Oleh: Zefirinus Kada Lewoema *
Jakarta, 1947. Sore merayap di kota yang berdebu dan penuh luka. Gedung-gedung hitam berlubang peluru, jalanan masih menyimpan jejak tank, dan bau mesiu menempel di udara lembab. Tetapi hidup menolak padam.
Tukang asongan tetap menawarkan kretek, becak berderit mengangkut sayur layu, dan kereta api berangkat dari Stasiun Jatinegara.
Pradana, seorang pejuang - telik sandi republik, berdiri di trotoar, memeluk tas lusuh dengan map tipis. Tugas kecil di Jakarta baru saja usai, kereta sore akan membawanya pulang ke Yogyakarta.
Seorang pengamen tua memetik gitar butut di depan stasiun. Suaranya serak, melantunkan tembang lama: “Juwita Malam…”
Nada-nada itu melayang di udara sore yang lembab, bercampur dengan teriakan penjual koran, dengus becak yang menepi, dan langkah serdadu NICA yang mondar-mandir dengan mata curiga.
Baca juga: Cerpen: Dara di Puncak Rembulan
Lagu itu, pikir Pradana, bukan sekadar hiburan. Tujuh tahun lalu, di Batavia yang masih gemerlap, Ismail Marzuki menulisnya sebagai nyanyian cinta.
Orang-orang mendengarnya di kafe, di ruang dansa, atau di radio rumah pegawai. Kini, 1947, lagu itu terdengar seperti jeritan lirih bangsa yang patah hati.
Setiap bait mengingatkan pada wajah-wajah yang hilang: kawan seperjuangan yang tak pernah kembali, bocah kurir yang diseret entah ke mana, perempuan yang menunggu di beranda rumah dengan mata basah.
Lagu itu tak lagi bicara tentang gadis jelita di malam kota, tetapi tentang mereka yang pergi tanpa pamit.
Pradana berdiri kaku. Lagu lama itu meremas dadanya, seakan menuntutnya untuk ingat pada apa yang sudah dikorbankan. Ia memejam sebentar, membiarkan suara serak pengamen menembus celah hatinya yang penuh luka.
Jatinegara sore itu bukan sekadar stasiun, ia menjelma altar kecil tempat cinta, kehilangan, dan harapan bertemu dalam satu lagu yang tak selesai dinyanyikan.
Dan saat ia menoleh, matanya menemukan sosok seseorang. Di bawah papan nama stasiun, berdirilah seorang perempuan. Rambut disanggul seadanya, kebaya coklat kusam, dan koper kecil abu-abu dengan pita merah di tangannya.
Selembar kertas alamat terlipat di telapak tangannya. Pradana mengenalnya.
Beberapa jam sebelumnya, mereka sebangku di kereta dari Bekasi. Perempuan itu duduk di dekat jendela, menatap keluar sepanjang jalan. Namanya Melati.
Suaranya lirih, seperti takut pecah. Ia bercerita singkat: tentang suaminya, seorang guru, yang tak pernah kembali dari Palagan Ambarawa.
“Entah gugur, entah ditawan, entah hilang,” katanya, mata berkaca. Kini ia menanggung ibunya yang sakit dan seorang adik kecil yang masih belajar mengeja huruf.
Pradana mendengarkan. Ingatannya mulai dipenuhi wajah sahabat-sahabat yang juga lenyap: Herman, tubuhnya tak pernah ditemukan setelah baku tembak di Gombong; Darma, ditembak di depan murid-murid karena menyembunyikan pamflet republik; dan Saman, bocah kurir dua belas tahun, diseret serdadu dari stasiun dan tak kembali.
Negeri ini seperti buku besar penuh nama yang dicoret tanpa sempat diberi nisan.
Gerbong itu penuh cerita serupa. Ibu muda mendekap bayi, suaminya gugur setahun yang lalu di Bandung Selatan. Lelaki tua kehilangan putranya di Surabaya, November 1945.
Semua menunduk, paham bahwa perang merampas hak paling sederhana: kepastian bahwa orang terkasih akan pulang.
Kereta berhenti di Jatinegara. Arus penumpang menyeret mereka berpisah. Yang tertinggal hanya bayangan koper abu-abu dengan pita merah.
Dan sore itu, di depan stasiun, takdir mempertemukan mereka lagi.
Pradana mendekat. “Kita… sebangku tadi, bukan?”
Baca juga: Cerpen: Menanti Samudera Mengering
Melati menoleh. Wajahnya terkejut lalu melembut. “Iya. Aku kira kita tak akan bertemu lagi.”
“Aku juga,” sambut Pradana. Ia ragu, tapi memberanikan diri: “Boleh aku tahu nama lengkap dan alamatmu? Kalau keadaan negara lebih tenang… aku ingin menghubungimu.”
Melati menunduk, mengeluarkan secarik kertas dari dompet kain pudar, menulis: Melati Pertiwi. Gang Cemara, Jakarta Selatan.
“Kontrakan sementara,” ucapnya. “Aku tak tahu sampai kapan bisa di sana.”
Pradana menatap tulisan itu lama. Ia menambahkan namanya di balik kertas: Pradana, Yogyakarta.
