Serunya Sensasi Makan Soto Sambil Nyebur Kolam Ikan di Warung Mbak Mintol Klaten
raka f pujangga August 09, 2026 07:55 PM

 

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Sensasi menyantap semangkuk soto hangat di atas air mengalir kini bisa dirasakan warga Klaten saat berkunjung ke Warung Mbak Mintol di Desa Planggu, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Di tempat ini, pengunjung bisa menyantap hidangan sambil merasakan sensasi duduk di atas kolam ikan.

Suara gemericik air bercampur dengan suara ikan yang bergerak di antara kaki-kaki meja menjadi pemandangan yang langsung terasa ketika memasuki warung tersebut, Jumat (7/8).

Baca juga: Geger di Wanareja, Mayat Pria Ditemukan Mengapung di Kolam Ikan

Di dalam warung yang berada di pinggir perkampungan itu, sejumlah meja kayu berjajar di atas kolam.

Air kolam tampak memenuhi bagian bawah meja dan kursi, sementara ikan-ikan nila berenang bebas di antara kaki pengunjung.

Seorang perempuan tampak duduk santai di kursi dengan kedua kakinya berada di dalam air.

Di sisi lain, seorang anak kecil terlihat berada di atas bangku sambil memperhatikan suasana kolam. Ikan-ikan berwarna merah, putih, hingga gelap terlihat berenang di sekitar kaki meja.

Konsep sederhana tersebut membuat Warung Mbak Mintol memiliki suasana berbeda dibanding warung makan pada umumnya.

Lokasinya memang tidak berada di tengah keramaian. Warung ini berada di dekat perkampungan dan hamparan lahan pertanian, tidak jauh dari Jalan Pedan-Cawas.

Dari Solo, perjalanan menuju warung tersebut membutuhkan waktu sekitar satu jam.

Namun, suasana tenang dengan pemandangan persawahan menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung.

Pemilik warung, Mini (39), mengatakan usaha tersebut baru berjalan sekitar lima bulan.

"Kurang lebih ya 5 bulanan (usaha berjalan)," ujarnya.

Sebelum membuka warung makan, Mini terlebih dahulu menjalankan usaha pembibitan ikan.

Dari usaha itulah muncul ide untuk menggabungkan kolam ikan dengan tempat makan.

"Awalnya ya kita kan jual pembibitan ikan. Kita terus kok ada konsep (warung) yang di kolam ada ikannya, kita terinspirasi di situ," jelasnya.

Konsep itu kemudian diwujudkan di tempatnya sendiri. Sebelum mengumpulkan modal untuk membuka warung, Mini sempat merantau ke Yogyakarta selama sekitar satu tahun.

"Kurang lebih setahun lah di Jogja. Oh, setahun di Jogja. Terus ngumpulin modal, terus kita mulai buka," ucapnya.

Kini, warung tersebut menawarkan soto dan sop sebagai menu utama. Ada pula sejumlah menu lain seperti olahan ikan nila, lele, serta nasi goreng yang tersedia pada hari-hari tertentu.

Harga yang ditawarkan relatif terjangkau. Seporsi soto dibanderol mulai Rp5.000, sedangkan menu ikan nila mulai Rp18.000.

Soto disajikan menggunakan mangkuk gerabah, lengkap dengan gorengan hangat. Warung buka setiap hari mulai pukul 06.00 WIB hingga 14.00 WIB. Khusus Minggu, jam operasional hanya sampai pukul 12.00 WIB.

"Tapi kalau hari Minggu (menu lain) ditutup, cuman Soto sama Sopnya aja," paparnya.

Ikan Jadi Daya Tarik

Bagi keluarga yang datang, kolam ikan bukan sekadar pemanis tempat makan.

Anak-anak justru menjadi salah satu alasan tempat tersebut menarik untuk dikunjungi. Setelah makan, mereka diperbolehkan bermain air di kolam yang berada di bawah meja makan.

"Iya, (banyak) bawa anak," ujar Mini.

Menurutnya, tidak sedikit orang tua yang membawa anak mereka ke warung tersebut. Ketika makanan sudah selesai, anak-anak biasanya ingin bermain air.

"Jadi kan kadang kalau pada habis makan, terus anak-anak minta berenang dibolehin," ucapnya.

Bagi Mini, konsep tersebut ternyata bisa menjadi pengalaman tersendiri bagi anak-anak. Bahkan, ada anak yang semula enggan makan atau mandi, tetapi menjadi bersemangat setelah diajak ke warung.

"Apalagi lagi yang bawa anak-anak yang enggak mau makan ke sini jadi pengin makan, yang enggak mau mandi dia pagi diajak ke sini mau mandi," paparnya.

Seiring berjalannya waktu, pelanggan tetap pun mulai berdatangan.

"Kalau sudah yang sering ke sini, dibawain ganti baju. Kita di sini juga menyediakan perlengkapan mandi, sabun mandi," kata Mini.

Tak heran jika suasana warung terlihat berbeda. Di antara meja makan dan kursi, air kolam menjadi bagian dari ruang makan. Ikan-ikan berenang di sela-sela kaki pengunjung, sementara anak-anak dapat bermain air di area tersebut.

Kebersihan Kolam Diperhatikan

Konsep kolam ikan memang menjadi daya tarik utama, tetapi Mini tidak membiarkan kolam tersebut sekadar menjadi dekorasi.

Kebersihan kolam menjadi bagian yang harus diperhatikan karena pengunjung secara langsung berinteraksi dengan air.

Kolam yang memiliki kedalaman di atas mata kaki itu dibersihkan secara rutin. Pengurasan dilakukan satu hingga dua kali dalam sepekan, tergantung kondisi air.

"Kita kalau nguras kolam itu ya kalau enggak seminggu dua kali, seminggu satu kali. Tergantung kotor kolamnya," ujarnya.

Saat dibersihkan, seluruh air kolam dibuang. Bagian dasar dan sisi kolam kemudian disikat atau disemprot.

"Kita kuras semua, air dibuang semua. Terus kolam ya disikat, kalau enggak disikat kita semprot," paparnya.

Ikan-ikan yang berada di dalam kolam juga dipindahkan sementara selama proses pembersihan berlangsung.

"Jadi tiap nguras selalu ganti, enggak air yang sama," ucapnya.

Ikan yang digunakan untuk menghidupkan suasana kolam tersebut merupakan jenis nila. Mini sengaja memilih ikan yang dianggap menarik bagi anak-anak.

"Kita pakai nila saja, soalnya kan banyak anak-anak kalau dikasih ikan terapi kan enggak menarik," jelasnya.

Meski sama-sama menggunakan ikan nila, ikan yang berenang di bawah meja makan tidak dicampur dengan ikan yang disiapkan untuk konsumsi.

Baca juga: Belajar Lewat YouTube dan AI, Mahasiswa di Blora Raup Cuan Rp 15 Juta Sekali Panen dari Kolam Ikan

Dengan konsep tersebut, Warung Mbak Mintol tidak hanya menawarkan semangkuk soto atau sop. 

Pengunjung mendapatkan suasana makan yang berbeda, yakni duduk di tengah kolam, melihat ikan berenang di bawah meja, menikmati hamparan sawah di depan warung, sementara anak-anak memiliki ruang untuk bermain air.

Bagi sebuah warung yang baru berusia sekitar lima bulan, konsep sederhana itu perlahan menjadi identitas tersendiri di kawasan Trucuk. (zma)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.