TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Pembangunan dari tingkat Rukun Tetangga (RT) menjadi salah satu strategi Wali Kota Samarinda Andi Harun dalam mendorong pemerataan pembangunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pendekatan tersebut diwujudkan melalui Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya), salah satu program unggulan Pemkot Samarinda yang menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam menentukan kebutuhan pembangunan di lingkungannya.
Konsistensi menjalankan program tersebut mengantarkan Andi Harun meraih penghargaan Inovator Pembangunan Inklusif Terbaik dalam ajang Tribun Kaltim Award 2026.
Baca juga: Berkat Program TALISERA, Pertamina Patra Niaga Kalimantan Raih Gold TJSL and CSR Award 2026
Penghargaan itu diberikan dalam acara yang berlangsung di Hotel MaxOne Balikpapan, Kamis (30/7/2027) malam.
Meski tidak hadir secara langsung, Andi Harun menilai penghargaan tersebut merupakan hasil kerja seluruh jajaran Pemkot Samarinda yang selama ini menjalankan berbagai program pembangunan.
"Alhamdulillah semua bentuk penghargaan, yang kerja itu sebenarnya bukan saya. Yang kerja itu staf saya, pegawai-pegawai saya yang kerja," ujar Andi Harun, Senin (3/8/2026).
Melalui Probebaya, Pemkot Samarinda mengalokasikan anggaran sekitar Rp100 juta hingga Rp300 juta untuk setiap RT setiap tahun.
Anggaran tersebut bersumber dari APBD dan digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang ditentukan melalui proses perencanaan di tingkat lingkungan.
Konsep ini menjadi pembeda karena masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi turut menentukan program yang akan dijalankan.
Usulan pembangunan dibahas melalui Rembuk RT sebelum kemudian direalisasikan sesuai skala prioritas.
Baca juga: Komitmen Bangun SDM Lewat Pendidikan, Rudy Masud Dianugerahi Penghargaan Tribun Kaltim Award 2026
Dari total anggaran yang tersedia, sekitar 60 persen diarahkan untuk pembangunan infrastruktur dasar lingkungan. Sementara 40 persen lainnya digunakan untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Pada sektor infrastruktur, program tersebut menyasar kebutuhan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari warga. Di antaranya perbaikan jalan lingkungan, drainase dan parit untuk mengurangi genangan serta banjir lokal.
Anggaran juga dapat digunakan untuk mendukung fasilitas lingkungan, seperti pos ronda, alat pemadam kebakaran permukiman dan penerangan jalan.
Pola pembangunan berbasis kebutuhan warga tersebut membuat pemerintah tidak hanya menentukan proyek dari tingkat perangkat daerah. Sebaliknya, kebutuhan yang muncul dari lingkungan RT menjadi dasar dalam menentukan kegiatan yang akan dilaksanakan.
Tidak berhenti pada pembangunan fisik, Andi Harun juga mengarahkan Probebaya untuk memperkuat kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Melalui porsi pemberdayaan, anggaran digunakan untuk mendukung berbagai kebutuhan warga, mulai dari bantuan sosial bagi keluarga kurang mampu, peningkatan akses jaminan kesehatan, hingga dukungan pendidikan bagi anak dari keluarga prasejahtera.
Di bidang kesehatan, Probebaya turut mendukung kegiatan Posyandu melalui penyediaan makanan tambahan (PMT) dan sarana kesehatan dasar. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam eningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, termasuk pencegahan stunting.
Sementara di sektor ekonomi, program diarahkan untuk mengembangkan potensi usaha masyarakat di tingkat RT. Salah satunya melalui pembentukan dan penguatan Badan Usaha Milik RT (BUMRT), pemberian modal stimulan serta pelatihan keterampilan bagi warga.
Pemkot Samarinda juga mendorong penggunaan tenaga kerja lokal dalam pelaksanaan proyek fisik Probebaya.
