POS-KUPANG.COM, KUPANG - Pelepasan 756 anggota Pramuka Penggalang dari 22 kabupaten/kota se-NTT menuju Jambore Nasional (Jamnas) XII di Cibubur oleh Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena pada Kamis (6/8/2026) merupakan momen penting.
Upacara di halaman Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT ini menandai babak baru perjuangan mereka. Saat itu, pesan Gubernur Melki kepada anak-anak Pramuka terdengar sangat menyentuh, ”Tunjukkan karakter, budaya, dan prestasi anak NTT.”
Namun, pertanyaan besarnya adalah bagaimana karakter tersebut benar-benar tumbuh dan tetap melekat saat mereka pulang nanti, setelah kibaran bendera di Gedung Sasando usai? Jambore sering kali berhenti sebagai sebuah acara perkemahan akbar semata. Anak-anak kita berangkat dengan rasa bangga, tetapi pulang hanya membawa kaus dan pin kenang-kenangan.
Harus diakui, banyak dari mereka yang kembali tanpa didukung ekosistem yang mampu menjaga karakter baik tetap hidup di kampung halaman. Padahal, Pramuka adalah laboratorium karakter paling lengkap yang mengajarkan disiplin, gotong royong, cinta alam, toleransi, hingga kepemimpinan.
Agar pesan Gubernur NTT tak sekadar menjadi slogan ada beberapa hal strategis yang perlu didorong secara serius. Pertama, siapkan panggung budaya yang terkurasi. Artinya, anak-anak harus mampu menampilkan kekayaan budaya NTT secara substansial.
Jangan biarkan mereka hanya mengenakan kain tenun dan menari di stan pameran Jamnas tanpa memahami maknanya. Pemerintah Provinsi bersama Kwarda semestinya memberikan pembekalan kurasi budaya. Misalnya, apa cerita di balik tenun Flores Timur, apa filosofi tarian dari Sumba, atau apa nilai toleransi dari tradisi di Alor?
Anggota Pramuka mesti menjadi pendongeng budayanya sendiri bukan sekadar pemakai kostum. Hal inilah yang akan membangun rasa percaya diri mereka agar tidak minder sebagaimana yang diingatkan Ketua Kwarda, Sinun Petrus Manuk.
Kedua, menyusun program pasca-Jamnas secara rutin dan wajib. Langkah ini yang paling sering luput dari perhatian. Sebanyak 756 anak ini adalah agen perubahan. Jangan biarkan mereka kembali ke daerah lalu senyap tanpa gaung. Wajibkan diseminasi di sekolah.
Setiap peserta Jamnas wajib menjadi pembina cilik dan mempresentasikan tiga keterampilan baru yang mereka serap dari provinsi lain saat upacara sekolah.
Selain itu, Pemprov dapat memfasilitasi Kwarda menggelar Jambore Mini di 22 kabupaten dalam waktu tiga bulan setelah Jamnas, dengan menunjuk para alumni peserta Jamnas sebagai panitianya. Dengan demikian, transfer ilmu dapat langsung terjadi di tingkat akar rumput.
Ketiga, perkuat kapasitas pembina. Gubernur telah menitipkan anak-anak ini dengan penuh kasih sayang kepada para pembina.
Amanat tersebut harus dijawab dengan peningkatan kualitas pembina. Masih banyak pembina di daerah yang bekerja dengan dana terbatas dan pelatihan seadanya. Untuk itu, pemerintah mesti mengalokasikan anggaran khusus untuk pelatihan pembina secara berjenjang dan berkelanjutan.
Berikan pula insentif atau penghargaan daerah bagi pembina berprestasi di pelosok agar dedikasi ini menjadi kebanggaan. Pastikan rasio pembina serta aspek kesehatan, keamanan, dan pendampingan psikologis — seperti yang diminta Gubernur—benar-benar terpenuhi secara nyata di lapangan.
Keempat, jadikan Pramuka sebagai solusi atas masalah nyata anak muda NTT. Karakter tidak dibangun di dalam tenda saja, melainkan saat Pramuka dilibatkan langsung menyelesaikan masalah sosial. Kita perlu mengarahkan program Pramuka NTT agar lebih fokus pada isu-isu lokal.
Contohnya, gerakan Pramuka peduli sampah plastik, Pramuka penjaga mata air di pegunungan, hingga Pramuka literasi digital untuk melawan hoaks. Dengan begitu, Dasa Darma Pramuka akan menjadi relevan dan hidup, bukan sekadar hafalan semata. (*)