TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Kampung Adat Todo di Kabupaten Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih jauh sejarah dan budaya Manggarai selain berkunjung ke Kampung Adat Wae Rebo.
Berada di Desa Todo, Kecamatan Satar Mese, Kampung Adat Todo tidak hanya menawarkan suasana perkampungan tradisional yang masih terjaga.
Kampung ini menyimpan berbagai peninggalan yang berkaitan dengan sejarah, kehidupan masyarakat adat dan kisah leluhur Manggarai.
Salah satu yang menarik adalah keberadaan rumah adat Todo atau Niang Todo yang menjadi bagian penting dari kawasan kampung adat tersebut.
Baca juga: Destinasi Wisata Kampung Adat Todo di Manggarai, Cek Tiket dan Rute Perjalanan
Bangunan tradisional ini memiliki bentuk bundar dengan atap kerucut. Struktur bangunannya menggunakan kayu dan bambu, sedangkan bagian atap menggunakan ijuk dan alang-alang.
Di kompleks Kampung Adat Todo terdapat satu rumah adat induk dan empat rumah adat lainnya dengan ukuran lebih kecil. Rumah-rumah tersebut antara lain Niang Rato, Niang Lodok, Niang Wa/Keka dan Niang Teruk.
Keberadaan rumah-rumah adat tersebut membuat wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga dapat melihat langsung arsitektur tradisional masyarakat Manggarai.
Todo dikenal dalam penuturan masyarakat sebagai salah satu wilayah penting dalam sejarah Manggarai Raya. Kampung ini dikisahkan pernah menjadi pusat Kerajaan Todo pada masa lampau.
Cerita mengenai asal-usul Todo diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat Manggarai.
Baca juga: 8 Fakta Menarik Destinasi Wisata Kampung Adat Todo di Manggarai Flores
Sejumlah kisah juga menyebut adanya hubungan antara leluhur Todo dengan tokoh dari Minangkabau serta relasi perdagangan dan kekerabatan dengan wilayah lain di masa lalu.
Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan melalui berbagai peninggalan yang berada di kawasan kampung adat.
Wisatawan dapat melihat compang atau altar batu, makam tokoh adat, menhir, serta benda-benda peninggalan masa lalu lainnya.
Salah satu benda yang dapat menarik perhatian wisatawan ketika berkunjung ke rumah adat Todo adalah sebuah gendang yang disebut-sebut terbuat dari kulit manusia.
Benda tersebut menjadi bagian dari peninggalan masa lalu yang masih disimpan di kawasan kampung adat.
Kisah mengenai gendang tersebut menjadi salah satu cerita unik yang berkembang di tengah masyarakat dan menambah daya tarik sejarah Kampung Adat Todo.
Namun, informasi mengenai bahan pembuat gendang tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari cerita atau penuturan yang diwariskan masyarakat, bukan sebagai fakta ilmiah yang telah terverifikasi.
Bagi wisatawan, keberadaan benda tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal bagaimana masyarakat Todo menjaga dan mewariskan cerita tentang leluhur mereka dari generasi ke generasi.
Selain rumah adat dan compang, wisatawan juga dapat menemukan lima buah meriam yang berada di kawasan kampung. Meriam tersebut diperkirakan merupakan peninggalan masa kolonial Belanda.
Ada pula jalan batu yang tersusun rapi di kawasan kampung. Jalan tersebut menghubungkan bagian depan kampung dengan halaman dan rumah adat utama.
Keberadaan jalan batu, rumah adat, compang, makam leluhur dan berbagai benda peninggalan membuat kawasan Todo terasa seperti ruang terbuka untuk mengenal sejarah masyarakat Manggarai.
Perkampungan berada di kawasan yang dikelilingi pepohonan hijau dan lembah. Udara yang sejuk serta lingkungan yang teduh membuat perjalanan ke Todo tidak hanya menjadi wisata sejarah dan budaya.
Jika Wae Rebo selama ini lebih dikenal wisatawan sebagai salah satu ikon kampung adat di Manggarai, Todo menawarkan pengalaman berbeda melalui jejak sejarah Kerajaan Todo, rumah-rumah adat, benda peninggalan leluhur dan tradisi masyarakat yang masih dipertahankan.
Wisatawan dari Ruteng dapat menempuh perjalanan menuju Kampung Adat Todo melalui jalur Trans Flores ke arah barat.
Setelah tiba di kawasan Mbelang, perjalanan dilanjutkan dengan berbelok menuju Kampung Todo.
Wisatawan yang memasuki kawasan kampung adat juga perlu mengikuti aturan setempat, termasuk mengenakan sarung Manggarai ketika memasuki kawasan kampung dan rumah adat.
Tiket masuk Kampung Adat Todo disebut sebesar Rp 45.000 per orang, yang sudah termasuk penggunaan kain tenun atau sarung Manggarai khas Todo. (Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id/kompas.com/TribunFlores.com)