Skema padat karya tersebut diharapkan membuat manfaat pembangunan tidak hanya berupa infrastruktur, tetapi juga membuka kesempatan kerja dan menggerakkan perekonomian warga.
Baca juga: Kadiskominfo Samarinda Ungkap Kiprah Andi Harun di Balik Penghargaan Tribun Kaltim Award 2026
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari keseluruhan pelaksanaan program.
Warga dilibatkan sejak tahap perencanaan melalui Rembuk RT, pelaksanaan kegiatan hingga pengawasan.
Pemkot Samarinda juga menempatkan akuntabilitas sebagai bagian dari indikator keberhasilan Probebaya.
Penggunaan anggaran dan pelaksanaan kegiatan harus dapat dipertanggungjawabkan melalui administrasi serta pelaporan yang tertib.
Berbagai pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya Andi Harun membangun Samarinda dengan pola pembangunan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Pemerintah tidak hanya membangun dari atas, tetapi memberi ruang kepada warga untuk menentukan prioritas pembangunan di lingkungannya.
Atas berbagai upaya tersebut, Andi Harun menilai penghargaan yang diterimanya harus menjadi pemacu bagi Pemkot Samarinda untuk meningkatkan kinerja.
"Apapun itu penghargaannya, kami jadikan sebagai alat untuk memicu bekerja lebih bagus lagi," tegasnya.
Menurutnya, ukuran keberhasilan pemerintah tidak semata-mata dilihat dari penghargaan yang diterima.
Hal yang lebih penting adalah manfaat pembangunan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia berharap kinerja Pemkot Samarinda ke depan semakin baik sehingga pembangunan yang dilakukan benar-benar memberikan dampak bagi warga Kota Tepian.
"Mudah-mudahan dengan penghargaan itu, kami bisa lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya," pungkasnya.
Wali Kota Samarinda Andi Harun meraih penghargaan Tokoh Inovator Pembangunan Inklusif Terbaik dalam ajang Tribun Kaltim Awards 2026.
Penghargaan tersebut diberikan dalam acara yang berlangsung di Hotel MaxOne Balikpapan, Kamis (30/7/2026) malam.
Berhalangan hadir, Andi Harun diwakili Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Samarinda Aji Syarif Hidayatullah untuk menerima penghargaan.
Dayat, sapaan akrbanya mengatakan, penghargaan tersebut merupakan apresiasi atas komitmen Andi Harun dalam mendorong pembangunan yang manfaatnya dirasakan langsung masyarakat.
“Bapak Wali Kota selalu menekankan bahwa keberhasilan pembangunan bukan semata diukur dari berdirinya infrastruktur, tetapi dari sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya,” ujar Dayat.
Salah satu program yang menjadi wujud pendekatan tersebut adalah Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya).
Melalui program tersebut, Pemkot Samarinda mengalokasikan anggaran Rp100 juta hingga Rp300 juta per Rukun Tetangga (RT) setiap tahun. Warga dilibatkan dalam menentukan kebutuhan pembangunan melalui Rembuk RT.
Sekitar 60 persen anggaran diarahkan untuk infrastruktur dasar, seperti perbaikan jalan lingkungan, drainase, penerangan dan fasilitas publik. Sementara 40 persen digunakan untuk pemberdayaan masyarakat, termasuk dukungan kesehatan, pendidikan dan pengembangan ekonomi.
Probebaya juga mendorong pembentukan Badan Usaha Milik RT (BUMRT), pelatihan keterampilan dan penggunaan tenaga kerja lokal dalam kegiatan pembangunan.
Menurut Dayat, pendekatan tersebut menunjukkan upaya Pemkot Samarinda membangun dengan pola bottom-up, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi ikut menentukan dan mengawasi pembangunan di lingkungannya.
Penghargaan tersebut diharapkan menjadi pemacu bagi Pemkot Samarinda untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan memastikan pembangunan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (TribunKaltim.co/ray)