TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Luapan air akibat jebolnya tanggul penahan Sungai Guo di Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, mulai teratasi setelah lokasi tersebut dibenahi menggunakan alat berat.
Pantauan TribunPadang.com pada Minggu (9/8/2026) sore menunjukkan aliran air ke permukiman warga telah berhenti dan tanah di sekitar lokasi mulai mengering.
Diketahui, banjir bandang terjadi di daerah tersebut pada Senin (3/8/2026) lalu, akibat jebolnya tanggul penahan air Sungai Guo.
Pada hari yang sama, sore harinya alat berat sudah datang ke lokasi untuk memperbaiki tanggul dengan sedimen di dasar sungai.
Sebelum kedatangan alat berat, air tampak masih mengalir ke jalan hingga di depan rumah warga pada Senin siang lalu.
Baca juga: Minim Kamar Mandi di Tenda Pengungsian Lapau Munggu Padang, Penyintas Banjir Harus Numpang ke Masjid
Akan tetapi, pada Minggu (9/8/2026) sore, aliran air sudah berhenti, tanah mengering seperti semula dan tanggul penahan air sementara sudah tampak tinggi.
Di lokasi, tiga alat berat juga berdiri, setelah melakukan pengerukan sedimen Sungai Guo di Lapau Munggu.
Salah satu warga, Meldawati (42) merasa bersyukur atas aksi cepat pemerintah menangani sungai pascabencana susulan di Lapau Munggu.
Untuk saat ini, ketakutan dan kekhawatiran warga sudah sedikit berkurang setelah bencana terjadi.
"Alhamdulillah cepat ditangani, sehingga ketakutan kami sedikit berkurang. Karena kalau tidak dibangun tanggul lagi, air terus mengalir ke permukiman warga," ucapnya saat berada di dalam tenda darurat, di Lapau Munggu.
Baca juga: Akses Jauh, Korban Bencana Susulan Lapau Munggu Lebih Pilih Tinggal di Tenda Darurat Milik Kemensos
Ia berharap ke depannya, normalisasi sungai hingga ke hulu dapat dilakukan pemerintah.
Pasalnya kondisi hulu dan sungai pascabencana akhir November 2025 lalu, masih banyak menyisakan material.
Apabila hujan lebat datang, warga mengaku harap-harap cemas dan harus mengungsi ke tempat yang lebih aman.
"Kalau sudah turun hujan, kami merasa cemas, langsung mencari tempat aman untuk mengungsi, kalau tetap tinggal, khawatir terjadi hal yang tak terduga," tambahnya.
Penanganan di kawasan hulu sungai menjadi prioritas utama Pemerintah Kota (Pemko) Padang pascabencana banjir susulan yang menerjang daerah tersebut.
Hal itu ia sampaikan oleh Wali Kota Padang, Fadly Amran, saat menyalurkan bantuan untuk korban bencana susulan di Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, Kota Padang.
Diketahui bahwa Fadly Amran menyalurkan dari Wakil Presiden (Wapres) RI, BNPB dan BLT Rp2 juta dari Pemko Padang, pada Minggu (9/8/2026).
Sebelumnya, ia menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas bencana susulan yang masih terjadi.
Baca juga: Pemko Padang Salurkan BLT Rp2 Juta untuk 270 Rumah Rusak Ringan Akibat Bencana Susulan
Bencana susulan terakhir di Padang, tercatat pada Senin (3/8/2026). Salah satu daerah terdampak yakni Lapau Munggu.
"Saya mengucapkan permintaan maaf kepada masyarakat, karena bencana yang masih terjadi," ucap Fadly Amran.
Kata dia, penanganan hulu sungai harus diprioritaskan terlebih dahulu, mengingat bencana susulan yang masih terus terjadi.
Pasalnya, pengerukan dan rehabilitasi sungai pascabencana akhir November 2025 lalu tak bisa membendung bencana di masa akan datang.
"Jadi, tidak putus dengan pengerukan dan rehabilitasi sungai saja, harus menuntaskan di bagian hulu," tegasnya.
Baca juga: Wako Fadly Amran Salurkan Paket Bantuan Wapres dan BNPB untuk Korban Bencana di Padang
Ia menyebut, saat ini pemerintahan pusat, provinsi dan kota sudah membahas hal tersebut usai bencana susulan Senin (3/8/2026) lalu.
Kesepakatan secara bersama, penanganan hulu harus diprioritaskan untuk mengantisipasi bencana susulan ke depan.
Akan tetapi, saat ini proses pencarian tender masih berlangsung. Ia meminta masyarakat bersabar dan berdoa agar cepat terealisasi.
"Mudah-mudahan tender untuk penanganan ini secepatnya terealisasi. Kita berdoa secepatnya selesai, sehingga warga bisa aman," pungkasnya.
Baca juga: Jualan Bendera Merah Putih Sejak 2012, Pedagang di Padang Sebut Daya Beli Masyarakat Kini Berkurang
Kata dia, Pemko Padang sudah mengajukan perbaikan dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P).
Hal itu dikarenakan, beberapa titik terdampak bencana susulan harus dimasukan ke dokumen tersebut.
"Meski dokumen R3P sudah disepakati usai bencana akhir November 2025 lalu, kita sudah ajukan revisi, karena ada titik lain yang belum masuk, salah satunya kawasan SMPN 41 Padang," tambahnya.(*)