“Kalau kau ingin bercerita, kirimkan surat. Kawanku bekerja di Kantor Pos Yogya. Dia akan mengantarkannya padaku. Surat selalu menemukan jalan, meski perang mencoba memutuskannya.”
Melati tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip luka.
Di kejauhan, pengamen terus menyanyikan Juwita Malam. Melati berbisik, “Lagu ini dulu dinyanyikan suamiku sebelum ia berangkat. Katanya, bila aku rindu, dengarlah lagu ini. Kini setiap kali kudengar, aku menangis.”
Pradana tercekat. Lagu yang lahir dari Batavia 1940 kini menjadi nyanyian janda-janda perang.
Pengeras suara memanggil penumpang Yogyakarta. Peluit panjang terdengar menembus kepulan uap putih kereta api. Mereka berjalan ke peron.
“Yogyakarta…” gumam Melati. “Kota itu katanya penuh harapan. Setiap rumah bisa jadi sekolah, setiap halaman jadi markas.”
“Benar,” kata Pradana. “Di sana, kita berperang dengan senjata dan juga dengan keyakinan.”
Melati menahan air mata. “Andai aku bisa ikut. Tapi tugasku menjaga ibu dan adikku. Kau… teruslah berjalan.”
Di depan pintu kereta, ia berkata, “Kalau kau menulis surat, ceritakan hal-hal kecil: gerimis di perlintasan, pedagang kopi di peron, suara rel yang terdengar seperti doa.”
“Akan kutulis,” jawab Pradana. “Dan kau, ceritakan padaku apakah pohon cemara sungguh ada di Gang Cemara.”
Melati tersenyum samar, lalu melepaskan tangannya. “Selamat jalan, Pradana. Jangan cepat sampai. Nikmati perjalananmu.”
Kereta melaju. Pradana duduk di kursi kayu keras, lampu pijar kuning berayun, jendela menampilkan bayangan kota yang menjauh.
Ia membuka buku catatan, menulis surat pertama: tentang pengamen yang berani menyanyikan Juwita Malam di bawah tatapan serdadu, juga anak kecil yang melambaikan tangan sambil berteriak “Merdeka!”, dan wajah Melati di bawah papan nama stasiun.
Sesampainya di Yogya, Pradana mengirim surat itu. Beberapa minggu kemudian, balasan datang:
“Aku membaca suratmu. Pohon cemara tak ada di Gang Cemara. Tapi bayangannya selalu muncul di dinding rumah kontrakan saat sore. Itu cukup bagiku. M.”
Pradana menatap tulisan itu lama. Ia ingin menjawab, mengirim surat lagi. Namun setelah itu, balasan tak pernah datang.
Mungkin disita sensor, atau rumah kontrakan itu sudah kosong. Atau…bisa jadi Melati mungkin telah hanyut dalam arus sejarah yang ganas.
Tahun-tahun berganti.
Sahabat-sahabat Pradana gugur. Ada yang ditembak di Kaliurang, ada yang digantung di Ambarawa, ada bocah kurir dibuang ke sawah. Negeri ini seakan dipaksa hidup dari luka.
Namun di setiap kubur tanpa nama, di setiap tubuh yang terbujur, Pradana mendengar gema yang sama: kemerdekaan memang mahal, tetapi tak ada pilihan selain membayarnya.
Setiap kali ia singgah di Jatinegara, ia mencari wajah Melati. Ia tak pernah menemukannya. Tetapi bayangan perempuan dengan koper abu-abu dan pita merah tetap hidup, seperti melodi Juwita Malam yang tak pernah selesai dinyanyikan.
Di peron Stasiun Tugu suatu malam, Pradana berdiri. Kereta dari Jakarta baru tiba. Penumpang turun dengan wajah letih. Ia menatap satu per satu, berharap menemukan Melati.
Tak ada. Hanya suara peluit, roda koper, dan keroncong samar dari radio warung depan stasiun.
Namun ia tahu: luka bukan untuk ditangisi selamanya. Dari kepedihan inilah bangsa harus bangkit.
Merdeka itu jauh lebih berharga daripada sepotong roti berisi keju dan segelas susu sapi perah yang dibagi-bagi dari tangan penjajah. Merdeka adalah napas, tanah, dan lagu sendiri meskipun dinyanyikan dengan suara serak dan wajah penuh air mata.
Pradana menutup mata. Di telinganya, gema lagu ciptaan Ismail Marzuki tujuh tahun silam terulang kembali:
“Juwita malam, siapakah gerangan Tuan…” Dan ia berbisik, seolah kepada Melati, seolah kepada bangsanya:
“Kita boleh hancur dan kehilangan segalanya. Tapi janganlah kita kehilangan keyakinan. Dari kepedihan ini, kita akan bangkit. Merdeka untukmu, untuk kita semua.” (*)
*) Zefirinus Kada Lewoema lahir di Riangbaring, Flores Timur. Aktif menulis tentang masyarakat, budaya, dan seni. Beberapa tulisannya dimuat di media daring nasional. Saat ini ia menulis fiksi dan esai dengan fokus pada ingatan, kehilangan, dan harapan di tengah perubahan zaman.