SRIPOKU.COM, PALEMBANG — Dalam peta industri nasional, Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Selatan (Sumsel) memegang peran vital dengan karakteristik ekonomi yang bertolak belakang.
Jabar dikenal sebagai jantung manufaktur modern Indonesia, sementara Sumsel berdiri kokoh sebagai kekuatan industri berbasis sumber daya alam dan agro-industri.
Jawa Barat melaju pesat lewat kawasan industri megah seperti Bekasi, Karawang, dan Purwakarta yang didominasi oleh manufaktur otomotif, elektronik, serta pengolahan konsumsi untuk pasar domestik maupun ekspor.
Tak hanya itu, sektor tekstil dan garmen di kawasan Bandung Raya juga terus menjadi penyerap tenaga kerja massal di tanah Pasundan.
Baca juga: Jatim vs Sumsel, Duel Daerah Pertanian, Ternyata Segini Gaji Bersih Sebulan
Di sisi lain, Sumatera Selatan mengandalkan kekayaan alamnya yang melimpah. Bumi Sriwijaya merupakan pusat pengolahan komoditas unggulan seperti karet, kelapa sawit, dan kopi.
Didukung cadangan batubara, minyak, dan gas bumi yang besar, Sumsel juga menjadi poros utama hilirisasi energi, kelistrikan, serta industri pupuk.
Namun, bagaimana dampak dari perbedaan struktur industri ini terhadap kantong para pekerjanya?
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan perbandingan menarik terkait tingkat kesejahteraan finansial harian para pekerja industri di kedua daerah tersebut.
Meski Jawa Barat unggul dalam hal skala padat karya dan teknologi manufaktur modern, rata-rata pendapatan bersih sebulan pekerja di Jabar berada di angka Rp 1,9 juta.
Tingginya persaingan tenaga kerja dan besarnya porsi industri tradisional padat karya disinyalir mempengaruhi rata-rata upah di wilayah ini.
Sementara itu, Sumatera Selatan mencatatkan angka yang lebih unggul. Rata-rata pendapatan bersih sebulan pekerja sektor industri di Sumsel mencapai Rp 2,1 juta atau unggul sekitar Rp 200 ribu dibanding Jawa Barat.
Dominasi industri hilirisasi energi dan komoditas beriklim modal tinggi (capital intensive) memberi ruang bagi standar pendapatan yang lebih kompetitif bagi para tenaga kerja di lapangan.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa pusat industri manufaktur modern tidak selalu menjamin rata-rata pendapatan bersih yang lebih tinggi dibanding daerah berbasis pengelolaan komoditas dan energi.
Jawa Barat boleh saja memimpin dalam volume penyerapan tenaga kerja massal, tetapi Sumatera Selatan membuktikan bahwa hilirisasi sumber daya alam memberikan nilai tambah yang berdampak langsung pada kesejahteraan finansial pekerjanya.