SURYA.CO.ID, JOMBANG – Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU) menggelar bedah buku dan talkshow strategis menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Sabtu (8/8/2026).
Forum ilmiah itu digelar sebagai bentuk dukungan nyata alumni dalam mengawal arah kepemimpinan dan masa depan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.
Berbagai isu krusial mulai dari penguatan khittah, peran ulama di tengah era globalisasi, hingga moderasi beragama menjadi bahan diskusi hangat para akademisi.
Melalui kegiatan itu, alumni menegaskan komitmennya untuk terus merawat tradisi pesantren sekaligus menjaga keutuhan NKRI.
Baca juga: Totalitas IKABU Nusantara untuk Muktamar ke-35 NU, Siap Kerahkan Kekuatan Alumni Lintas Profesi
Penataan arah organisasi menjadi perhatian utama agar NU terus relevan menjawab tantangan zaman modern.
Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU) menggelar bedah buku dan talkshow menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang.
Forum itu membahas arah masa depan NU, peran kiai, serta strategi pesantren menghadapi tantangan di era global.
Kegiatan yang berlangsung di Aula MAN 3 Jombang, PPBU Tambakberas, Sabtu (8/8/2026) malam, mengangkat tema 'Khittah NU, Kiai, dan Pesantren: Merawat Moderasi, Menjaga NKRI.'
Tema itu diangkat dari buku karya Prof. Dr. Drs. HM Zainuddin, yang pernah menjabat Rektor UIN Malang periode 2021-2025.
Zainuddin sendiri merupakan alumni MAN 3 Jombang PPBU Tambakberas.
Bedah buku ini menjadi bagian dari kontribusi alumni Bahrul Ulum untuk menyemarakkan dan mendukung pelaksanaan Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di PPBU Tambakberas, Jombang.
Baca juga: Ribuan Muktamirin Bakal Dilayani 50 Innova, IKABU Total Dukung Muktamar ke-35 NU
Pemantik diskusi, Prof. Nur Ali, mengatakan Khittah NU tidak cukup dipahami sebagai dokumen hasil keputusan organisasi pada 1984 di Situbondo.
Lebih dari itu, Khittah NU dinilai perlu menjadi pedoman dalam menentukan arah pemikiran dan sikap warga Nahdliyin.
"Khittah NU harus menjadi kompas, dasar dan arah berpikir, sekaligus landasan etik dan moral warga Nahdliyin, termasuk peserta Muktamar NU ke-35," ucapnya dalam keterangan yang diterima SURYA.CO.ID, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, tantangan NU ke depan tidak hanya berkaitan dengan persoalan internal organisasi.
Perubahan sosial dan kebutuhan masyarakat global juga menuntut kiai serta pesantren mampu melakukan penyesuaian tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi akar tradisi NU.
Prof Zainuddin dalam pemaparannya mengatakan buku itu mencoba membaca posisi NU, kiai dan pesantren di tengah perubahan zaman.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah perubahan peran kiai di tengah masyarakat.
Menurutnya, dinamika sosial membuat pola hubungan antara kiai, pesantren dan masyarakat ikut mengalami pergeseran.
Buku itu juga membahas bagaimana pesantren dapat tetap menjaga tradisi sekaligus mengembangkan sikap moderat.
Nilai itu dinilai penting untuk memperkuat kontribusi NU dalam menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Zainuddin juga mendorong agar Muktamar ke-35 NU menghasilkan arah organisasi yang jelas, termasuk terkait kepemimpinan dan program kerja lima tahun mendatang.
"Maka perlu dirumuskan hal-hal yang menyangkut NU ke depan, yaitu bagaimana mempersiapkan pemimpin NU pada Muktamar mendatang dan bagaimana merancang program lima tahunan ke depan atau road map," katanya melanjutkan.
Baca juga: Muktamar NU ke-35, LKNU Jombang Siapkan Layanan Kesehatan 24 Jam
Gagasan keteladanan para pendiri NU menjadi pondasi penting dalam merumuskan kepemimpinan masa depan.
Mantan Bupati Tuban dua periode, H Fathul Huda, mengajak para santri dan warga NU kembali meneladani perjuangan KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab.
Fathul Huda yang juga alumni Madrasah Muallimin Muallimat (MMA) Bahrul Ulum Tambakberas menilai karakter Mbah Wahab masih relevan menjadi teladan bagi generasi NU.
Menurutnya, Mbah Wahab memiliki sejumlah karakter penting, seperti kecerdasan, keberanian mengambil keputusan dan semangat dalam memperjuangkan kepentingan umat.
"Al-Mar'u Ma'a Man Ahabba, seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai. Apa yang dilakukan Mbah Wahab itu sudah komplit, baik kecerdasan beliau, enerjik dan pemberani mengambil sikap. Itu yang harus kita copy paste sebagai santri," tuturnya.
Baca juga: Isi Pesan Gus Hasib Wahab Chasbullah untuk Muktamar NU ke-35 di Tambakberas Jombang
Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab, MA, putri KH Abdul Wahab Chasbullah yang turut hadir dalam kegiatan itu, menyampaikan harapan agar kepemimpinan NU ke depan mampu menghadirkan keteduhan bagi warga Nahdliyin.
Ia menilai masyarakat membutuhkan pemimpin yang dapat mengayomi sekaligus memberikan keteladanan.
"Kepemimpinan PBNU harus mencontoh kepemimpinan Kiai Hasyim, Kiai Wahab dan Kiai Bisri," pesannya.
Kegiatan bedah buku dan talkshow itu diinisiasi para alumni Bahrul Ulum yang kini berkiprah sebagai pengasuh pesantren, guru besar, akademisi dan praktisi.
Selain menjadi ruang diskusi mengenai masa depan NU, kegiatan itu juga menjadi bentuk dukungan alumni terhadap pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Sejumlah tokoh turut hadir, antara lain Ketua Umum Yayasan PPBU KH Abdur Rozaq Sholeh, Ketua Majelis Pengasuh PPBU Dr. KH Hasib Wahab Hasbullah, Kepala MAN 3 Jombang H Sutrisno, serta Ketua Panitia Prof. Dr. Hj. Evi Fatimatur Rusydiyah.
Hadir pula Prof. Dr. Drs. H Nur Ali, yang merupakan Ketua Ikatan Alumni MAN 3 Jombang PPBU Tambakberas sekaligus Ketua Senat UIN Malang.
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin KH Moh. Syifa' Malik, Sekretaris Yayasan Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang.