Safar bukan sekadar kegiatan rekreasi, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi dan menjaga kebersamaan antarwarga.
Tokoh Agama Desa Sapa Timur, Andi Gazali Taha, mengatakan tradisi Mandi Safar memiliki makna sejarah dalam kehidupan umat Islam dan telah dilaksanakan secara turun-temurun.
“Tradisi Mandi Safar ini dalam sejarah agama Islam merupakan sebuah peristiwa memperingati diselamatkannya Nabi Nuh oleh Allah pada masa itu. Sehingga sudah menjadi turun-temurun umat beragama untuk melaksanakannya,” ujar Andi Gazali Taha, saat dikonfirmasi.
Menurutnya, pelaksanaan Mandi Safar juga dimaknai sebagai ikhtiar untuk menjauhkan diri dari penyakit dan marabahaya serta memohon keberkahan.
“Tujuan dari kegiatan ini yakni untuk menjauhkan diri dari penyakit, marabahaya, serta memperoleh keberkahan untuk umat,” lanjutnya.
Di tengah antusiasme masyarakat, aspek keselamatan juga menjadi perhatian. Warga diimbau untuk tetap berhati-hati selama berada di kawasan pantai, terutama dalam mengawasi anak-anak yang bermain maupun mandi di laut.
Pemerintah Desa Sapa Timur turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan tradisi tersebut. Hukum Tua Desa Sapa Timur, Sudirman Damopolii, mengatakan kegiatan Mandi Safar diharapkan dapat menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat.
“Kami dari Pemerintah Desa sangat mendukung kegiatan Mandi Safar ini. Kami ingin kegiatan seperti ini menjadi momentum kebersamaan masyarakat. Kami juga mengingatkan seluruh masyarakat agar bersama-sama menjaga kebersihan dan keamanan selama kegiatan berlangsung,” kata Sudirman Damopolii.
Selain menjadi ajang berkumpul, kegiatan Mandi Safar juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati potensi kawasan pesisir Desa Sapa Timur.
Antusiasme warga terlihat sejak pagi. Keceriaan anak-anak dan aktivitas masyarakat di sepanjang kawasan pantai membuat suasana kegiatan berlangsung semarak.
Salah satu warga, Narto Monigi, berharap tradisi tersebut terus mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah sehingga dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
“Harapannya kegiatan seperti ini bisa memperoleh perhatian dari pemerintah untuk terus dilaksanakan setiap tahun dan semakin meriah,” ungkap Narto.
Tradisi Mandi Safar di Desa Sapa Timur tahun 2026 berlangsung dalam suasana penuh keceriaan dan kebersamaan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menjaga tradisi masyarakat, mempererat persaudaraan, serta memperkenalkan potensi wisata pesisir di Desa Sapa Timur.