Cerita Humanis Sensus Ekonomi 2026: Temukan Nenek Usia 100 Tahun yang Masih Mahir Menjahit
Adi Suhendi August 09, 2026 10:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan di balik rumitnya proses pengumpulan data berskala nasional dalam Sensus Ekonomi 2026 (SE2026), terdapat berbagai kisah humanis menarik yang dialami para petugas sensus di berbagai penjuru daerah.

Kisah-kisah lapangan tersebut merekam realitas sosial yang menyentuh hati sekaligus potret keuletan aktivitas ekonomi masyarakat bawah.

Ia menceritakan pengalamannya saat turun langsung mendampingi dan mengecek aktivitas pendataan di berbagai daerah guna memastikan proses pengumpulan data berjalan sesuai prosedur lapangan.

"Banyak cerita di lapangan yang membuat kita terenyuh terhadap perjuangan para petugas Sensus Ekonomi ini. Mereka adalah pejuang data atau pahlawan data kita di lapangan yang berhadapan langsung dengan realitas masyarakat harian," tutur Amalia.

Baca juga: Data BPS: Hipertensi hingga Penyakit Jantung Paling Banyak Diderita Jemaah Haji Indonesia

Salah satu kisah mengharukan dilaporkan petugas sensus di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Di tengah proses sensus rumah tangga, petugas mendapati seorang nenek yang telah genap berusia 100 tahun pada bulan Mei lalu.

Meskipun telah berusia satu abad, sang nenek tercatat berada dalam kondisi fisik yang sangat prima, mandiri, dan masih aktif melakukan aktivitas rumah tangga harian tanpa bantuan alat.

Baca juga: Kepala BPS Jamin Kerahasiaan Data Sensus Ekonomi 2026, Terapkan Sistem Enkripsi

"Nenek tersebut sehat sekali. Setiap hari beliau masih bisa menyapu rumah, bahkan masih sanggup menjahit pakaian dan memasukkan benang sendiri ke dalam lubang jarum tanpa kacamata, serta masih bisa berkomunikasi dengan sangat baik," ungkap Amalia.

Cerita humanis lain dialami langsung oleh Amalia saat melakukan cek acak (random check) lapangan di Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur.

Ia menemui seorang ibu yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual bubur tradisional di pinggir jalan raya.

Saat dikonfirmasi mengenai kepesertaan sensus, sang ibu penjual bubur menjawab dengan bangga bahwa dirinya telah disensus oleh petugas di rumah tinggalnya.

Sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) BPS, unit usaha mikro yang tidak menetap atau tidak memiliki bangunan fisik permanen wajib didata di rumah tinggal pemiliknya karena sifat usahanya yang dinamis.

"Ibu itu menjawab, 'Saya sudah didata di rumah.' Ini membuktikan kepatuhan petugas kami terhadap SOP lapangan. Dari dialog itu, terungkap pula bahwa anaknya di rumah juga membuka usaha les privat. Ini potret ekonomi digital saat ini," ucap Amalia.

Amalia menekankan bahwa di era modern saat ini, banyak aktivitas ekonomi produktif yang berjalan secara sunyi di dalam rumah tangga tanpa terlihat plang usaha secara fisik dari luar, seperti jasa kursus privat daring, perdagangan elektronik (e-commerce), hingga industri kreatif rumahan.

Kehadiran fisik para petugas sensus dengan mendatangi satu per satu rumah tangga secara langsung menjadi instrumen vital agar unit-unit usaha kecil "tak kasat mata" tersebut dapat terekam secara resmi dalam peta pembangunan ekonomi nasional.

BPS saat ini tengah menyelenggarakan salah satu agenda nasional terbesar di bidang data, yaitu Sensus Ekonomi 2026 (SE2026).

Kegiatan pengumpulan data secara menyeluruh ini dilaksanakan sejak pertengahan Juni hingga dijadwalkan berakhir pada 31 Agustus 2026 mendatang.

Sensus Ekonomi merupakan kegiatan rutin dan amanat undang-undang statistik yang diselenggarakan sepuluh tahun sekali, khususnya pada setiap tahun yang memiliki angka akhiran enam.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.