Laporan : Madchan Jazuli
SURYA.CO.ID, TRENGGALEK – Keterbatasan status sebagai relawan guru tidak menyurutkan semangat Fredika Ramanda Putra untuk terus berinovasi menciptakan aplikasi media pembelajaran bagi siswa.
Fredika membuat aplikasi pembelajaran berbasis Android bernama Segarda Kelas 2 di SDN 2 Gandusari, Trenggalek, Minggu (9/8/2026).
Pemuda asal Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek itu merancang aplikasi pintar itu demi memudahkan siswa belajar secara interaktif di sekolah maupun rumah.
Lulusan STKIP PGRI Trenggalek itu memanfaatkan bekal akademik serta pengalaman mengajarnya untuk menjawab tantangan pembelajaran di era digital.
Inovasi tersebut menjadi bukti nyata kepeduliannya dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak di daerahnya.
Baca juga: Bupati Lamongan Terkesan Inovasi Biopori Mahasiswa KKN, Siapkan Gerakan Atasi Banjir
Gagasan segar menciptakan media pembelajaran digital ini rupanya telah ditorehkan Fredika sejak masih menduduki bangku kuliah.
"Waktu di kuliah semester lima mengikuti lomba media pembelajaran di Unesa tingkat nasional dan mendapat juara tiga tingkat nasional," ulas Fredika dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).
Pengalaman bernilai itu kemudian ia kembangkan lebih lanjut melalui penelitian skripsinya pada 2023.
Penelitian itu berjudul Pengembangan Media Pembelajaran Aplikasi Game Edutainment untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas 3 SD.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Fredika memilih mengabdikan diri sebagai relawan guru di SDN 2 Gandusari sambil tetap menjalani pekerjaan sebagai pekerja lepas atau freelance.
Selama mendampingi siswa di kelas, ia melihat masih ada peserta didik yang cenderung kurang aktif dalam mengikuti proses pembelajaran.
Di sisi lain, sebagian besar siswa sudah terbiasa menggunakan telepon genggam milik orang tua mereka.
Kondisi itu kemudian mendorong Fredika untuk membuat media pembelajaran yang dapat diakses melalui perangkat Android dan mudah digunakan oleh anak-anak sekolah dasar.
"Pertama untuk meningkatkan rasa ingin tahu siswa yang awalnya pasif menjadi aktif. Setelah itu untuk membantu siswa dalam pembelajaran di rumah. Karena siswa kelas 2 SD sudah mengenal internet dan HP, kalau bisa belajar dalam genggaman kenapa tidak diaplikasikan," ujarnya.
Baca juga: Sosok Ahmad Aly Musyafa’ Santri Trenggalek, Bikin Kamus Arab Al-Munawwir Jadi Aplikasi Gratis
Aplikasi Segarda versi 1.0 saat ini memuat materi dari lima mata pelajaran.
Di dalamnya juga tersedia berbagai fitur lain, mulai dari buku digital, lagu kebangsaan.
Lalu ada lagu daerah, lagu anak-anak, permainan edukatif, menu perkembangan nilai siswa, hingga informasi mengenai pengembang aplikasi.
Mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) serta Pendidikan Agama belum masuk dalam pengembangan versi awal aplikasi itu.
Fredika menjelaskan, Aplikasi Segarda dapat digunakan tanpa melalui proses login.
Dengan demikian, siswa dapat langsung mengakses seluruh fitur yang tersedia setelah aplikasi terpasang di perangkat.
Dikatakannya, aplikasi itu mulai digunakan sekitar sepekan setelah memasuki tahun ajaran baru.
Kini, Segarda hampir setiap hari dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Selain digunakan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, aplikasi itu juga membantu guru dalam menyampaikan materi maupun memberikan tugas yang dapat dikerjakan siswa dari rumah.
Proses pengerjaan hingga penerapan aplikasi di ruang kelas berjalan lancar tanpa mengalami kendala teknis yang berarti.
Ia mengatakan, proses pengembangan aplikasi Segarda membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.
Sebelum digunakan dalam pembelajaran, aplikasi itu terlebih dahulu melalui tahap uji coba.
Dari hasil pengujian, Fredika mengaku tidak menemukan kendala teknis maupun bug yang mengganggu penggunaan aplikasi.
Sebelum diterapkan kepada siswa, pihak sekolah juga melakukan sosialisasi kepada para orang tua.
Langkah itu dilakukan karena banyak siswa menggunakan telepon genggam milik orang tua untuk mengakses aplikasi pembelajaran itu.
"Waktu sosialisasi, masukan yang muncul pertama terkait cara penginstalan. Setelah dicoba ternyata cukup simpel dan mudah digunakan untuk belajar," jelasnya.
Baca juga: Kopi Robusta Desa Dilem Mojokerto Punya Wajah Baru Berkat Inovasi Mahasiswa Internasional UK Petra
Langkah kreatif sang relawan guru menuai pujian hangat serta ketertarikan dari para pengajar lainnya di sekolah itu.
Inovasi itu mendapat respons positif dari rekan sesama pendidik di SDN 2 Gandusari.
Guru kelas 5, Palupi Mahardika, mengaku tertarik untuk menerapkan konsep pembelajaran serupa bagi siswa di kelas yang diampunya.
"Kami tertarik untuk mengadopsi hal itu, karena ini memudahkan siswa untuk belajar," ulasnya.
Dikatakannya, dewasa ini sudah zamannya semua menggunakan gadget, agar lebih bermanfaat gadget juga sebagai perantara media pembelajaran termasuk diisi oleh aplikasi ini.
Bagi Fredika, Segarda Kelas 2 tidak hanya sekadar menjadi aplikasi pembelajaran berbasis digital.
Melalui inovasi itu, ia berupaya menghadirkan metode belajar yang lebih dekat dengan keseharian siswa di tengah perkembangan teknologi.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi dalam dunia pendidikan bukan untuk menggantikan peran guru.
Teknologi justru dapat menjadi salah satu sarana pendukung agar siswa semakin tertarik dan aktif dalam mengikuti pembelajaran.
Di tengah statusnya sebagai relawan guru yang masih penuh ketidakpastian, Fredika memilih untuk terus berkarya.
Ia berharap inovasi yang lahir dari pengalaman dan aktivitasnya di ruang kelas itu dapat memberikan manfaat bagi siswa serta mendukung proses pembelajaran di era digital.